Kematian dan Jodoh

Sumber
Malam ini, sebuah kabar duka kembali menyapa grup angkatanku. Seorang kakak angkatan kami meninggal dunia. Awalnya aku tidak mengenali nama itu. Namun, saat seorang teman mengatakan dia adalah anggota dari lembaga dakwah fakultas kami, aku merasa tidak asing dengan nama itu. Dan setelah kuingat-ingat ternyata aku memang mengenalinya. Walau tidak kenal secara personal dan hanya beberapa kali bertemu saat aku sedang mengobrol dengan kakak kelas yang seangkatan dengannya, berpapasan di jalan menuju kosan, dan bertemu di sekre. Dan kutahu dia memang pribadi yang baik.
Awalnya aku hanya mengucapkan innalillahi-wa-inna-ilaihi-rojiun sebagai bentuk simpatiku. Namun, setelah mengetahui kakak angkatan yang meninggal adalah orang yang beberapa kali sering kulihat–walau tidak pernah mengobrol–hati kecilku pun merasakan kesedihan seperti orang yang mengenalnya lebih dekat. 
Saat beberapa orang mengatakan padahal kemaren baru ketemu, padahal kemaren baru kontak-kontakan, padahal kemaren dia baru sidang skripsi, dan hari ini dia harus kembali ke Sang Pencipta membuatku semakin menyadari bahwa kita lebih pasti berjodoh dengan kematian daripada dengan manusia.  
Entah kenapa, suasana duka itu terasa pas sekali saat aku harus ‘mematikan’ karakter dalam tulisanku. Rasanya aku jahat sekali. 
Kematian memang tidak memandang umur, apalagi jenis kelamin. Tidak peduli tua, atau muda. Tidak peduli kamu sedang bemaksiat atau melakukan kebaikan. Kalau takdir telah berkehendak, kita bisa apa? 
Hingga detik ini, hatiku masih terasa sesak. Mengingat kematian membuatku semakin sedih. Apakah aku telah berbuat baik pada orang-orang sekitarku? Apakah orang-orang sekitarku mau memaafkanku ketika takdir itu mengahampiriku? Apakah amal baikku jauh lebih banyak dari amal burukku hingga mampu menuntunku ke pintu surga, masuk ke dalamnya dan menikmati surga yang begitu indah? 
Mengingat kematian membuatku semakin menyadari bahwa urusan-memperbaiki-diri bukan hanya agar kita bisa mendapatkan teman hidup yang pantas bagi kita. Mampu membimbing kita dan menerima semua kekurangan dan kelebihan kita. Namun, urusan-memperbaiki-diri itu juga agar kita semakin siap kalau ternyata takdir kematian yang lebih dulu menghampiri kita. Semoga kita senantiasa memperbaiki diri, berbuat lebih banyak amal kebaikan, agar kelak ketika jodoh ataupun kematian menghampiri kita, kita telah siap untuk menerimanya. 
Untuk kakak angkatanku, semoga segala amal kebaikan yang telah kamu dapat mengantarmu ke surga, berdampingan dengan-Nya. 

Yogyakarta, 27 Mei 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment