Tidak Semua Hewan Hafal Jalan Pulang

Pertengahan April kemarin sempa kepikiran untuk menulis di blog tentang ayam-ayam dan kucing-kucingku yang hapal jalan pulang menuju rumah. Namun, belum sempat kumenuliskannya, seekor anak kucingku hilang, entah ke mana. Entah tersesat atau memang diambil orang. 
Jadi, aku mempunyai empat ekor kucing kecil, seekor kucing besar, dan beberapa ekor ayam. Aku sempat terkagum-kagum saat ayam-ayamku kembali ke rumah menjelang petang. Apakah ayam mempunyai ingatan yang kuat hingga hapal rumahku? batinku. 
Dulu juga aku mempunyai seekor kucing betina bernama Neno--yang sekarang sudah berada di atas langit. Dulu dia pernah menghilang dari rumah selama hampir dua hari. Kami sudah mencari ke mana-mana, tetapi tidak ketemu. Akhirnya kami pasrah, mengikhlaskan Neno pergi. Namun, di suatu malam, tiba-tiba terdengar suara lonceng. Krincing krincing. Ternyata itu suara lonceng yang terpasang di leher Neno. Dengan langkah gontai Neno masuk ke rumah, menghampiri kami. Kami heran kenapa Neno berjalan seperti itu. Setelah kami periksa, ternyata kaki Neno penuh bekas luka, seperti ada yang melempar batu ke arah Neno. Paginya ibuku mengikat sebuah tumbuh-tumbuhan--entah apa namanya--ke kaki Neno. Begitu seterusnya, diulang lagi, sampai beberapa hari. 
 
Foto terakhir yang kuambil. Karena beberapa hari setelahnya, Neno dipanggil oleh Yang Maha Kuasa


Kedua, Kreacher atau Eci, kucing kecil yang sekarang sudah menjadi ibu. Aslinya Eci adalah kucing milik temanmu. Aku ingat sekali, setahun--lebih beberapa hari--yang lalu, seorang temanku menitipkan seekor kucing untuk tinggal sementara di  rumahku. Dengan senang hati dan kebetulan aku baru saja kehilangan Neno, aku pun menerima tawaran temanku. Keesokan harinya, datanglah seekor kucing kecil berumur 3 bulan--saat itu--berwarna putih dan sedikit berwarna abu-abu di beberapa sisinya. Kucing itu bernama Eci atau pemilik sebelumnya lagi memanggilnya Kreacher. Kucing itu sangat lucu. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Terutama pada bulunya yang unik, lebat, dan lembut khas kucing ras. Setelah dilepas dari kandangnya, Eci mulai berlarian ke sana ke mari, masuk ke dalam rumah, lalu kembali ke ruang tamu, Eci juga sempat berlari menuju kamar mandi. Setelah merasa lelah, Eci pun terlelap tidur di atas kursi di ruang tamu. 

Singkat cerita beberapa bulan Eci tinggal di rumah kami, tiba-tiba Eci mulai suka memanjat. Dari satu atap ke atap lain, dan tentunya ke atap yang lebih tinggi. Kami heboh karena takut Eci tidak bisa turun dan kebetulan saat itu sudah malam. Namun, lama-kelamaan kami mulai terbiasa dengan kebiasaan baru Eci yang suka memanjat atap saat malam hari. Mungkin Eci ingin menatap bulan secara dekat. Setiap hari--tepatnya setiap malam hari--aku harus tetap terjaga, menunggu Eci pulang. Menunggu suara krincing itu terdengar, pertanda minta dibukakan pintu. 

Tanggal 21 April lalu, satu hari setelah aku kembali ke Jogja, ibuku menelponku, mengabarkan kalau si Bundel mati tertabrak motor. Aku merasa sedih saat mendengar itu. Hari berikutnya, ibuku kembali mengabarkan berita duka kalau Billy hilang, tidak tahu pergi ke mana. Ibu, Bapak, dan adikku pun telah berusaha untuk mencarinya, namun hasilnya nihil. Billy tetap tidak ketemu. Terhitung hari ini, sudah 13 hari Billy hilang. Dada ini masih terasa sesak saat melihat foto Billy. Begitu pun saat aku mengganti foto profilku dengan fotonya Billy, air mataku tidak bisa kubendung lagi. Aku sungguhan menangis saat melihat fotonya Billy. Aku tidak bisa membayangkan sepinya rumah nanti tanpa Bundel dan Billy. :( Ya, mungkin memang kucing kecil belum hafal jalan menuju rumahnya. 
Billy

Bundel


Apakah aku satu-satunya orang yang menangis saat kucingku pergi? 



Share this:

0 comments:

Post a Comment