Kukira Kau Rumah


Suara announcer kereta mulai terdengar. Pertanda kereta akan segera melaju. Kursi-kursi yang kosong mulai terisi. Dengan sigap aku memilih di deretan ujung kursi. Tersenyum penuh kemenangan ketika penumpang lain mengeluh tidak mendapatkan kursi. 

Kutengok sekitar, belum begitu ramai. Aku mengambil earphone dan mulai memutar lagu favoritku. Beberapa buah lagu yang selalu terputar. 
Kau datang tatkala sinar senjaku telah redup
Dan pamit ketika purnamaku belum seutuhnya
Lagu pertama yang terputar entah mengapa membuatku kesal--padahal itu masuk dalam daftar lagu favoritku. Dengan terpaksa aku terus mendengarkan lagu itu. Rasanya seperti tersayat belati. Seluruh memoriku tentangnya menguar begitu saja. Dia yang tiba-tiba datang, tanpa permisi masuk ke dalam kehidupanku. Dia yang tidak sopan, tidak pamit, untuk pergi dari hidupku. Rasa-rasanya aku ingin menghentikan lagu itu. Akan tetapi, aku justru menikmati kesedihan ini. Begitu liris. 
Kau yang singgah tapi tak sungguhKau yang singgah tapi tak sungguh

Arrrr, aku melenguh. Lirik selanjutnya lagu itu benar-benar menyindirku. Baiklah, aku tahu itu. Dia hanya singgah, benar-benar singgah. 

Di tengah kekesalanku, kereta sudah sampai di stasiun selanjutnya. Penumpang silih berganti. Kursi-kursi mulai penuh terisi penumpang. Berdesakan. Bahkan penumpang dari stasiun ini merelakan diri untuk berdiri hingga entah sampai stasiun ke berapa. Aku mengaduh ketika ada penumpang yang tidak sengaja menendang kakiku. Mencoba menyibak kerumunan, berharap ada kursi kosong yang dapat dia duduki. Hanya sekejap kemudian, kulihat raut wajahnya berubah kecewa. 

Aku kembali kepada kekesalanku. Mengatur napas berkali-kali. Kali ini memoriku begitu seenaknya memutar seluruh kenanganku dengannya. Pertemuan yang tidak sengaja, perkenalan yang tidak pernah diduga akan mengubah perasaanku padanya. Cinta. Aku geli sendiri ketika mengutarakannya. 
Kukira kau rumahTernyata kau cuma aku sewa Dari tubuh seorang perempuan  Yang memintamu untuk pulang
Ya, ya. Aku tahu. Dia bukan sebenar-benarnya rumah yang menjadi tempatku untuk pulang suatu saat nanti. Seambisius apapun aku mengharapkannya. Kutahu dia hanya orang yang singgah dalam kehidupanku, begitu pun aku. Tidak pernah lebih. Sekadar teman berceritanya tentang perempuan lain.

Kereta ini semakin lama semakin terasa panas. Sumpek. Menambah kesah dalam otak dan hati. Aku mulai menggerutu. Perasaanku mulai tidak nyaman. Aku ingin segera bergegas dari kereta ini. Aku ingin kereta ini segera sampai di tujuanku.

Suara announcer kereta kembali terdengar. Stasiun berikutnya, stasiun tujuanku. Aku menghela napas. Segera beranjak, bersiap untuk turun. Aku menyibak kerumunan penumpang, mengucap permisi berkali-kali hingga akhirnya aku berhasil turun dari kereta. 

Fyuhh. 

Sesaat kemudian kelegaanku buyar. Tubuhku terpaku. Mematung begitu saja ketika kulihat seseorang di hadapanku. 
Kau bukan rumah 

Kau bukan rumah 
Kau bukan rumah 
Kau bukan rumah
Lirik dalam baris terakhir lagu itu terus berdengung dari earphone-ku hingga akhir. Aku menatap kelu seseorang di hadapanku. Keheningan selalu setia menemani saat-saat seperti ini. Saat-saat yang begitu canggung tidak tertahankan. Saat-saat aku ingin segera beranjak dari hadapannya, tetapi tubuhku serasa terpaku. Aku semakin kesal ketika kulihat dia tersenyum simpul padaku.        

Share this:

0 comments:

Post a Comment