Introvert Personality

Aku masih sibuk membolak-balik ringkasan materi Perspektif Trait dan Perspektif Behaviorisme beberapa menit sebelum UAS dimulai. Tiba-tiba saja sebuah tangan melintas tepat di depan mataku, menyerahkan dua buah striker yang berisi kata-kata mutiara. Pandanganku beralih, menoleh ke kiri, mencari tahu siapa pemilik tanganku. Oh, ternyata itu tangannya mba Asisten Dosen Teori-teori Kepribadian (TKP), batinku. Lantas kuraih dua buah stiker itu. Membaca kata per kata. Bagus juga nih, coba semua mata kuliah dikasih striker pas mau ujian, batinku lagi.
Kurang lebih isi tulisan di stiker itu seperti ini:


Pukul 08.00-09.30 kami mulai berkutat dengan soal TKP yang berjumlah 80 nomor itu. Walau ujian itu bersifat terbuka atau openbook, tetap saja tidak semudah itu mengerjakan soal TKP. 
Dari dulu aku suka sekali mengamati gerak-gerik dan tingkah laku orang-orang yang kulihat. Bagaimana mereka berbicara, berjalan, berpikir, dan mengapa mereka berkepribadian seperti itu. Seperti teori tabularasa yang dikemukakan John Locke bahwa pada dasarnya, manusia terlahir ke dunia ini layaknya kertas putih yang masih kosong, belum berwarna, belum ternoda oleh tinta apa pun. Orang tua atau keluarga lah yang pertama kali memberi warna pada kertas putih itu. Entah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, atau ungu. Atau mungkin malah berwarna hitam. Semakin usia kita bertambah, semakin kita beranjak dewasa, kertas itu penuh warna. Bukan lagi hanya keluarga yang memberi warna di kertas itu, tetapi juga lingkungan sekitar kita, teman sebaya kita, dan media massa.
Kalau ada seseorang yang terlihat begitu menyebalkan, egois, dan sifat jelek lainnya. Coba lihat dulu bagaimana orang tuanya membentuknya, lingkungan di sekitarnya, apa yang dia tonton, apa yang dia baca. Karena bisa saja dia berasal dari keluarga yang baik-baik saja, dibentuk dengan cara yang baik, tetapi ketika memasuki usia remaja, lingkungan sebayanya tidak sebaik lingkungan keluarganya, sehingga anak tersebut menjadi pribadi tidak baik karena pengaruh lingkungan teman sebaya yang besar.
Setelah mempelajari mata kuliah Teori-teori Kepribadian aku semakin mengenali penyebab mengapa seseorang berkepribadian seperti itu. Mungkin karena trauma di masa kecil, keluarga yang tidak harmonis, adanya perasaan inferior, perasaan terabaikan, dan terlalu banyak menggunakan defense mechanism di kesehariannya. Dan aku berkesimpulan bahwa kepribadian seseorang itu ditentukan oleh masa lalu, masa kini, dan masa depan (tujuan ke depan). Semuanya berhubungan. Aku pun setuju dengan Bandura mengenai Triadic Reciprocal Causation bahwa lingkungan, perilaku, dan person (manusia) itu saling memengaruhi.
Ya, jujur saja, mata kuliah TKP ini adalah mata kuliah yang kusuka dan kutunggu-tunggu sejak aku memutuskan memilih Psikologi saat pendaftaran tahun lalu. Menurutku mata kuliah ini sangat menarik karena mempelajari kepribadian manusia dari berbagai macam perspektif, seperti psikodinamika, humanistik, trait (sifat), dan belajar (behaviorisme). Saking banyaknya teori, aku sampai bingung sebenarnya kepribadianku itu apa. Atau jangan-jangan aku ini berkepribadian ganda? Entahlah. Yang jelas aku adalah seorang introvert. Aku tertutup, pendiam, tidak begitu suka berbagi cerita dengan "orang asing", terlebih mengenai masalah keluarga. Namun, aku bisa begitu cerewet saat bersama teman dekatku atau orang-orang yang membuatku merasa nyaman. Seakan aku bisa lepas bicara berbagai hal.

http://yanzicjustnubie.wordpress.com/2013/03/17/introvert-wallpaper/

Aku lebih suka berada di antara ribuan buku dibanding harus berkumpul dengan orang yang membuatku merasa tidak nyaman dan mematung. Dalam beberapa kali pesta ulang tahun teman SMA ku, aku merasa seperti anak kecil di tengah kerumunan orang asing. Aku merasa sepi, sendirian di tengah kerumunan orang banyak, di antara teman sekelasku sendiri. Aku pun tidak mengerti kenapa perasaan ini kerap menghampiriku. Aku sungguh merasa seorang diri, terabaikan, dan dicuekin. Entahlah, mungkin memang aku kelewat introvert. Percaya atau tidak, kadang aku takut untuk bertemu seseorang atau beberapa orang saat aku sedang sendirian. 


Terkadang aku pun merasa sedih karena menjadi introvert. Aku hanya bisa bermain-main dengan pikiranku sendiri, sulit untuk mencurahkannya ke orang lain. Aku takut tidak didengar. Aku takut diabaikan. Aku ingin bisa banyak bicara tapi aku bingung harus bicara apa.
Menurutku pribadi sih, terkadang orang yang terlihat ekstravert pun dalam beberapa kesempatan bisa menjadi seorang introvert. Begitu pun sebaliknya.

Saking diemnya aku, sampai-sampai seorang teman menganggapku misterius. Ya, jujur saja, seperti penggalan lagunya Maliq and D'Essentials, "sungguh ingin kusapa. Namun ku terdiam, tak kulakukan." Maaf yaa. 




Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: