Tentang Perayaan di Hari Rabu (2): My Support System

 


22 November 2017


Grha Sabha Pramana, tempat pertama dan tempat terakhirku menjadi mahasiswa di kampus biru ini. Saksi bisu pertemuan yang berujung pada perpisahan. Dan aku tidak pernah menyangka jika rasanya akan sesendu ini ketika kembali berada di sini. Terlebih ketika aku kembali mendengar suara gamelan yang mengiringi langkah kaki para wisudawan dan wisudawati. Seketika memoriku terputar ulang ke masa tiga tahun yang lalu ketika aku dan anak-anak UKJGS mengiringi para wisudawan dan wisudawati masuk ke dalam gedung. Aku bahkan menerka lancaran atau ladrang apa yang sedang dimainkan.

Begitu aku duduk dan perayaan akan segera dimulai, suasana gedung terasa begitu khidmat dan merinding. Namun, aku pribadi cukup merasa bosan ketika sesi penyerahan ijazah. Beberapa kali aku sempat terkantuk kala menunggu giliran dipanggil. Dan ketika nama mahasiswa terakhir disebut, tanpa dikomando siapapun kami serempak bertepuk tangan. Mungkin seraya berkata dalam hati, akhirnya selesai juga. Meski sebenarnya itu bukanlah penghujung acara. 

Saat gladi bersih kemarin, kupikir hanya ketika menyanyikan Hymne Gadjah Mada hatiku akan terenyuh, sesak, dan berusaha menahan tangis. Nyatanya tidak. Bukan hanya ketika itu, tetapi juga ketika Paduan Suara Mahasiswa yang diiringi alunan piano temanku membawakan lagu Andai Aku Besar Nanti. Pada dasarnya lagu tersebut memang menyedihkan, ditambah lagi dengan suasana wisuda ini. Dari bait pertama sampai terakhir, dari intro hingga coda lagu tersebut, aku terus berpikir, apa yang sudah kulakukan untuk orang tuaku? apakah mereka bangga terhadapku? Sembari menahan tangis meski hati sudah sesak dan mata sudah berkaca-kaca. 

Perayaan wisuda ini membuatku semakin menyadari kalau banyak yang telah dikorbankan oleh orang tua, adik, dan keluargaku. Mulai dari aku kecil, masuk kuliah, hingga telah diwisuda. Bukan hanya materi yang mereka korbankan, tetapi juga waktu, tenaga, dan perasaan. Teringat jelas dalam memoriku betapa aku dulu sangat ingin berkuliah di kampus biru, tetapi Ibu justru ingin aku tetap di kampung halaman. Berkuliah di sana. Meski pada akhirnya diizinkan merantau dan Ibu pun senang ketika aku diterima di kampus biru. 

Salah satu tujuanku merantau yaitu agar aku dapat mandiri. Nyatanya, dari awal masuk aku tetap menyusahkan orang tua, terutama dari segi finansial. Di bulan kedua tahun pertama merantau aku langsung sakit, dehidrasi ringan. Bapak dan ibu yang kukabari malam-malamnya langsung panik dan paginya bergegas menuju Jogja. Seiring bertambahnya semester keinginan untuk mandiri secara finansial semakin menguat. Meskipun lagi-lagi aku menyusahkan mereka, kembali meminta uang. Bahkan beberapa kali, aku menyalahkan diri karena memaksakan kehendakku untuk berkuliah di perantauan. Terkadang sampai sekarang aku masih merasakan itu. 

Kepada orang tua jugalah aku merasakan ambivalensi. Di satu sisi aku merasa begitu menyayangi mereka dan ingin membanggakan mereka. Sebaliknya, di sisi lain beberapa kali aku kesal terhadap mereka. Mungkin sebenarnya itu bentuk pelampiasanku yang belum dapat membahagiakan mereka, malah menyusahkan. 

Lalu adikku, orang pertama yang fotonya kutangisi ketika di perantauan. Entah kenapa begitu. Padahal sebelumnya kami sering sekali bertengkar. Namun, semenjak merantau aku merasa jika kami saling menyayangi dengan cara masing-masing tetapi dengan cara yang sama-sama "tidak manis". Adikku lah yang menjadi teman setia, pengganti ketidakhadiran bapak dan ibu ketika tiga momen penting akademikku tiba. Dia juga yang sempat berujar usai sidang kedua, "Aku tahu Yas kalau banyak banget yang pengen kamu pikirin di otak dan pengen kamu sampein tapi kamu gak bisa nglakuinnya". Saat itu aku merasa terenyuh dan sangat bersyukur memilikinya.



Lalu Habib, sepupu yang seumuran denganku dan yang kurasa paling dekat dibanding sepupu yang lain. Mungkin karena ketika sejak SMP kami satu tempat les dan ketika SMA, sekolah kami tetanggaan. Selain itu, karena seumuran juga, kami sering bergantian cerita soal percintaan dan hal-hal lainnya.

Dan ya, aku merasa beruntung memiliki mereka dan anggota keluarga besar yang lainnya. Terlebih menurutku keluarga memiliki peranan penting sebagai pendukung. Kalau bukan karena mereka, mungkin aku merasa berjuang sendirian. Kalau bukan karena mereka, mungkin aku tidak akan bersemangat untuk menyelesaikan tugas akhirku. Rasa-rasanya, ucapan terima kasih di halaman persembahan dan kata pengantar tidak cukup membalas semuanya. Perlu lebih dari berjuta ribu terima kasih untuk mereka. Dan lebih dari lebih dari berjuta ribu terima kasih untuk Allah yang mengirimkan mereka untukku.

Share this:

0 comments:

Post a Comment