Bertemu Sahabat Pena



Ketika aku SD, tepatnya kelas 3 SD, aku suka sekali membaca Majalah Bobo. Berawal dari meminjam punya teman, hingga membeli sendiri setiap pekannya. Dulu, di rubrik "Apa Kabar, Bo?" selalu ada surat dari pembaca--yang rata-rata juga seumuran denganku--yang mencari sahabat pena. Atau lebih sering disingkat dengan sapen. Karena sering ada yang mencari sahabat pena, aku pun tertarik untuk mengirim sepucuk surat ke seseorang yang saat itu sedang mencari sahabat pena. Apalagi saat itu teman karibku sudah memiliki sahabat pena, bahkan teman karibku dengan sahabat penanya sudah sering berkirim surat dan bercakap melalui telepon. 

Setelah membaca rubrik tersebut aku mulai menulis surat di secarik kertas, mencari amplop dan juga perangko. Lalu aku mengantarkannya ke kantor pos. Merapal dalam hati, calon sahabat penaku yang bernama Alifiya Annisa yang bertempat tinggal di Tangerang membalas suratku. Namun, semua itu ternyata hanya harapku. 

Satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan hingga aku lulus SD, aku tidak kunjung mendapat balasan surat dari calon sahabat penaku. Dan sejak lulus SD sebenarnya aku sudah tidak berharap akan mendapat balasan. Namun, aku terus ingat nama calon sahabat penaku tersebut. Hingga tahun terakhir di bangku SMP, saat awal-awal kemunculan Facebook, aku iseng mencari nama calon sahabat penaku. Dan ternyata hasilnya nihil.

Walau aku sudah tidak berharap suratku akan mendapat balasan, entah kenapa memoriku terus mengingat nama dan daerah tempat tinggal calon sahabat penaku. Bahkan hingga sekarang. Dan entah kebetulan atau tidak, semesta sengaja menakdirkan aku dan calon sahabat penaku untuk bertemu. Benar-benar tidak pernah kuduga dan kusangka sebelumnya.

Berawal dari aktivitas baruku sebagai penjaga Perpustakaan Baitul Hikmah (perpustakaannya Masjid Mardliyyah UGM), aku dipertemukan dengan calon sahabat penaku. Satu itu aku sedang menjaga perpustakaan, aku iseng membaca nama pengunjung yang hadir di hari itu. Tiba-tiba mataku terarah pada satu nama. Alifiya Annisa. Sebuah nama yang sangat familiar bagiku, lalu aku teringat akan calon sahabat penaku. Saat itu aku hanya menerka apakah dia memang calon sahabat penaku atau hanya nama yang kebetulan sama. 

Aku terus menyimpan pertanyaan itu. Hingga Senin kemarin nama yang dengan nama calon sahabat penaku mengunjungi perpustakaan, aku memberikan diri untuk mengutarakan pertanyaan yang selama ini kusimpan. 

"Mbak Alif, asalnya dari Tangerang bukan?" Tiba-tiba aku bertanya ketika dia baru saja akan membuka buku. 

Dia menutup bukunya lagi. "Kok tahu?" tanyanya begitu heran.

Aku terkekeh. Lalu bercerita tentang calon sahabat penaku yang juga bernama Alifiya Annisa dan berasal dari Tangerang. Namun, calon sahabat penaku tidak kunjung membalas surat yang kukirim. 

Setelah aku menceritakan sebelumnya, dia hanya tertawa. Lalu menjawab kalau surat yang dia kirim ke Redaksi Majalah Bobo ternyata pernah dimuat dua kali di rubrik "Apa Kabar, Bo?" Dan kedua surat yang dikirim berisi mencari sahabat pena. Gara-gara suratnya yang dimuat di rubrik tersebut, dia kebanjiran banyak surat yang kebanyakan juga sedang mencari sahabat pena. Hingga dia tidak dapat membalas semua surat yang telah diterimanya, termasuk suratku.

Setelah percakapan tersebut selesai, kami hanya tertawa. Lalu dia kembali berkutat pada buku yang akan dibacanya. Dan aku berkutat pada pikiranku. Ternyata dunia sesempit ini. Calon sahabat penaku ternyata juga kuliah di universitas yang sama denganku, walau berbeda angkatan dan fakultas. Dan dia ternyata orang yang sering berkunjung ke perpustakaan. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment