Belajar Bahagia Sesuai Fitrah

Sunday, July 26, 2020
"Parent-child relation", tema yang diangkat @mommischology di bulan ini, mengingat adanya Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli. Setelah berdiskusi tentang pembicara yang akan mengisi Arisan Ilmu #2, maka tercetuslah dua nama, Bu Elly Risman dan Ustadz Harry Santosa. Alhamdulillah, waktu yang tawarkan pun cocok dengan jadwalnya mereka. Namun, bagiku sendiri, Arisan Ilmu di bulan ini terasa sedikit berbeda dibanding ketika grand launching. Terasa lebih deg-degan. Alhamdulillah, meski banyak kendala dalam dua hari penyelenggaraan Arisan Ilmu #2 ini, banyak sekali feedback positif dari peserta. Pun ternyata mereka begitu antusias dalam menyimak materi hari ini dan kemarin. Sementara bagiku sendiri, tentu banyak pelajaran yang dapat kupetik.




Dari kelas Bu Elly aku belajar untuk lebih "look in", terutama dalam mencari kebahagiaan.  Belajar agar dapat mendidik Umar dengan penuh kasih sayang, penghargaan dan menghindari dominasi teguran, hukuman, cacian. Hal ini agar kantong jiwanya tetap kencang sehingga terbentuk kepercayaan dirinya.

Dari kelas Bu Elly, aku terasa diingatkan kembali untuk mengetahui isi "ransel" suami. Bahwa bukan hanya kita, para istri yang lelah, banyak pikiran, banyak pekerjaan, tetapi juga para suami merasakan hal demikian. Jadi, kita, para istri seharusnya bukan hanya ingin dimengerti suami, tetapi juga harus memahami suami.

Dari kelas Bu Elly juga, aku belajar bahwa bahagia itu tentang menerima dan memaafkan, serta bersyukur lalu bersabar dan dilanjutkan dengan bertawakal. Bahwa bahagia itu merupakan kesehatan spiritual yang di dalamnya ada iman dan syukur.

Dari kelas Ustadz Harry, aku ditakjubkan kembali betapa Islam sudah mengatur sedemikian rupa dalam mendidik anak. Memetakan mana saja kegiatan yang cocok untuk anak dengan rentang usia sekian. Aku juga terasa diingatkan kembali bahwa tugas pengasuhan memang tidak hanya dibebankan kepada istri, tetapi juga suami. Sebab, ada nilai-nilai yang tidak bisa diajarkan oleh istrinya saja, atau suaminya saja. Seperti ketika mendidik anak-anak laki-laki, yang didominasi adalah sisi maskulinitas. Maka, suami sangat berperan untuk menumbuhkan 75% maskulinitas pada diri anak, sementara istrinya berperan menumbuhkan 25% sisi feminitas. Dengan demikian, maka anak kita dapat menjadi laki-laki yang tangguh dan lembut. Selain itu, ketika kita mengajarkan ibadah dan nilai-nilai keislamanan, tanamkan dulu rasa cinta dalam diri anak kita. Setelah rasa cinta itu tertanam, maka timbulah kesadaran yang akhirnya memunculkan kepatuhan.

No comments:

Powered by Blogger.