Bunga dan Lelaki Bertopi Merah

Aku menatap lurus ke depan 
Gelap
Lengang
Aku terus berjalan, entah hendak ke mana
Berjalan jauh, menjauhi semuanya 
Berjalan jauh, meninggalkan semuanya 
Meninggalkan rutinitas 
Meninggalkan jejak kenangan kita 
Membunuh segala memori yang terekam tentangmu
Tentang kita
Langkahku terhenti di emperan toko
Kakiku mulai lelah tuk berjalan jauh
“Tuk tuk”, seseorang menepuk pundakku
Spontan aku menengok ke belakang
Tidak ada 
Ke kiri, pun tidak ada
Aku menyerah
Tiba-tiba seorang lelaki bertopi merah muncul tepat di hadapanku 
Entah datang dari mana
“Jangan bersedih,” kata si lelaki, seakan tahu suasana hatiku
Aku membisu, menatapnya datar 
Aneh, lelaki itu malah tersenyum padaku
Aku tertegun, tersipu malu
“Kau mau bunga?” Tawarnya 
Bunga? Aku menatapnya heran
Memasang wajah tidak percaya karena kulihat tangannya kosong, pun tidak berransel
“Ini,” sekuntum bunga mawar merah lelaki itu berikan padaku sembari menyunggingkan senyum 
Aku kembali tersipu
Kembali kutatapnya dengan heran 
Dari mana datangnya bunga ini?
Belum sempat pertanyaan itu kulontarkan
Belum sempat aku bicara 
Belum sempat kuucap terimakasih
Belum sempat kutahu nama lelaki itu
Lelaki bertopi merah itu lebih dulu menghilang
Langkah kakimu tidak terekam
Bayangan dirimu tidak bisa kujamah
Hanya sekuntum bunga mawar merahmu yang bisa kunikmati
Wangi bunganya begitu terasa 
Begitu nyata 
Seakan lelaki bertopi merah itu masih ada di sini 
Di sampingku

Share this:

0 comments:

Post a Comment