Tentang Semester Lima dan Kebersyukuran


Dulu, rasanya aku tidak percaya saat adikku memberi kabar aku diterima di Psikologi--salah satu jurusan yang aku inginkan. Saat itu aku begitu senang karena akan kuliah di perantauan. Aku membayangkan akan sangat menyenangkan kuliah di Psikologi, di perantauan pula. Segala hal menyenangkan terbayang di otakku saat itu. Namun, sekarang, memasuki tahun ketiga menjadi mahasiswa, bayangan-menyenangkan-menjadi-mahasiswa-perantauan seperti terpatahkan begitu saja. 
Awal semester 5 masih berjalan dengan baik. Kuliah, organisasi, dan kegiatan menulis masih berjalan seimbang dan lancar. Namun, lama-kelamaan aku semakin tidak bisa menyeimbangkan itu semua. Tugas kuliah semakin banyak dan semakin ribet. Semua mata kuliah berlomba-lomba memberi tugas. Puncaknya, satu bulan terakhir ini aku merasa begitu kelelahan. Pagi sampai sore kuliah, setelah kuliah kadang ada rapat, pulang-pulang sudah begitu kelelahan. Begitu membuka laptop untuk mengerjakan tugas malah ketiduran. Alhasil, tugas yang seharusnya dikumpulkan jam 10, 11, atau 12, baru bisa kukirim jam 2, 3, atau 4. Mungkin ketiduran memang terlihat wajar, manusiawi. Akan tetapi, kalau selama hampir tiga minggu selalu ketiduran masih dianggap wajar? Hal ini membuatku frustasi karena banyak tugasku yang belum selesai. Namun, aku seperti tidak menemukan waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas. Aku mencari berbagai cara untuk tidak ketiduran sehingga dapat mengerjakan tugas. Salah satunya menyeduh secangkir kopi. Ternyata tidak mempan, aku tetap ketiduran bahkan sebelum sempat meneguk kopi yang kubuat. Aku memutar otak, dan akhirnya memutuskan membolos kuliah agar dapat mengerjakan tugas. Ekstrem memang, mengorbankan satu mata kuliah untuk mengerjakan tugas mata kuliah lain. Dalam diriku pun terjadi pergulatan batin, satu sisi hatiku mendukung, sisi yang lain memberontak. Alasannya klasik, tapi memang benar. Ngapain lo jauh-jauh ke Jogja kalo cuma buat bolos, kuliah gak rajin. Lo tuh ke Jogja buat kuliah. Aku hanya bisa diam jika hatiku sudah berkata seperti itu. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali. Bahkan 2 minggu terakhir ini aku lebih sering tidak masuk kuliah. 
Ya, harus kuakui semester 5 memang menguji batin dan menguras pikiran. Kuliah di perantauan, hidup jauh dari keluarga, rasanya sangat berat. Terlebih saat tugas terus berdatangan, sementara tidak ada motivasi dari diri sendiri, pun dari orang-orang sekitar.  Rasanya aku ingin kuliah di Purwokerto aja, aku ingin pulang aja. Aku ingin menghilang dari rutinitas, batinku. I need social support, but I don’t get it. Terlalu banyak tekanan, terlalu banyak yang menekan, terlalu banyak deadline yang mengejar membuatku tidak sanggup untuk menghadapinya sendirian. Ingin berbagi cerita, tapi aku selalu sendiri. I am withdrawl, but no one looking for me. No one ask me why I was absent. Alhasil aku hanya bisa menangis. Meratapi diri, mengutuki diri. Salah siapa pengen kuliah di sini. Merasa diri ini sendirian, padahal aku yang menghindar, menarik diri. 
Semester 5, dengan tugas yang seabrek sungguh tidak membuat sehat mental. Membuatku merasa tertekan dan sungguh ingin menghilang. Menghilang dari semuanya. Seperti minggu lalu, aku sengaja tidak bergegas pulang, sengaja tidak berkuliah di hari Senin, aku ingin berlama-lama di rumah. Namun, ibuku tidak membolehkanku untuk berlama-lama di rumah. Iya lah, tentu saja. Semester 5, dengan segala tugas kuliah dan tugas lainnya sungguh ingin membuatku berteriak “rasanya gue pengen nikah aja, haha”. Aku menyeringai, mengomeli diri. Nikah bukan untuk bahan lelucon. Semester 5, dengan segala tekanan yang ada, yang tidak pernah berhenti menekanku memang membuatku ingin rehat dari rutinitas, dunia perkuliahan dan organisasi. Namun, beberapa hal yang kualami, kulihat, dan kudengar satu bulan terakhir ini juga membuatku berpikir ulang untuk menghilang. 
Psikologi Pendidikan Anak dan Remaja Berkebutuhan Khusus (PP-ARBK), salah satu mata kuliah yang sedang kuambil menyadarkanku bahwa hidupku jauh lebih beruntung dari mereka. Dalam mata kuliah itu dijelaskan berbagai macam disabilitas yang dialami seseorang, mulai dari inteligensi, perkembangan, emosi, belajar, fisik, sensori motor, hingga komunikasi. Namun, dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka masih tegar, terus berjuang, dan tidak mudah menyerah. Seperti pada sebuah video yang diputar di kelas, memperlihatkan sekelompok pemuda yang mengalami tunawicara+tunarungu tetapi mereka bisa menari dengan begitu luwesnya. Mereka terlihat seperti orang normal yang bisa menangkap suara dengan jelas dan baik. Namun, mereka tunarungu. Hatiku terenyuh saat melihat video itu. Betapa tidak bersyukurnya aku atas apa yang telah Tuhan berikan padaku. Mereka masih semangat latihan menari di tengah keterbatasan pendengaran yang mereka miliki. Sementara aku, yang masih memiliki kelengkapan anggota tubuh, dan panca inderaku yang masih berfungsi dengan baik tidak henti mengeluh. Tidak pernah bersyukur, gampang sekali menyerah dan merasa tertekan. Pun saat tadi pagi aku mengunjungi sebuah SLB yang menangani anak-anak dan remaja tunagrahita, menjadi tamparan lagi bagiku untuk terus bersyukur dan tidak terus mengeluh. 
Semester 5, dengan segala deadline yang tidak kunjung usai memang membuatku tidak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Salah satunya bisa berkuliah di Psikologi UGM, salah satu jurusan sekaligus universitas yang kuinginkan. Saat beberapa orang ingin berada di posisiku tetapi mereka tidak bisa merasakannya. Justru aku yang merebut salah satu kursi itu dari mereka malah tidak bersyukur atas semua ini. Betapa angkuh dan tidak bersyukurnya diriku. Pun saat aku menjadi admin sebuah akun, begitu banyak anak kelas 3 SMA dan beberapa orang yang sudah lulus ingin sekali merasakan bangku kuliah. Menanyakan berbagai macam hal, mencari berbagai macam info dan strategi agar bisa diterima di pilihan mereka. Sekali lagi hal itu menjadi tamparan bagiku. Mengubah diriku agar dapat mengatur waktu dengan baik, terus bersyukur, dan tidak merasa sendirian. Walau berat, tetapi harus dijalani dengan baik. Karena hidup tidak melulu tentang hal yang menyenangkan. Stop whining, more grateful. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment