Pagi, Siang, Sore, atau Malam?


“Di antara pagi, siang, sore, dan malam, kamu lebih suka yang mana?” tanyamu. 
“Malam.” Aku menjawab singkat. 
Alismu berkerut. “Kenapa?”
“Aku jarang sekali keluar malam. Jadi, malam merupakan waktu yang langka bagiku.” Aku terdiam sejenak, sembari sekilas mengamatimu yang begitu serius mendengarku. 
Kamu tersenyum begitu menyadari sedang kuperhatikan. “Seperti sekarang ini?” Aku mengangguk pelan, tersenyum simpul. 
“Lalu apalagi?”
“Apa ya?” Aku pura-pura berpikir keras. “O ya, menurutku banyak orang yang berlomba-lomba berburu sunrise, seolah menyukainya. Padahal menurutku mereka berpura-pura menyukainya, sekadar mengabadikan momen, upload, lalu menunggu seberapa banyak yang menyukainya...”
“Memangnya kamu tidak begitu?” tanyamu sembari tertawa kecil. Membuatku kikuk. 
Aku menggeleng cepat. Wajahku sedikit masam, tidak terima dengan tuduhannya. “Eh? Aku tidak begitu. Boleh kulanjutkan?”
Tawamu semakin keras. Tanpa banyak bicara, kamu menganggukkan kepala. Pertanda mengiyakan. 
“Kalau siang, sepertinya jarang sekali orang yang menyukainya. Panas. Kamu tahu kan, banyak sekali orang yang mengeluhkan betapa panasnya kota ini. Termasuk kamu! Padahal itu mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan neraka...”
Kamu terkesiap. “Aku? Kok aku? Eh, kok jadi bawa-bawa neraka?”
Kali ini aku yang tertawa melihat wajah kaget sekaligus masammu. “Iya, kan kamu yang paling sering mengeluh. Padahal kamu juga tahu kalau neraka lebih panas.”
Wajahmu semakin kesal mendengar penjelasanku. Namun, justru membuatku semakin ingin tertawa. 
“Namun, menurutku siang mempunyai filosofi tersendiri. Sebagian besar orang melakukan aktivitasnya di siang hari. Entah kerja, kuliah, atau sekolah. Panasnya siang menurutku menggambarkan semangat mereka. Semangat yang membara dan bergelora. Dan harusnya memang seperti itu. Akan tetapi, sebagian yang lain justru memilih untuk tidur siang. Entah karena aktivitasnya sudah selesai, ingin istirahat, atau malas melakukan aktivitas yang lain. Seperti kamu. Tukang tidur dan pemalas...”
“Eh? Kok aku lagi sih? Aku kan bukan tukang tidur dan pemalas. Enak saja.”
Aku kembali terkekeh melihat wajahmu yang kembali masam. “Tapi kan, faktanya seperti itu. Sudah ah, aku mau melanjutkan penjelasanku. Kamu memotong penjelasanku terus sih.”
“Jelas. Di setiap penjelasanmu selalu mengejekku. Harus kusangkal karena itu tidak benar.”
Aku tertawa. “Memang sengaja kukaitkan. Kulanjutkan ya. Kalau sore, menurutku ini waktu yang menyenangkan. Sebab banyak pekerja atau pelajar atau mahasiswa yang baru selesai melakukan aktivitasnya. Dan saat sore hari, sudah begitu panas. Jadi cocok sekali untuk jalan-jalan atau berolahraga. Seperti pagi, banyak orang yang berburu sunset, menyukai senja. Dan menurutku mereka berpura-pura menyukainya...”
“Kamu ini, sukanya negative-thinking saja. Kan kamu juga tidak tahu apakah mereka benar-benar menyukainya atau berpura-pura saja?”
Aku menjulurkan lidahku. “Kan aku memang suka negative-thinking sama siapa saja, dan apapun. Termasuk sama kamu. Loh, kan banyak orang yang men-stereotip-kanku dapat membaca pikiran mereka. Am I a mind reader, right?” Aku tertawa. 
“Aku lagi, aku lagi. Bosan. Loh, padahal kan kamu tidak suka kalau dianggap mind reader. Apa yang sering kamu katakan? Psychologist isn’t a mind reader, kan?”
“Padahal aku tidak pernah bosan denganmu. Untuk kali ini aku setuju dengan anggapan itu. Supaya aku dapat menyanggah pendapatmu kalau aku suka negative-thinking.”
Kamu tersenyum. “Dasar kamu ini. Keras kepala dan tidak mau mengalah.”
“Harus, apalagi kalau berdebat denganmu.” Aku menjulurkan lidahku lagi. 
“Sejujurnya aku menyukai semuanya. Pagi, siang, sore, dan malam. Namun, malam menurutku lebih terasa istimewa. Selain waktunya yang cukup panjang dibanding yang lain dan aku jarang sekali keluar malam. Menurutku polusi udara saat malam hari tidak begitu terasa. Bahkan udaranya terasa lebih sejuk dibanding pagi, siang, atau sore hari. Lebih manusiawi. Menurutku juga malam merupakan waktu pergantian yang cepat. Sedetik lalu begitu ramai, hingar-bingar, dan sedetik kemudian terasa begitu sunyi dan menenangkan. Dan lagi, saat malam hari banyak rahasia terungkap, banyak kedok terbuka. Mana seseorang yang dianggap baik, mana seseorang yang dianggap buruk. Semakin larut, terlihat semakin “menggila”, seakan bebas melakukan apapun. Sekalipun itu buruk. Tidak sadar bahwa kesempatan yang diberikan Tuhan itu langka. Tidak sadar bahwa mungkin itu kesempatan terakhir mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada esok, tidak ada nanti. Tidak ada perpanjangan waktu. Dan itu mengapa malam distereotipkan dengan hal yang buruk. Terlebih jika perempuan yang melakukannya. Keluar malam, pulang larut. Kenapa perempuan? Kenapa bukan laki-laki saja? Karena menurutku banyak laki-laki yang terlihat lebih menyeramkan saat malam hari...”
Kamu menganggukkan kepala. Terlihat menerima penjelaskanku. “Menarik,” katamu. 
Aku tersenyum. “Terima kasih.”
“Lalu, apakah aku terlihat laki-laki yang lebih menyeramkan saat malam hari?”
Aku terkaget mendengar pertanyanmu.
“Kali ini kamu tidak termasuk. Karena aku tahu waktu malam harimu hanya untukku. Quality time with me. Seperti sekarang ini. Tidak mungkin berbuat macam-macam karena aku tahu kamu orang yang baik. Bukan hanya orang yang dianggap baik. Dan insyaaLlah Tuhan juga menganggapmu sebagai orang yang baik karena selalu taat pada-Nya dan selalu meningkatkan diri untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi.”
Kamu tersenyum untuk kesekian kalinya. Membuatku juga ingin tersenyum untuk kesekian kalinya. Sembari menikmati malam yang semakin sunyi dengan dua piring pecel lele dan dua gelas es teh. Satu untukmu, satu untukku. Merayakan setahun hari pernikahan kita.

Share this:

0 comments:

Post a Comment