Tentang Idulfitri 1438H



Ramadhan baru saja pergi dua hari lalu, dan Syawal baru saja datang menyambut para makhluk. Seperti yang telah lalu, selalu ada penyesalan ketika Ramadhan telah pergi. Serasa kurang taat beribadah dan banyak amalan yang terlewatkan. Begitu pun diriku, selalu ada rasa sesal dalam diri ketika Ramadhan pergi. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan kalau lebih baik melakukan sesuatu amalan kecil yang dilakukan secara istiqamah. Dan saat Ramadhan merasa sekali belum melakukan hal tersebut.

Menilasbalik Ramadhan tahun ini, pada awalnya aku merasa tidak mampu menjalaninya karena sakitku. Namun, alhamdulillah-nya Allah memang Maha Baik, memudahkan semuanya. Walau beberapa kali aku harus memuntahkan kembali makanan yang kumakan dan membuat orang-orang di sekitarku serempak melirikku yang sedang minum obat. Sementara mereka dapat langsung menyantap makanan mereka. 

Di hari pertama Syawal aku terpikir tentang tradisi salam-salaman di daerahku yang menurutku terasa sekadar formalitas. Menjelang hari pertama bulan Syawal dan ketika bulan Syawal tiba, ucapan berdatangan masuk ke ponselku. Baik melalui chat personal maupun grup. Namun, aku sangat terharu jika ada yang memberi ucapan secara personal. Dan entah mengapa sejauh ini, orang-orang yang tidak begitu dekat denganku yang memberi ucapan. Lalu ketika bulan Syawal tiba, usai salat ied, tradisi di daerahku yaitu salam-salaman. Dan di situ aku merasa jika "maaf" hanya sebuah kata, sebuah formalitas untuk diucapkan di hari raya. Sebab beberapa orang memang terkesan member-canda-i sebuah kata "maaf" sehingga terkesan hanya formalitas dan tradisi yang dilakukan usai salat ied. Padahal ada sebagian kecil, bahkan dapat dihitung dengan jari yang meneteskan air mata ketika mengucap "maaf". Dan ya, menurutku sendiri, "maaf" memang bukan sekadar kata dan sebenarnya memang saat susah untuk diucap. Sementara level yang lebih tinggi di atas "sekadar" mengucap maaf adalah memaafkan itu sendiri. Memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti kita, yang mungkin tidak mereka sadari. Pun memaafkan diri sendiri, yang seringkali menyalahkan diri sendiri, mengeluh, dan tidak bersyukur. Baik memaafkan diri sendiri dan orang lain tentu hal yang sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa kita mengucap "ya, aku maafkan" tapi dalam hati kita belum benar-benar memaafkan. Terlebih jika kita mempunyai kenangan buruk tentang orang tersebut, bahkan masih memiliki masalah dengannya. 

Lalu di hari kedua ini aku terpikir tentang "apakah uang dapat memberi kebahagiaan? ataukah justru menghancurkan?" Sebab dari pengamatanku entah kenapa sebuah keluarga dapat tercerai berai hanya karena uang. Aku berpikir sembari tersenyum kecut jika membayangkan kakak beradik yang dulunya begitu akur, rukun tiba-tiba ketika beranjak dewasa berubah 180 derajat. Dan lucunya penyebabnya karena lembaran kertas dan recehan uang. Entah kenapa uang dapat membuat semua yang harmonis menjadi runyam. Entah kenapa banyak orang dewasa yang "berubah" sedemikian rupa hanya karena uang. Aku jadi terpikir apakah uang memang dapat membuat seseorang bahagia jika pada akhirnya jusru menghancurkan hubungan interpersonal, khususnya dengan keluarga. 

Sebagai penutup, dan mumpung masih hari kedua bulan Syawal kuingin mengucapkan: Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamaku. 

Tulus kuucapkan 
maaf untukmu
tuk semua
salahku

Share this:

0 comments:

Post a Comment