(Semacam) Simulasi KKN

Siang ini, sepulang kuliah, aku dan delapan orang temanku yang lain berencana pergi ke Panggang, suatu daerah di Gunungkidul. Di sana, kami akan mengunjungi acara yang dilaksanakan di tempat tinggal dosen kami. Kebetulan tanggal 24-29 Mei dosen kami kedatangan tamu dari suatu universitas di North Carolina yang ingin belajar di Indonesia. Membaur bersama masyarakat. Mempelajari kebudayaan Indonesia. Selain itu mereka juga mengajari Bahasa Inggris kepada masyarakat sekitar, khususnya anak-anak. 

Sesampainya di sana, suasananya begitu berbeda dengan yang biasa kami rasakan. Begitu tenang, damai, dan udaranya pun sangat sejuk. Membuatku menganggap kuliah lapangan ini sekaligus menjadi sarana refreshing di tengah himpitan tugas. Dan juga refreshing sebelum Ujian Akhir Semester 6 tiba. 

Selepas Ashar kami bersiap menaiki tangga-tangga kecil menuju balai kecil persis di atas rumah dosen kami. Kami mengendap-endap, menaiki anak tangga demi anak tangga. Aku mengintip dari jendela bening. Aku sontak terkaget sekaligus malu saat melihat 4 mahasiswa luar beserta seorang dosen dan beberapa anak-anak telah memulai kelas Bahasa Inggris. 

Materi pertama, yaitu hari. Anak-anak setempat diajari oleh salah satu dari 4 mahasiswa luar tersebut bagaimana mengucapkan hari dalam Bahasa Inggris. Mereka mengajari nama hari mulai dari Bahasa Indonesianya hingga Bahasa Inggris. Dimulai dari Senin hingga Minggu. Setelah anak-anak tersebut memahami nama hari, salah satu dari 4 mahasiswa luar itu mengajari anak-anak tersebut dengan nyanyian. 
Sunday, Monday, TuesdayWednesday, Thursday, FridayThe next day is SaturdayAnd then the week is done~
Lalu materi kedua dan ketiga mengenai warna serta buah-buahan dan sayur-mayur. Seperti materi pertama, pada dua materi ini salah satu dari 4 mahasiswa luar lainnya mengajari dengan Bahasa Indonesia terlebih dahulu. Lalu beralih ke Bahasa Inggris. Bahkan pada materi sayur-mayur, salah satu dari 4 mahasiswa luar tersebut membawa satu mangkok berisi buah dan sayur. 

Kemudian pada materi terakhir diajari tentang perkenalan dalam Bahasa Inggris. Salah satu dari 4 mahasiswa luar lainnya itu mempraktekkan cara menyapa orang lain dalam Bahasa Inggris.
Hello, how's it going?I am good. How are you?
Setelah itu anak-anak tersebut diminta mempraktekkan percakapan singkat tersebut dengan teman di sebelahnya. Beberapa anak bahkan terlihat berebut teman dan ada juga yang terlihat tidak ingin ber-partner dengan anak tersebut. Kelas sore itu pun ditutup dengan menyanyikan nama hari dalam Bahasa Inggris dan juga foto bersama antar mahasiswa. 


Kelas sore ini membuatku membayangkan suasana KKN yang tinggal menghitung hari lagi. Kurang lebih, saat KKN nanti akan seperti kelas sore ini. Namun, kelas sore terasa begitu santai namun menyenangkan. Terlebih karena di setiap akan berganti materi ada kuis dadakan yang menguji kemampuan anak-anak tersebut dalam memahami materi. Reward yang diberikan pun beragam, mulai dari permen karet, koin, hingga gelang. Hal ini membuat anak-anak bersemangat untuk berebut menjawab kuis. Walaupun beberapa anak masih terlihat malu-malu. 

Malam harinya ada dua agenda yang kami ikuti. Pertama, menikmati pertunjukkan gejog lesung. Pertunjukkan ini menampilkan beberapa orang wanita baya yang sedang memukul-mukul lesung atau alat menumbuk padi. Dan ada juga yang menari, mengitari wanita baya tersebut. Walaupun telah berumur, mereka tetap enerjik dalam memainkan gejog lesung. Pukul-memukul ke lesung yang sepintas hanya pukulan biasa ternyata menghasilkan nada yang indah. Membuat kami larut dalam musik, nyanyian, dan tariannya. 

Kedua, diskusi mengenai pernikahan usia dini. Pada diskusi ini ada seorang pemantik, yang berasal dari penduduk setempat. Beliau bercerita mengenai daerahnya yang beberapa tahun silam memiliki angka pernikahan usia dini yang cukup banyak. Kebanyakan penduduk menikah usai lulus SMA. Padahal jika seseorang menikah di usia belia, saat organ reproduksi belum matang dan juga emosi yang masih labil, banyak risiko yang harus ditanggung. Untuk itu, penduduk setempat dan dosen kami mengadakan suatu intervensi mengatasi hal tersebut.

Sekitar jam 9 diskusi telah usai, beberapa puluh menit lebih cepat dari yang kami perkirakan. Aku sudah ingin berseru senang saat diskusi usai lebih cepat, tetapi teman-teman yang lain masih menunggu hingga jam 10. Usai diskusi, putranya dosen kami menawarkan kepada 9 mahasiswa luar tersebut untuk bermain gamelan atau gejog lesung. Dan mayoritas memilih gamelan. Awalnya aku tidak terlampau terkait bermain, terlebih karena aku ingin segera pulang. Namun, saat melihat ada satu perangkat gamelan yang masih kosong, membuatku ingin mendekati gamelan itu. 

Kulangkahkan kaki menuju saron yang tidak berpenghuni itu. Kupegang tabuh-nya, kusentuh dan kutatap lekat wilahan-nya dengan tatapan berbinar-binar. Rindu ini pun telah kubayar tuntas, batinku. Aku begitu rindu menatapnya, mendengarnya secara langsung di kerumunan gamelan, dan memainkannya. Hati kecilku tidak mampu menutupi rasa senangku memainkan kembali alat musik ini. Tidak mampu menafikan rasa rindu pada gamelan yang begitu menggebu. Dan tak pernah hilang. Aku seperti kembali bernostalgia dengan salah satu katarsisku. Aku seperti kembali bernostalgia dengan suatu tempat di sudut Gelanggang. Saat mulai kembali memainkan lagu, Sluku Sluku Bathok dan Ladrang Pariwisata. Kenanganku bersama kalian seolah berputar jelas saat aku mulai memukul nada tiap nada. 

Yogyakarta, 25 April 2016
 

Share this:

0 comments:

Post a Comment