20+1


Hingga detik ini, aku masih belum menyadari--dan tepatnya enggan untuk menyadari--bahwa aku bukanlah remaja, apalagi anak-anak. Usiaku sudah 21, dan beberapa psikolog menyebutkan kalau usia itu sudah masuk masa dewasa awal. Dan entah kenapa, rasanya aku takut untuk bertambah tua. Sebab, semakin bertambah usiaku, aku semakin merasa tidak dewasa. Baik dalam tindakan maupun berpikir. Anehnya, aku terlalu ‘menikmatinya’. Kalau orang-orang psikologi menyebutnya emerging adulthood. Suatu tahap saat masa remajamu seperti diperpanjang dan masa dewasa seperti masih jauh untuk menghampirimu. 
People changes, be better or worse. Begitupun aku, entah di mata orang--dan aku sendiri--aku menjadi lebih baik atau buruk, yang jelas I’ve changed. Namun, perubahan itu begitu fluktuatif. Bahkan baik dan buruknya terasa berjalan beriringan. Aku menyadarinya, tetapi aku menikmatinya. And make me realize that love is blind. Dan pada akhirnya aku kembali menata diri, kembali pada rute yang tepat. Hingga akhirnya aku bertemu dengan jodohku, entah berupa kamu atau kematian yang lebih dulu datang. 
Di usia seperti ini, terkadang aku berpikir untuk mengganti nama panggilanku. Karena menurutku itu tidak cocok denganku. Saat teman-temanku sudah terampil berdandan, berteman akrab dengan bedak, gincu, blush on, eye shadow dan maskara, aku justru enggan untuk sekadar memakai bedak. Namun, saat KKN kemarin mereka mengajariku untuk memakai lip balm karena suhu yang tidak stabil. Dan terhitung sudah tiga kali bibirku berdarah. Dan menyadarkanku bahwa mereka berteman akrab dengan kosmetik bukan hanya untuk mempercantik diri, tetapi untuk menjaga kesehatan mereka. Namun, aku tetap merasa aneh saat mereka begitu akrab dengan kosmetik. Sekaligus membuatku merasa minder karena aku menjadi tidak terlihat feminim.
Sebenarnya ada banyak hal yang kupikirkan. Terlebih masalah masa depanku. Semester 7 ini membuatku sadar bahwa tidak lama aku akan memasuki dunia kerja. Bukan lagi menjadi mahasiswa. Dan itu sungguh membuatku takut. Aku takut tidak beradapatasi karena aku terlalu introvert dan tersugesti dengan ‘ke-introvert-an’ku. Untuk masalah cinta, jodoh, dan menikah, sudah jelas aku memikirkannya. Namun, aku sudah enggan membahasnya karena di dunia nyata dan di dunia maya, di grup manapun, topik itu selalu dibahas. Dan terasa terintimidasi saat tiba-tiba muncul undangan pernikahan di suatu grup. Bertanya-tanya pada diri hingga terkesan mendesak, aku kapan? Aku juga sempat berpikir, bahwa suatu saat nanti, kata pulang tidak akan selalu lagi merujuk pada rumah orangtua. Namun, membaca novel Amelia aku jadi kepikiran bagaimana rasanya jika aku dan adikku tidak lagi tinggal di rumah. Pergi merantau ke suatu tempat, entah untuk belajar atau bekerja, menetap di sana, dan meninggalkan kedua orangtuaku. Memikirkannya saja membuatku begitu sedih, apalagi jika hal itu terjadi. Apakah mereka akan benar-benar ikhlas untuk melepas anaknya? Apakah mereka tidak merasa sedih?  Dan pertanyaan-pertanyaan lain pun bermunculan.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 comments:

  1. That's why live and future are so interesting...
    .yen uwis ngerti ora gayeng maneh danine.. haha

    " لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا "

    Owner of MENGGAPAI ANGKASA

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk, bener banget mas. Tapi ya gitu, tetep ngrasa takut sama masa depan :"

      Delete
  2. Then just remember this

    " لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا "

    Owner of MENGGAPAI ANGKASA

    ReplyDelete