Belajar dari Surat Al-Fatihah

Monday, February 01, 2021


Bagi umat Islam, kita tahu bahwa surat pertama dalam Alquran yaitu surat Al-Fatihah. Dalam sebuah kajian, Ustadz Budi Ashari menyampaikan bahwa surat Al-Fatihah berasal dari kata al-fath yang artinya pembukaan atau mukadimah dan kata al-fatih yang artinya sang pembuka. Maka, Al-Fatihah memiliki makna pembuka yang agung. Ada beberapa pelajaran yang dipetik dari surat Al-Fatihah dalam hal pendidikan, yaitu:

1. Memulai pendidikan dengan nama Allah subhannahu wa ta'ala

Surat Al-Fatihah dimulai dengan ayat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم. Hal itu menandakan bahwa pendidikan harus dimulai dengan menyebut nama Allah subhannahu wa ta'ala. Mengapa demikian? Sebab, semua aktivitas yang kita lakukan itu berjalan atas izin Allah. Maka, setiap aktivitas kebaikan harus dimulai dengan membaca basmalah, menyebut nama Allah subhannahu wa ta'ala. Jika tidak, maka kebaikan tersebut akan cacat. Begitupun dalam memulai pendidikan. Dengan menyebut nama Allah juga, kita tidak akan sombong atas ilmu yang dimiliki karena Allah lah Al-Alim.

Membiasakan membaca basmalah sebelum memulai sesuatu juga menjadi sarana mengenalkan tentang Allah lebih dahulu dibanding yang lain kepada anak kita. Caranya dengan mengajari anak kita tentang 99 nama Allah. Melalui basmalah, kita mengenalkan kepada anak kita dua nama Allah yang pertama harus diajarkan, yaitu rahman dan rahim. Hal ini menunjukkan bahwa anak harus terlebih dahulu mengenal Allah sebagai sosok yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

2. Merasakan nikmat Allah yang melahirkan rasa syukur

Ayat kedua dari Surat Al-Fatihah berbunyi اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ. Hal ini menunjukkan bahwa setelah mengenal Allah, kita diajak untuk mensyukuri segala nikmat yang telah Allah limpahkan. Kondisi pandemi seperti saat ini juga menguji apakah kita tetap dapat merasakan melimpahnya nikmat Allah ketika dalam kondisi sempit, sedih, terpuruk. Dan orang-orang beriman seharusnya dapat bersyukur dalam setiap keadaan. Maka, sebagai orang tua, kita harus memiliki rasa syukur sehingga hati menjadi lapang dan nyaman sehingga kita dapat mendidik anak dengan lebih mudah. Pun ajarkan rasa syukur kepada anak kita. Sebab, dengan bersyukur, ternyata dapat menghilangkan sifat keluh kesah yang biasanya ada pada diri manusia.

Jika kita tidak mengajarkan anak tentang kebersyukuran, maka akan tumbuh generasi yang kurang bersyukur padahal rezeki melimpah. Bagaimana bisa bersyukur dalam keadaan sempit jika dalam keadaan lapang kita tidak bisa bersyukur. Orang yang beriman bahkan dapat mengucapkan hamdalah ketika dalam keadaan sulit. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah mengajarkan untuk mengucap "الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ (segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna) ketika mendapatkan hal yang kita suka serta mengucap "الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ (segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan)" ketika mendapatkan hal yang tidak disuka. Apa yang diajarkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tersebut menunjukkan bahwa kita harus senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan.

3. Mengambil ruh dari Rabbal alamin

Masih ayat kedua, dalam ayat tersebut terdapat kata رَبِّ yang berasal dari kata rabba, ya rabbu. Salah satu makna rabb diambil dari kata tarbiyah yang artinya pendidikan. Kata tarbiyah juga memiliki makna tumbuh. Maka, ayat kedua dalam surat Al-Fatihah memiliki makna bahwa Allah yang mendidik, Allah yang menumbuhkan. Dengan demikian, pendidikan itu memang harus bertumbuh kebaikannya. Pun dalam pendidikan kita harus diambil dari Rabbal alamin.

4. Membangun tarbiyatul akidah, membiasakan tarbiyatul ibadah, mengenalkan tarbiyatul akhlak

Dalam ayat ketiga dan keempat surat Al-Fatihah berbunyi الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ,مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. Hikmah dari kedua ayat tersebut yaitu tarbiyatul akidah atau pendidikan akidah yang seharusnya dimulai sejak kecil. Setelah akidahnya terbangun, kemudian membiasakan tarbiyatul ibadah sampai anak merasakan kenikmatan beribadah. Salah satunya yaitu membiasakan salat. Mengapa? Sebab, salat itu amal pertama yang akan dihitung. Seperti dalam ayat kelima, yaitu اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ. Maka, kita membiasakan anak untuk beribadah. Mulai dari belajar hingga merutinkan kenikmatan untuk beribadah. Jika anak sampai usia dewasa masih "bercanda" dalam ibadah, maka ada yang salah dalam tarbiyatul ibadah.

Selanjutnya, dalam ayat kelima juga dijelaskan tentang tarbiyatul akhlak. Ketika kita meminta pertolongan hanya kepada Allah menunjukkan baiknya akhlak kita kepada Allah. Namun, ketika kita tidak meminta pertolongan Allah dan merasa dapat menjalani dengan baik-baik saja, maka manusia berpeluang untuk melampaui batas dan mendekat kepada taghut.

5. Doa di sepanjang jalan pendidikan

Lalu dalam ayat keenam dan ketujuh yang berbunyi اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ. Seluruh usaha yang kita kerahkan untuk mendidik anak, terkadang tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan kita. Maka, sertakan doa, minta kepada Allah untuk dibantu dan ditutupi kekurangan kita sehingga kita mendapatkan hasil sesuai harapan, bahkan lebih dari itu. Mudah bagi Allah untuk mengabulkan doa kita. Ayat keenam tersebut juga mengajarkan kita tentang doa pertama dan utama sebelum kita meminta yang lain, yaitu agar kita selalu diberi hidayah dalam jalan yang lurus.

6. Tiga jenis manusia hasil tarbiyah

Dalam proses kehidupan pendidikan kita, selalu berujung pada tiga jenis, yaitu orang yang diberikan kenikmatan, orang yang dimurkai Allah, dan orang yang sesat. Ada dua kunci keberhasilan dalam mendidik diri sendiri dan anak, yaitu ilmu dan amal. Ibnu Katsir mengatakan bahwa orang yang dimurkai yaitu orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Sebaliknya, orang yang sesat yaitu orang yang beramal, tetapi tidak memiliki ilmu. Lalu orang yang diberikan kenikmatan yaitu orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

7. Pendidikan dengan menggunakan pola dan keteladanan

Ayat keenam dan ketujuh juga memiliki makna bahwa untuk mengetahui apakah jalan yang kita tempuh lurus atau tidak, menggunakan pembelajaran dengan melihat orang-orang sebelum kita. Mereka adalah orang yang telah diberikan kenikmatan, orang yang dimurkai, dan orang yang sesat. Bagaimana cara melihatnya? Dengan membaca Alquran. Dari sejarah yang diceritakan dalam Alquran, kita akan belajar pola dan keteladanan. Apalagi pada masa baligh, anak lebih banyak belajar pada "sosok".

No comments:

Powered by Blogger.