Cappucino dan Espresso

Di sudut taman kota, hanya kamu dan aku yang duduk di sini. Menikmati sang mentari kembali tenggelam. Menunggu senja yang sebentar lagi akan datang. Hening. Hanya suara kicauan burung yang terdengar dari atas pohon. Dan sesekali segerombolan burung terbang tepat di depan mata kita. Membuat kita tergelak. Lalu kembali hening. Kita kembali bungkam. Canggung, batinku. 
“Kamu suka kopi?” tanyaku, mencoba memecah keheningan. 
“Tentu saja aku suka,” kamu tersenyum, membuatku salah tingkah. 
“Oh, ya?” mataku membelalak, begitu antusias. 
Kamu mengangguk. Kembali tersenyum.
“Kopi apa yang kamu suka?”
Diam. Kamu berusaha memikirkannya. 
“Cappucino dan espresso,” katamu. 
“Yang paling kamu suka?” tanyaku begitu penasaran. 
“Tidak ada. Aku suka keduanya sama besarnya.”
“Menarik. Biasanya di antara dua pilihan, ada satu yang menjadi unggulan.”
Kamu tertawa. Membuatku malu akan pernyataanku tadi. Ada yang salah?
“Aku tidak berbohong jika aku menyukai keduanya.”
“Aku percaya. Lalu kenapa kamu menyukai cappucino dan espresso?”
“Espresso itu pahit, karena memang terbuat dari kopi hitam yang rasanya sangat kuat. Hanya kopi, tanpa campuran gula, apalagi susu. Tidak seperti cappucino yang manis karena terbuat dari espresso dan susu yang sudah diukur komposisi bahkan temperaturnya…”
“Lalu?”
“Tunggu, aku belum selesai.”
“Oke, maaf. Silahkan lanjutkan.”
“Biasanya aku minum keduanya di waktu yang berbeda, tergantung moodsedang seperti apa. Kalau sedang senang aku minum espresso, kalau mood-ku sedang tidak bagus aku minum cappucino.”
“Loh, kenapa begitu?” tanyaku heran. 
“Ya, supaya mood-ku membaik saat aku meneguk cappucino, dan meminum espresso di saat aku senang, aku seperti diingatkan bahwa di balik kesenangan yang aku rasakan saat itu ada kepahitan yang pernah kurasan. Begitupun saat meminum cappucino, aku yakin akan ada hal baik di balik kepahitan hidup yang sedang kualami. Selalu ada manis yang tersimpan di balik rasa pahit, dan selalu ada kepahitan dalam manisnya secangkir kopi. Begitupun dengan hidup ini.”
Aku mematung, terpukau dengan jawabannya. Lalu tiba-tiba saja kamu berdiri sambil menggendong ransel hitammu. 
“Mau ke mana?” tanyaku heran. 
“Minum kopi lah, ke mana lagi?” 
“Hah?” aku terkejut.
“Sedari tadi kamu begitu antusias mendengar ceritaku tentang kopi. Kupikir kamu harus mencoba meminum kedua kopi itu.”
“Oke, baiklah,” aku ikut berdiri. 
“Kamu ingin minum kopi apa?” tanyamu.
“Cappucino,” jawabku mantap.
“Kenapa? Kamu sedang tidak mood?”
“Memangnya kamu! Justru aku sedang senang. Aku juga mau punya filosofi tentang kopi yang aku minum, tidak mau kalah dengan,” jawabku jahil. 
Lalu kami kembali tergelak. Meneruskan perjalanan, mencari sebuah gerai kopi. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment