Di Balik Dandanan



Untuk kesekian kalinya aku jatuh hati sekaligus patah hati dalam waktu yang hampir bersamaan. Menunggu bertahun-tahun, menanti hadirnya tanpa henti, menjaga hati hanya untuknya. Ternyata berujung sia-sia. Lusa dia akan menikahi perempuan lain. Perempuan yang baru dikenalnya satu tahun yang lalu, di satu organisasi yang sama. Witing tresno, jalaran soko kulino, ternyata memang benar adanya. Bukan sekedar pepatah Jawa tak bermakna. 

Seminggu ini, setelah dia memberitahu kabar itu, aku menjadi sering mematut diri. Berdiri berjam-jam di depan kaca. “Apa yang salah denganku? Apakah aku kurang cantik?” Tanyaku berulang kali pada bayanganku di depan cermin. Sekejap berlalu, mataku telah beralih ke sebuah meja kecil, tempat kutaruh kosmetik yang tidak pernah kupakai. Hanya hiasan, agar aku dianggap perempuan tulen oleh teman-temanku yang telah bersahabat lama dengan kosmetik. 

Entah kenapa kali ini, kosmetik itu begitu menggairahkan. Seperti menggodaku untuk memakainya, setidaknya mencobanya sekali. Perlahan kuraih lipstik berwarna merah jambu, kuputar lalu kuoleskan ke bibirku. Mulai dari tengah atas, hingga ke kanan dan kiri. Lalu bibir bawahku menyempurnakannya, meratakannya secara alami. 

Aku menatap sejenak kaca kamarku. Tersenyum puas. Kembali mengambil kosmetik yang lainnya dari meja kecil itu. Mulai dari bedak, eyeliner, maskara, pensil alis, hingga eyeshadow. Lalu memoles wajahku dengan bermacam kosmetik itu. Bergaya seperti profesional, seolah sudah lihai memakainya. 

Aku kembali menatap kaca kamarku. Kini lebih lama. Mengubah-ubah bentuk wajahku. Memasang pose layaknya model sungguhan. Kembali tersenyum puas. Jauh lebih puas dari yang tadi. 

***

“Kamu beda banget Rev, lebih cantik.” Aku tersenyum simpul mendengar pujian dari Diandra, sahabatku saat SMA. 

“Iya, aku belum pernah liat kamu pakai make-up. Ternyata secantik ini. Sayang, Banyu lebih memilih perempuan lain,” celetuk Juli, sahabatku yang lain. Kali ini aku tertegun mendengarnya. Tidak berekspresi. 

“Eh? Maaf Rev. Maaf.” 

“Nggak apa-apa Jul. Aku juga udah nggak mengharapkan Banyu lagi kok.” Aku tentu saja berbohong, menyembunyikan rasa patah hatiku yang masih menyelimuti. Hatiku terasa semakin patah saat melihat Banyu tengah berdiri bersama perempuan yang kini menjadi istrinya. Di depan sana, di pelaminan. 

Dari jauh hari aku telah merancang kalimat yang akan aku ucapkan saat bersalaman dengan Banyu di hari pernikahannya. Agar patah hatiku tidak begitu terlihat saat bertemu dengannya. Walau sepertinya hari ini aku tetap terlihat patah hati. 

“Selamat ya Nyu. Akhirnya kamu dapet yang terbaik.” Aku mengucapkan dengan hati-hati, dengan intonasi seperti biasa. 

Banyu menatapku dengan sedikit bersalah. “Makasih ya Rev. Udah mau dateng ke sini. Kupikir kamu nggak bakalan dateng. Semoga kamu lekas mendapat yang terbaik juga.” 

Aku mengangguk pelan. Dia bahkan tidak menyadari perubahan penampilanku, gumamku dalam hati. 

Tiba-tiba hatiku berdebar saat tiba giliran untuk menyalami Mentari. “Selamat ya Mentari, semoga kalian jadi keluarga yang selalu berbahagia. Jagain Banyu ya,” kataku sedikit bergurau. 

Mentari tersenyum begitu tulus. “Terima kasih Reva. Pasti akan aku jaga Banyu.” Dia mengulurkan kedua tangannya, memelukku dengan erat. “Maafin aku ya Reva.” Aku membalas dengan memeluknya tak kalah erat. Aneh, hatiku merasa hancur sekaligus merasa utuh. Rasanya sesak sekaligus melegakan. Kucoba sekuat tenaga untuk menahan tangis yang sebenarnya tinggal sedetik lagi menetes. 

“Tidak apa Mentari. Aku tidak apa-apa,” kataku sembari mengusap ujung mataku. Sebelum menderas dan melunturkan riasan wajahku yang kulatih selama seminggu untuk hari ini. 

“Tolong jagain Banyu ya,” kataku sekali lagi. 

“Pasti.”⁠⁠⁠⁠ Mentari semakin memelukku dengan erat, membuat beberapa tamu yang hendak bersalaman dengannya menatap kami dengan heran. 

***
Yogyakarta, 25 Oktober 2016
#MalamNarasi

Share this:

0 comments:

Post a Comment