#1 Maret, April, dan 22



"I am so grateful for my life today and I want to protect it. It isn’t always easy to take positive steps each day, but I know I have to in order to stay healthy."-Demi Lovato

Awal 2017 kemarin masih teringat jelas di kepalaku bagaimana pesimisnya diriku tidak dapat merasakan usia ke-22. Embel-embel 'kronis' di belakang nama penyakitku seringkali membuat emosiku naik turun. Sekali waktu aku bisa sangat menerima semuanya, menerima diriku  dengan penyakit itu. Di waktu yang lain aku merasa sangat lelah dengan semuanya, ingin terus mengeluh dan mengeluh. Namun, lambat laun aku semakin menyadari kalau yang perlu kulakukan hanyalah 'menerima diriku' apa adanya. Menerima keadaan diriku yang tidak 'sesehat' dulu. Menerima keadaan diriku yang 'terpaksa' memakai collar neck sebagai salah satu terapi hyperlordosis cervicalis-ku, di samping terapi obat dan fisioterapi. Walau memang terkadang terasa berat, tetapi mau tidak mau harus kulakukan.

Bulan Maret lalu, mungkin puncak ketidakselarasan realita dan idealita yang kubuat. Banyak rencana yang tidak dapat tercapai di bulan ini. Aku semakin disadarkan bahwa apa yang sudah kurencanakan dengan rapi, tidak dapat berjalan dengan mulus. Hingga terkadang membuat kepalaku terasa penuh oleh rencana-rencanaku sendiri. Bulan Maret ini juga aku semakin disadarkan bahwa aku bukan Allah yang Maha segalanya, bukan juga robot yang 'diperkerjakan' tanpa rasa lelah. Aku hanyalah manusia biasa, yang mudah lelah dengan segala aktivitas yang kulakukan. Aku hanyalah manusia biasa, yang tidak mungkin bekerja secara penuh 24 jam selama 7 hari berturut-turut. Aku hanyalah manusia biasa, yang juga perlu istirahat walau di luar aku berpura-pura 'baik-baik saja. Padahal perutku sedang nyeri, kepalaku sedang cenat-cenut, tanganku kesemutan, tubuhku berkeringat dingin. Menjadi manusia yang faking good, agar orang-orang di sekitarku tidak terlalu mengkhawatirkanku. 

3 April 2017 

Hari ini usiaku genap 22 tahun, bertambah sekaligus berkurang 1 tahun. Ketika aku terbangun di tanggal ini, aku merasa sangat bersyukur hingga membuatku meneteskan air mata. Ternyata Allah menjawab pertanyaan (konyolku),  apakah aku dapat merasakan usia 22 tahun? Ternyata Allah masih memberikanku kesempatan untuk hidup, untuk berbuat baik kepada orang-orang di sekitarku. 

Hari kelahiranku di tahun ini terasa sangat berbeda. Biasanya orangtua dan adikku hanya mengucapkan melalui pesan di messenger. Namun, kali ini berbeda. Pagi hariku penuh kejutan ketika aku membuka ponsel. Pertama, Bapak mengirimkan sebuah video. Ternyata video itu berisi ucapan 'selamat ulang tahun' disusul ucapan doa-doa lainnya dari Bapak dan Ibu. Aku terharu sekali saat menonton video tersebut. Rasanya, aku ingin bergegas pulang selepas menontonnya. Kedua, notifikasi dari adikku yang mengirimkan link tulisannya di Tumblr. Lagi-lagi aku merasa terharu dan ingin bergegas pulang usai membaca tulisan adikku. Kok tumben 'so sweet' gitu? pikirku. 

Pagi hingga menjelang siang hariku diisi dengan rapat, minta rujukan ke GMC, dan kontrol ke Poli Saraf. Sejujurnya aku sangat suka dengan suasana di Poli Saraf yang terasa 'homey', terlebih karena petugasnya yang begitu rumah. Ketika namaku dipanggil untuk cek tekanan darah, seperti biasa petugas tersebut menanyakan identitasku. Salah satunya tanggal lahirku. Lalu kujawab, "Hari ini Bu." Perawat tersebut terkesiap, lalu tersenyum jahil sambil memintaku untuk mentraktirnya. Aku hanya tertawa menanggapi candaan tersebut. Usai pemeriksaan, aku kembali ke bagian pendaftaran Poli Saraf untuk menyerahkan hasil rekam medis dan resep obat. Di situ aku kembali bertemu perawat yang mengukur tekanan darahku. Ketika melihatku, tiba-tiba beliau mengatakan ke petugas yang berjaga di bagian pendaftaran kalau aku sedang berulang tahun. Alhasil, 3 petugas pendaftaran di Poli Saraf memberikan ucapan 'selamat ulang tahun' padaku. Sekaligus, lagi-lagi mereka menagih traktiran dariku. 


Sore harinya, usai menjaga Perpustakaan Baitul Hikmah (perpustakaannya Masjid Mardliyyah), aku bergegas kembali ke kosan karena akan menemani Shofya--temanku--pergi membeli roti. Namun, sesampainya di kosan, dia belum juga datang. Akhirnya aku menunggu di luar kosan, tidak langsung masuk dan menaruh ranselku ke kamar. Beberapa saat kemudian aku kaget ketika Shofya datang bersama Deni. Dan entah kenapa mereka juga kaget--bahkan sangat kaget--melihatku duduk di kursi luar kosan. Seketika aku membaui sesuatu yang mencurigakan. Terlebih saat Shofya menyuruhku mengambil kamera di kamar, tetapi aku tetap saja menurutinya. Setelah aku mengambil mereka, aku kebingungan karena mereka tiba-tiba menghilang tetapi motor-motor mereka masih terparkir rapi. Ketika aku berjalan ke sisi timur kosan, aku melihat Shofya dan Deni yang sedang menaruh lilin dan menyalakan api. Mereka pun salah tingkah saat aku memergoki mereka. Seketika aku tertawa puas melihat mereka yang merasa dongkol karena rencana untuk mengejutkanku gagal total. Setelah tawaku mereda, mereka mengucapkan 'selamat ulang tahun' serta doa-doa lainnya. Akhirnya kami makan kue dan pudding bersama. Akhirnya aku kembali merasakan kue ulang tahun, apalagi warna kue yang mereka berikan adalah warna favoritku. Biru! 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku berharap di usia 22 tahun ini aku menjadi (semakin) dewasa dalam menyikapi suatu masalah. Dan terima kasih untuk semua yang telah memberikan ucapan 'selamat ulang tahun' plus doa, dan juga hadiah. Thank you guys :3 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 comments:

  1. Barakallah fii umrik, 리야스! Semoga selalu dimudahkan dalam menjalani ujian(?) dari Allah ya dan menjadi salah satu terapi bersyukur untuk setiap nikmat-Nya. Hadiah dariku... baca postingan ini biar nambah traffic-mu ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya rabbal alamin. Gomaweo Asma :3 makasih hadiahnya :3 wkwk

      Delete
  2. uwaaaa riaaas selamat 22 duluan daripada aku! barakallah fii umrik yaa semoga senanatiasa bersyukur dan bahagia :)

    ReplyDelete
  3. Selamat ya, Barakallah fii umrik. Semoga makin bersykur dan bahagia :)

    ReplyDelete