Dua Kakek

Di Jogja ini, aku bertemu dengan dua kakek yang tetap beraktivitas tanpa terhambat oleh kondisi fisik dan kesehatannya. Setahun yang lalu, ketika aku datang ke Jogja dan menginap di sebuah rumah di daerah Jombor, milik orang tuanya mas Wawan dan mas Yayan--anak kos dan mantan anak kos di rumah saudaraku. Hari keduaku di Jogja, di suatu pagi yang cerah terdengar suara yang sangat nyaring "koran, koran". Seorang loper koran yang sudah berusia lanjut melintas di depan rumah. Koran-koran itu ditaruhnya di sebuah troli kecil yang beliau tarik ujungnya. Menurut ceritanya mas Wawan, hampir setiap pagi mas Yayan membeli koran dari kakek itu. Mas Yayan merasa iba melihat kakek itu menjajakan koran di sekitar daerah rumahnya. Sebenarnya kakek itu berasal dari keluarga yang berada, anak-anaknya pun juga sudah mapan, tetapi beliau tetap ngotot menjajakan koran mengelilingi kampung Jombor. Jadi, setiap pagi kakek itu diantar oleh anaknya untuk berjualan koran dan diturunkan di terminal Jombor. Dari situ beliau berjalan kaki dengan menarik troli kecil itu, beratus-ratus meter hingga ke daerah rumahnya mas Wawan. Lalu setelah senja telah datang, beliau dijemput oleh anaknya. Masih menurut ceritanya mas Wawan, kakek itu tetap menjajakkan koran karena dia tidak suka hanya berdiam diri di rumah, dan beliau beranggapan bahwa aktivitasnya itu hitung-hitung sebagai sarana untuk berolahraga agar tetap bugar.
Setelah aku menjadi mahasiswa di Jogja, hampir setiap hari, ketika aku akan berangkat ke kampus, aku sering sekali melihat seorang kakek yang tengah duduk di sebuah pelataran rumah warga setempat. Kakek itu terlihat tengah asik menikmati sebuah majalah--atau selebaran atau apalah namanya itu--yang dipegangnya. Aku tidak tahu apakah kakek itu benar-benar membacanya atau tidak, tetapi kakek itu terlihat menggerakkan bibirnya ketika menatap majalah itu. Suatu kali aku juga melihat kakek itu tengah menyapu halaman pendopo Padukuhan Karangmalang. Dengan keterbatasan fisiknya yang mengharuskannya menggunakan walker (alat bantu jalan) tanpa roda--yang sekilas mirip tempat jemuran--kakek itu tetap senang hati menyapu halaman pendopo itu. 
Hal yang membuatku takjub dan kagum dengan kedua kakek itu adalah walau kesehatan fisiknya tidak sebugar dulu tetapi mereka tetap bersemangat melakukan aktivitasnya masing-masing, tidak  hanya berdiam diri diri dan berpangku tangan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment