Dikira Kehilangan Sepatu

Wednesday, December 18, 2019


Pagi ini kami begitu terburu-buru berangkat ke Masjid Syuhada. Maklum, kajian sudah dimulai hampir 1,5 jam yang lalu. Ternyata, rencana hanyalah rencana untuk berangkat lebih awal. Ternyata, memang tidak mudah untuk tidak telat berangkat ke kajian pagi ketika sudah memiliki anak. Apalagi ini adalah kali pertama kami datang ke kajian setelah ada Umar.

Sekitar hampir 30 menit kemudian, tepatnya pukul 9.48, kami sampai di Masjid Syuhada. Singkat cerita, sejam berlalu, kami pun bergegas untuk pulang. Namun, aku terkaget karena tidak melihat sepatuku di pelataran masjid. Akhirnya kami pun mencari ke berbagai sudut masjid. Tetap nihil. Bahkan Mas hampir menyerah, "Ya udah, biarin aja, nanti kita beli sepatu lagi aja." Aku pun tetap kekeh untuk mencarinya dan berkhusnudzan bahwa mungkin saja sepatuku dipindah karena aku perempuan terakhir yang keluar dari tempat kajian yang kebetulan saf laki-laki.

"Maaf mba, kalau mau cari barang yang hilang, tanya ke siapa ya?" tanyaku kepada pengunjung perpustakaan masjid. Seketika dia menoleh ke satpam yang sedang duduk di pojok. Lalu kami segera menghampiri satpam tersebut dan mengulang pertanyaan serupa. "Kehilangan apa mba?" tanyanya sembari menutup kembali nasi rames yang baru saja dibukanya. "Sepatu, Pak," jawabku. Bapak satpam itu dengan sigap mengutak-atik layar untuk melihat rekaman dari CCTV dan mempercepatnya ke jam ketika kami baru sampai sana. Mungkin saja dari situ ketahuan siapa yang mengambil sepatuku.

Kami, Bapak Satpam, dan beberapa orang lainnya begitu serius menontonnya. Serasa sedang menonton adegan film perampokan. Apalagi ketika layar sudah memunculkan adegan kami baru sampai masjid. Bahkan aku dan Mas sering menimpali dengan kata-kata, "coba dimundurin dikit Pak" atau "ini bisa di-zoom nggak ya Pak?" Ketika layar sedang menampilkan adegan aku dan Umar yang akan menaiki tangga, sekilas terlihat aku tidak melepas sepatu di bawah, tetapi di atas. Kala itu, rasa maluku sudah mulai muncul dan bergegas ingin keluar rungan. Namun, setelah dicermati sekali lagi ternyata tidak.

Setelah belasan menit menontonnya, Mas pun meminta untuk memundurkan waktunya ke adegan kami baru akan sampai pelataran masjid. Ketika dicermati kembali ternyata terlihat jelas apa yang kugunakan. "Ohh, pakai sandal tho," seru orang-orang yang ikut menonton. Ternyata aku tidak menggunakan sepatu, tetapi sandal Swallow hitamnya Mas. Seketika aku merasa sangat malu sekaligus tidak enak kepada orang-orang yang ikut menonton, apalagi kepada Bapak Satpam. Wajahku serasa sudah bercampur antara ingin tertawa, merasa malu, dan merasa tidak enak. Lalu kami segera berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada Bapak Satpam dan orang-orang yang ikut menonton. Ketika aku berjalan keluar, rasanya aku ingin menutup wajahku agar tidak terlihat.

No comments:

Powered by Blogger.