Menulis untuk Menebar Kebaikan

Berbicara tentang visi dan misi dalam menulis sesungguhnya saya agak mengalami kesulitan karena tidak pernah merencanakan secara matang dan tertulis. Namun, saya pernah sekilas membahas alasan saya menulis di blog pribadi.

Kecintaan terhadap menulis sebenarnya mulai tumbuh sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Berawal dari cita-cita yang masih berubah-ubah dan entah mengapa sempat terbesit keinginan menjadi jurnalis atau wartawan. Lalu keisengan saya mencorat-coret buku tulis kosong dengan cerita hantu singkat serta menulis cerita keseharian di diary. Tanpa disadari keisengan itu membuat saya mulai terbiasa dengan menulis. Dan saat berada di tahun terakhir masa putih-biru perlahan media menulis saya beralih ke blog. Memasuki masa putih abu-abu, tulisan saya di blog masih seputar cerita keseharian saya, bahkan sering berisi makian atau luapan emosional yang tidak dapat saya katakan secara verbal. Penulisannya pun banyak yang tidak sesuai dengan ejaan bahasa indonesia. Apalagi susunan kalimatnya. Setelah kuliah saya baru tahu kalau apa yang saya lakukan di blog adalah cara saya untuk berkatarsis (melepaskan emosi).

Beranjak ke masa kuliah, masa-masa peralihan dari remaja menuju dewasa awal, saya mulai mendalami dunia menulis karena satu alasan. Saya suka menulis. Alasan itu lah yang membuat saya mengikuti beberapa organisasi. Seperti berkecimpung di medianya organisasi kerohanian, badan persnya fakultas, komunitas menulis, dan organisasi sosial yang masih terkait dengan studi yang saya ambil--psikologi. Dari semua itu saya mendapat pengalaman yang menyenangkan dalam dunia menulis. Di badan pers, saya belajar untuk membuat berita, menjadi editor, menangani keuangan untuk produk badan pers, serta belajar banyak mengenai penulisan yang baik. Begitu pun di organisasi kerohanian, saya belajar untuk meliput berita. Sementara di komunitas menulis, saya belajar banyak mengenai tulisan fiksi, bagaimana menulis cerpen yang baik, menulis novel, mengemas kata agar pembaca tidak bosan, serta bagaimana memainkan konflik dan alur. Dari situ juga saya mulai sering menulis fiksi dan membuat saya semakin mencintainya. Lalu di organisasi sosial yang bergerak di dunia psikologi saya juga belajar bagaimana menulis sesuatu yang ilmiah dengan bahasa yang tidak begitu ilmiah.

Berbagai pengalaman itu membuat saya semakin mengenal dengan dunia menulis dan membuat saya semakin tertarik terhadapnya. Sekaligus membuat saya menjadi lebih bijak dalam menulis. Sampai sekarang saya masih menggunakan menulis sebagai suatu pelampiasan emosi yang sering tidak dapat saya katakan. Namun, penyampaiannya jauh lebih baik dibanding saat masa sekolah yang jika saya baca sekarang akan terdengar ‘kasar’. Dan model tulisannya tidak terlalu to the point, bahkan beberapa tulisan fiksi saya adalah proyeksi saya sendiri.

Sekitar setahun yang lalu saya pernah menulis mengenai makna menulis bagi diri sendiri. Bahwa, “’Writing is healing’. Bagiku menulis adalah katarsis. Saat id-ku mulai meronta untuk mendapat apresiasi atas apa yang kutulis. Aku seperti kehilangan makna menulis itu sendiri.” Semakin bertambahnya umur dan bertambahnya semester kuliah, saya semakin sadar bahwa healing tidak mutlak to heal ourselves but to heal others. Dan healing tidak secara harfiah diartikan sebagai penyembuhan, menyembuhkan orang yang ‘sakit’. Namun, dapat diartikan secara bebas, sebagai suatu cara untuk memperbaiki diri, baik diri saya ataupun orang lain. Kalaupun tidak ada yang mengapresiasi dengan baik tulisan yang saya buat, tidak masalah. Sebab jika menginginkannya, saya justru kehilangan makna menulis tersebut. Jadi, jika ditanya apa visi dan misi saya dalam menulis, dengan yakin saya akan menjawab, “menulis untuk menebar kebaikan.” Entah menjadi novelis, cerpenis, jurnalis, atau editor sekalipun.


***
#Tugas #WritingClass #VisiMisiMenulis

Share this:

0 comments:

Post a Comment