Dalam Sebuah Halte dan Trans Jogja

Malioboro, salah satu objek wisata di Yogyakarta yang daya pikatnya tidak pernah luntur untuk menarik pengunjung. Letaknya yang strategis dan mudah diakses membuat Malioboro tidak pernah sepi dan kehilangan peminatnya. Terlebih saat masa liburan seperti ini. Malioboro seperti salah satu tempat yang wajib untuk dikunjungi. 
Sore tadi, aku dan seorang teman berniat mengunjungi Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk mencari berita menggunakan Trans Jogja (TJ). Kami menggunakan TJ dari Kopma UGM lalu transit di Halte SMP 5, menunggu TJ 1A. Tidak seperti biasanya, sore tadi Halte SMP 5 yang sempit terasa sangat padat dan semakin sempit dengan banyaknya calon penumpang. Saat menunggu TJ, temanku sempat bertanya padaku tempat mana yang sering menjadi tujuan turis lokal saat berkunjung ke Yogyakarta. Pertanyaan itu secara tidak langsung terjawab dengan banyaknya calon penumpang yang menunggu TJ 1A. TBY dan Malioboro letaknya memang cukup berdekatan dan satu jalur. Sehingga tidak mengherankan jika penumpang yang ingin pergi ke Malioboro harus menaiki TJ 1A.
Kami menunggu cukup lama karena TJ 1A memang datangnya lama. Namun, sekali datang selalu menjaring banyak penumpang. Dari kejauhan pun terlihat TJ 1A sangat padat dan berdesak-desakan. Membuatku bergidik ngeri membayangkan rasanya berada di situ. Sudah sekitar tiga puluh menit kami menunggu TJ 1A datang dan membawa kami ke Malioboro tetapi sang bus tidak kunjung datang. Berkali-kali kami berpikir ulang untuk kembali lagi ke Gelanggang dan tidak jadi ke TBY. Namun, pikiran itu selalu sirna tiap TJ 1A berhenti di Halte SMP 5. Lalu sedekit kemudian kami kembali kecewa saat tidak mendapat kesempatan masuk ke TJ 1A. 
Sekitar pukul 17.40, TJ 2A berhenti di Halte SMP 5. Berdasarkan saran petugas Halte pun kami naik bus tersebut lalu transit di Halte RS Bethesda untuk menunggu TJ 1A. Halte ini lebih luas dari Halte SMP 5, tetapi kepadatan akan penumpang tidak jauh berbeda. Pun tujuan tempatnya, yaitu Malioboro. Lagi-lagi kami harus berebutan dengan calon penumpang lain. Hingga adzan Maghrib berkumandang TJ 1A belum kunjung datang. Namun kami tetap setia menunggu. Lalu dari kejauhan terlihat TJ 1A menghampiri Halte RS Bethesda. Aku geleng-geleng kepala melihat padatnya penumpang TJ 1A. Tanpa perlu dikomando, seluruh calon penumpang serempak berdiri saat TJ 1A berhenti di Halte RS Bethesda. Setelah penumpang TJ 1A berhamburan keluar, aku, temanku, dan calon penumpang lain bergegas masuk ke dalam bus. Namun, lagi-lagi aku dan temanku tidak bisa masuk ke dalam. Saat bus akan beranjak pergi tiba-tiba kami dikejutkan oleh seorang ibu yang hampir jatuh dari TJ 1A jika tidak ditolong oleh petugas halte. Sejenak terjadi perdebatan di antara petugas halte, sang ibu, dan kernet TJ. Sang kernet mengumumkan bahwa TJ 1A telah, tetapi sang ibu tetap ngotot masuk karena anaknya sudah masuk TJ 1A. Sang kernet pun mengalah dan mengizinkan sang ibu masuk ke dalam bus. 
Beberapa saat setelah TJ 1A pergi, petugas halte yang lain terlihat sangat kesal dengan ibu tersebut. Menurutnya sang ibu sangat ngeyel dan tidak mau menuruti kernet TJ yang mengatakan TJ 1A sudah penuh. Lalu sang petugas menceritakan kejadian hampir serupa di Halte RS Bethesda tetapi jauh lebih parah karena sang penumpang yang masih SMA mengalami luka di dagunya. Aku mendengar cerita sang petugas dengan takzim. Geleng-geleng kelapa ternyata banyak kejadian yang cukup berbahaya di Halte. 
Jarum jam bergerak cukup cepat, berkebalikan dengan datangnya TJ 1A yang sangat lama. Sekitar pukul 18.15 aku dan temanku memutuskan kembali ke Gelanggang menggunakan TJ 2A dan 3B. Kami pikir waktunya sangat tidak memungkinkan untuk ke TBY menggunakan TJ, di samping TJ 1A yang datangnya lama. Kami berdiri di depan pintu bus, salah satu tangan kami berpegangan pada sebuah tiang. Aku mencengkeram begitu erat. Kakiku berpijak cukup kuat. Bus melesat cukup kencang. Dan ckittttt, sang supir mengerem begitu kuat saat lampu merah menyala. Kontan hal ini membuat kami semua kaget. Peganganku semakin kuat. Bahkan penumpang sebelahku jatuh tertidur ke bangku depan. Semua mata tertuju padanya, bertanya-tanya bagaimana keadaannya. Namun dia tetap terlihat tenang, bangun sendiri, dan kembali berpegangan pada tiang. Saat aku menanyakan keadaannya pun dia bilang tidak apa-apa. Lalu kami berkutat pada aktivitas masing-masing. Semua terasa seperti biasa, seakan kejadian barusan tidak pernah terjadi.
25 Desember 2015

Share this:

0 comments:

Post a Comment