Takdir dan Berbagai Pertanyaan (5): Persidangan



Di awal menjadi mahasiswa Psikologi, aku sempat mempertanyakan "kenapa sih aku diterimanya di Psikologi, bukan Akuntansi?" Padahal aku sendiri dan atas kesadaranku sendiri juga, aku memilih Psikologi sebagai pilihan kedua. Dan sebagai seseorang yang sangat menginginkan Akuntansi, saat semester dua aku sempat ingin mendaftar SBMPTN, memperjuangkan kembali apa yang aku inginkan. Berkuliah di Akuntansi. Namun, hal tersebut kuurungkan hingga akhirnya aku tetap bertahan menjadi mahasiswa Psikologi hingga tahun keempat. Walau beberapa kali keinginanku berkuliah di Akuntansi muncul setiap kali aku melewati FEB.

Selama hampir empat tahun belajar di Psikologi, aku menyimpulkan bahwa mayoritas gangguan psikologis terjadi akibat pikiran kita sendiri. Pikiran-pikiran yang cenderung negatif hingga memengaruhi kondisi psikologis dan fisiologis kita. Dan sejak semester 7 kemarin, aku merasakan sendiri bagaimana pikiran-pikiran negatif tersebut memengaruhi kondisi psikologis dan fisiologisku. Ya, semester akhir benar-benar mengajariku banyak hal. Tentang manajemen waktu, manajemen stres, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta menyeimbangkan antara ambisiusitas dan usaha. Bagaimana membagi waktu antara mengerjakan tugas akhir a.k.a. skripsi. Bagaimana tetap dapat menjaga pikiran tetap positif ketika berbagai tekanan satu per satu datang yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. 

Seperti yang sering kutulis, pada awalnya aku sangat ambisius untuk wisuda di bulan Mei. Namun, ternyata aku tidak dapat membagi waktuku antara mengerjakan skripsi dan mengerjakan hal-hal lainnya. Pada akhirnya cukup banyak memperparah kondisi fisiologis, setiap harinya hampir tidak dapat dikatakan sehat 100%. Hingga akhirnya menamparku bahwa keambisiusanku untuk wisuda di bulan Mei tidak sebanding dengan usaha yang kulakukan. Hingga akhirnya bulan Mei berakhir, aku belum juga sidang. 

Aku pun bertanya-tanya, kapan aku sidang? Kapan aku wisuda? Namun, di akhir Mei hingga awal Juni aku memaksa diriku untuk menyelesaikan skripsi. Hingga apa yang aku tunggu pun benar-benar terjadi. Semua prosesnya pun terasa dipermudah oleh Allah. Dari di-acc-nya skripsiku, verifikasi skripsi, pendaftaran sidang, hingga jadwal sidangku pun keluar.  

Saat jadwal sidangku keluar, aku benar-benar merasakan tiga jawaban Allah mengenai doa yang sering kita panjatkan. "Yes, I give you what you want. Yes, but not now. No, I give something better for you." Bagaimana semuanya akan indah pada waktunya. Bahwa memang apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita. Sebaliknya, Allah selalu mengerti apa yang terbaik untuk kita. Selain itu, aku juga merasakan bahwa jika kita menginginkan sesuatu harus diimbangi dengan usaha untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Aku pun memberi tahu ke beberapa orang terdekatku akan sidang skripsiku, sekaligus meminta doa kepada mereka. Namun, sejak skripsi selesai hingga menjelang sidang, berbagai hal kurasakan. Dari kelegaan sekaligus senang karena skripsiku telah selesai, perasaan bersalah karena semakin merasa bahwa skripsiku banyak salahnya. Serta jantungku berdebar karena takut tidak dapat berkata-kata ketika sidang berlangsung. 

Selang seminggu setelah jadwal sidang keluar, hari yang kutunggu pun terjadi. Sidang skripsi! Jantungku semakin berdebar ketika satu per satu dosen penguji dan dosen pembimbing mulai datang, ketika jarum jam dinding ruang sidang bergerak cepat menuju jam satu siang. Setelah semua dosen penguji datang, sidang skripsiku pun dimulai. Untungnya saat sidang hanya empat orang yang menonton sidang sehingga membuatku tidak begitu gugup. Sesi presentasi berjalan cukup lancar, walau lidahku terasa begitu kelu. Lalu sesi selanjutnya yaitu sesi pertanyaan dari dosen penguji. Berbagai pertanyaan, kritik, dan saran disampaikan oleh dosen penguji. Rasanya sungguh membuatku ingin mengutuki diri, menyalahkan diri sendiri atas skripsi yang kutulis. Salah satu pertanyaan yang cukup jleb menurutku yaitu "kenapa pengen banget wisuda Agustus mba?" Namun, pada dasarnya berbagai pertanyaan dan komentar dari dosen penguji tersebut membuatku semakin sadar akan kekurangan dari skripsiku. Sekaligus menamparku tentang realita yang harus kuhadapi setelah sidang, revisi mati-matian. Setelah sesi pertanyaan selesai, seperti beberapa sidang yang pernah kutonton, sesi selanjutnya yaitu dosen penguji dan dosen pembimbing akan berunding mengenai kelulusan kita serta revisi apa saja yang harus dilakukan. Keluar dari ruang sidang, ketika melihat seorang temanku sedang menunggu di luar, aku langsung memeluknya. Dan seketika itu juga air mataku mulai menetes. 

Belasan menit kemudian, aku dipanggil kembali ke dalam ruangan. Dosen penguji dan dosen pembimbing menyampaikan revisi apa saja yang harus kuperbaiki serta menyampaikan tenggat waktu revisi tersebut. Tenggat waktu yang membuatku mematung beberapa saat. Terlebih sesaat sebelum dosen pengujiku keluar dari ruang sidang, beliau memintaku untuk tidak mengejar wisuda Agustus. Rasanya seperti mematahkan langkahku yang tinggal beberapa langkah untuk wisuda di bulan Agustus. Walau begitu, aku mengambil sisi positifnya bahwa aku harus bekerja lebih keras dan memperbaiki semuanya sebelum pendaftaran wisuda Agustus berakhir. 

Kesedihan tersebut cukup terobati ketika kulihat beberapa temanku sudah menungguku di luar ruang sidang dan menyambut hangat kehadiranku. Dan seperti ritual yang harus dijalani, usai sidang sesi foto pun dimulai. Satu per satu temanku yang lain pun datang. Membuatku terharu sekaligus senang bahwa aku punya orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung mendukungku. Bahkan adikku rela datang ke Jogja demi mendampingiku sidang. Padahal sebelumnya aku sempat ragu kalau tidak ada yang akan datang ke sidang skripsiku.

Usai ceremony sidang, pada akhirnya harus kusampaikan pada diriku sendiri. "Selamat datang di dunia revisian skripsi. Sepertinya kita harus berjuang lebih keras lagi, yang kuat yaa."

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: