Percakapan di Ruang Antre

Ini kali kedua aku menunggu di tempat ini, di waktu yang hampir sama. Menunggu antrean yang cukup panjang dan sangat lama. 
“Sakit apa mbak?” Seketika aku menoleh begitu ada seseorang yang (sepertinya) mengajakku bicara.
Beberapa detik aku menatap wanita paruh baya itu untuk meyakinkan apakah memang aku yang beliau ajak bicara. Lalu aku pun menganggukkan kepalaku, “Maag Bu.”
“Pasti suka telat makan ya?” tuduh beliau, membuatku mengangkat sebelah alisku. 
“Iya Bu, kadang,” kataku sembari sedikit terkekeh.”
“Hati-hati ya mbak, jangan sering telat makan. Masih muda, masih bisa berkarya. Beberapa hari yang lalu tetangga saya ada yang meninggal juga karena asam lambung.”
Mendengar cerita beliau rasa takutku menjadi meningkatku. Duh, kok malah nakut-nakutin saya Bu, gerutuku dalam hati. 
“Karena udah nyampe jantung ya Bu?”
“Kayaknya sih ya mbak.”
Aku mengangguk-anggukan kepalaku, mencoba menutupi rasa takutku. 
“Jadi waktu itu dia lagi naik mobil sama anaknya yang masih kecil. Cuma berdua. Tiba-tiba dia minggirin mobilnya. Lumayan lama dia di situ. Sampai anaknya bangunin ibunya tapi nggak bangun. Anaknya berontak, nangis kejer karena merasa pengap. Beberapa saat kemudian ada tukang becak lewat. Terus karena lihat ada anak kecil yang nangis, jadi dia samperin mobil itu. Tukang becak itu ngetuk-ngetuk kaca mobil tapi nggak ada respons. Sampai akhirnya si tukang becak nekat mecahin kaca mobil itu dan ngeluarin si anak kecil dari mobil. Lalu begitu dia mencoba membangunkan perempuan itu, ibunya si anak kecil, ternyata udah nggak ada.”
Aku merinding saat mendengar cerita beliau. Tingkat ketakutanku pun semakin bertambah. 
“Jadi sekarang, si anak kecil itu takut dan nggak mau naik mobil.”
“Trauma ya Bu?”
“Iya, sama takut lihat tukang cek.”
“Loh, kok gitu?”
“Ya kan karena tukang becak itu yang mengeluarkannya dari mobil.”
Aku menggangukan kepalaku lagi. “Lalu kalau ibu sakit apa?”
“Parkinson.” 

Share this:

0 comments:

Post a Comment