Melamar



Aku sungguh tidak sabar untuk menunggu hari ini tiba. Jantungku berdegup tak karuan menantinya. Walau sejak jauh hari aku telah menyusun rencana untuk melamarnya. Hesty, gadis yang beberapa bulan lalu kukenal ternyata mampu membuatku jatuh hati. Sikapnya anggun, serta tutur katanya yang lembut jauh berbeda dengan gadis-gadis agresif yang selama ini mencoba merebut hatiku.

Terik mentari tidak mampu membuat semangatku runtuh untuk mendatangi rumahnya. Aku melangkah dengan mantap, sesekali merapikan pakaian dan rambutku. Keluarga besarku mengekor di belakang sembari membawa seserahan.

“Arfan!” teriak seseorang itu ketika aku akan selangkah lagi masuk ke dalam rumah Hesty. Aku menoleh mendengar suara yang amat kukenal dulu.

Aku terpaku. Mematung. Melihat Siska mantan pacarku berdiri di ujung gerbang rumah Hesty. Wajahnya sayu, perutnya terlihat mulai buncit.

Lalu kutoleh lagi ke belakang, ke arah pintu rumah Hesty. Kulihat wajahnya pun tertegun. Matanya berkaca-kaca. Dan dalam sekejap tangis itu pun pecah. Sementara aku masih mematung. Tidak bisa bergerak ke manapun. Malu untuk melangkah. Terlebih pada Siska.

***
Yogyakarta, 11 Oktober 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment