Tentang Tiga Tempat

Bulan April ini ternyata bulan tidak terproduktifku untuk menulis di blog. Apalagi untuk menulis skripsi. Ah, sudahlah. Jangan ditanya. Bahas yang lain saja. 

Sebagai anak blok timur (Grha Sabha Pramana), tempat mainku tidak jauh-jauh dari fakultas-fakultas atau tempat-tempat yang ada di blok timur. Jarang sekali berkunjung ke daerah blok barat. Namun, beberapa bulan terakhir ini ada tiga tempat di daerah barat yang sering kukunjungi. Dan menurutku setiap tempat dapat memberi pelajaran berharga. 

1. Rumah Sakit



Sepertinya aku sudah (sangat) sering mengeluhkan sakitku dan kebosananku 'berkunjung' ke rumah sakit. Tujuh bulan terakhir ini aku sudah 'mengunjungi' beberapa rumah sakit. Namun, sejak tahun ini Rumah Sakit Dr. Sardjito lah yang paling sering 'kukunjungi'. Berpindah-pindah dari poli satu ke poli lainnya. Walau sejujurnya aku bosan 'berkunjung' ke rumah sakit, tetapi aku tidak menyangkal bahwa banyak pelajaran yang kuambil ketika aku ke sana. Beberapa pelajaran kehidupan yang tidak mungkin diajarkan di bangku sekolah. 

Di samping rasa bosanku, sejujurnya setiap kali aku ke rumah sakit, aku selalu dilatih lagi dan lagi tentang betapa harus bersyukurnya diriku. Betapa aku harus menerima diriku 'yang sekarang' dengan ikhlas dan tidak mengeluh. Betapa aku harus bersabar dalam menghadapi semua ini. Setiap kontrol aku selalu bertemu dengan orang-orang baru. Melihat wajah-wajah sabar para pasien yang tetap tersenyum walau kutahu mereka sedang menahan sakit. Lalu melihat wajah-wajah lelah pengantar pasien tetapi mereka pun tetap tersenyum tanpa merasa terbebani untuk mengantar kerabat mereka kontrol. Setiap bertemu dengan pasien lainnya, terlebih di poli yang sama denganku, kami saling berbagi cerita. Berawal dari pertanyaan "sakit apa mbak?" hingga berlanjut ke cerita-cerita lainnya. Walau, tentu saja aku yang lebih sering menjadi pendengar. 

'Berkunjung' ke tiga poli berbeda dalam empat bulan terakhir ini membuatku memiliki kesan tersendiri terhadap tiga poli tersebut. Poli penyakit dalam, menurutku poli yang paling ramai di antara ketiga poli tersebut. Ada beberapa bagian di poli penyakit dalam ini, seperti gastrologi dan hepatologi, rematologi, tropikal medik, bahkan psikosomatis. Beberapa kali ke poli ini, rata-rata pasien di poli ini sudah berusia lanjut. Lalu poli saraf, dari segi pelayanan menurutku poli ini lebih terasa homey. Petugasnya ramah-ramah, walau poli ini tidak sebesar poli penyakit dalam. Di poli saraf ini banyak pasien yang menggunakan alat bantu, seperti kursi roda, tongkat, dan penyangga leher. Dan di poli saraf ini lebih banyak dokter koasnya dibanding poli saraf. Lalu selanjutnya poli yang sebenarnya tidak berlabel poli, yaitu instalasi rehabilitasi medik (IRM). Di IRM ini lebih terasa ramai karena banyak pasien yang masih anak-anak. Sebab di IRM ada beberapa ruang seperti fisioterapi dan terapi untuk anak-anak. 

Di IRM ini aku tidak hanya diajari untuk merasa bersyukur, tetapi juga membuka mataku bahwa nobody's perfect. Setiap kali 'berkunjung' ke IRM aku berpikir bagaimana aku di posisi mereka, para orangtua yang memiliki anak yang 'tidak sempurna'. Saat kali ketiga fisioterapi di IRM, aku bertemu dengan balita yang aktif sekali bergerak ke sana ke mari. Lalu kutanya ke sang ibu tentang penyakit yang dialami anaknya. Ternyata anak yang belum genap berusia 2 tahun (kalau tidak salah ingat) itu beberapa yang lalu menjalani operasi bedah kepala (kalau tidak salah ingat). Berawal dari diare yang seringkali dianggap 'biasa' ternyata menjadi virus dan menjalar hingga ke otak kiri balita tersebut. Membuat balita tersebut harus menjalani operasi bedah kepala. Dan efek dari 'diare' tersebut membuat sang balita tidak dapat menggerakkan tangan kanannya selincah tangan kirinya. Dia hanya mengepalkan tangan kanannya begitu erat, sementara tangan kirinya lincah diayunkannya ke atas. 

Di IRM ini juga aku mendapat cerita dari fisioterapisku kalau belum banyak psikolog yang kerja di rumah sakit. Aku sempat terkaget sebab rumah sakit itu termasuk rumah sakit besar. Aku jadi berpikir kalau rumah sakit sebesar itu saja kekurangan psikolog, apalagi rumah sakit lainnya. Sejak saat itu juga aku bertekad ingin menjadi psikolog anak atau klinis di sebuah rumah sakit. 

Bagiku, berkunjung ke rumah sakit memberi banyak pelajaran bagiku, membuka lebar-lebar mataku bahwa banyak orang yang sangat tangguh melawan penyakitnya. Bahkan penyakit mereka jauh lebih berat dariku, tetapi aku sering mengeluh dan di titik tertentu aku merasa sangat pesimis. Bahkan di awal tahun 2017 aku ragu apakah aku dapat merasakan 22 tahun atau tidak. Ternyata Allah memang Mahabaik, Dia masih memberi kesempatan untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi. 

2. EDS (Entrepreneurship Development Service)

Sekitar tanggal 20 bulan Maret lalu aku magang di Pijar Psikologi. Beralih dari volunteer menjadi anak magang. Perbedaan mendasar dari volunteer dan magang ini yaitu jam kerja. Kalau volunteer lebih 'bebas', kalau magang lebih terikat waktu. Dua kali dalam seminggu, hari Selasa dan Kamis, dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, aku harus stay di EDS. 

Hal yang menyenangkan dari magang ini yaitu aku merasa seperti menjadi jurnalis sungguhan. Walau banyak sekali tantangan yang dihadapi. Terutama terkait waktu yang terbilang singkat. Namun, aku jadi punya sedikit gambaran jika nantinya aku bekerja di suatu media pers, menjadi seorang jurnalis sungguhan. Lingkungan magang ini pun menurutku sangat menyenangkan dan menenangkan. Kadang ketawa-ketiwi saat mengerjakan tugas masing-masing, kadang begitu serius hingga tidak terdengar suara apapun. 

3. Perpustakaan Baitul Hikmah dan Masjid Mardliyyah


Menjadi bagian dari Fajr Studio membuatku sering mengunjungi Masjid Mardliyyah. Padahal dulu jarang sekali ke masjid itu, bahkan bisa dihitung dengan jari. Intensitas ke masjid itu pun semakin meningkat saat seorang senior di FLP Yogyakarta memintaku menggantikannya menjaga perpustakaan Mardliyyah yang bernama Perpustakaan Baitul Hikmah. Kali pertama ke perpustakaan itu aku merasa takjub karena koleksi bukunya yang cukup banyak dan menarik untuk dibaca. Suasana perpustakaan itu pun sangat tenang hingga seringkali membuatku mengantuk dan tertidur. Ternyata bukan hanya hari itu aku diminta menjaga perpus, dua bulan terakhir ini beberapa kali aku diminta menggantikan seniorku tersebut. Namun, aku merasa tidak masalah sebab dari menjaga perpus aku dapat berkenalan dengan beberapa pengunjung. 

Hal yang paling menyenangkan saat menjaga perpus itu aku merasa di rumah sendiri karena dikelilingi oleh banyak buku. Padahal selama jaga perpus aku lebih sering berkutat dengan laptopku. Jarang sekali membaca salah satu koleksi buku perpus tersebut. Dan ya, aku semakin sadar bahwa tingkat membacaku semakin berkurang. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment