Yang Tidak Direncanakan (Part 2): Menjadi Pustakawan





Di tahun terakhir kuliah, pertanyaan yang sering muncul di antara mahasiswa terakhir adalah "skripsinya udah sampai mana?" atau "habis lulus nanti, mau langsung kerja atau lanjut ambil S2/Profesi?". Dan ketika pertanyaan tersebut diutarakan kepadaku, hampir selalu kujawab, "aku ingin kerja jadi jurnalis di Republika atau jadi editor buku, terus baru lanjut profesi, ambil Psikologi Perkembangan". Namun, ternyata jalanku untuk mencapainya tidak lah mudah. Bahkan ketika aku telah melalui proses ujian skripsi, jalan menuju keinginan tersebut sangatlah sulit. 

Menjadi pustakawan bukanlah pekerjaan yang kuimpikan. Pun tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Meski memang aku memiliki impian bekerja di antara buku-buku atau di antara kata-kata yang tertuang di laptop. Namun, pekerjaan impianku selain menjadi psikolog yaitu menjadi penulis, jurnalis, atau editor buku.

Semuanya terjadi begitu saja. Revisi, fase setelah ujian skripsi, yang kupikir mudah untuk dilewati, ternyata sangat sulit untuk dilewati. Bahkan sekadar menjejak satu langkah. Ketika memasuki fase itu ternyata banyak batu dan kerikil yang menghalangi langkahku, yang harus kusingkirkan satu per satu untuk menjejak ke langkah selanjutnya. Sampai pada akhirnya aku harus merelakan impian menjadi jurnalis kandas begitu saja karena urusan skripsiku belum selesai ketika pendaftaran di media tersebut ditutup.

Di fase revisi itu pula aku mencari pekerjaan yang tidak mensyaratkan pendidikan S1 sampai seorang senior membuka lowongan pekerjaan menjadi pustakawan di perpustakaan yang sedang beliau rintis. Awalnya aku tidak begitu tertarik mendaftar karena jaraknya yang jauh dari kosku. Namun, sekitar seminggu setelah penutupan, sang senior kembali membuka lowongan pekerjaan di perpustakaannya. Saat itu, tanpa pikir panjang aku segera mengirim curriculum vitae-ku. Dan ternyata jalannya sangat dipermudah, hanya menghitung hari untuk aku dapat bekerja di perpustakaan tersebut. 

Menjadi pustakawan ternyata tidaklah semudah yang dipikirkan. Apalagi Rumah BaCa, tempat kerjaku merupakan perpustakaan yang sedang dirintis. Jadi jobdesc yang harus dilakukan bukan sekadar melayani pengunjung, tetapi juga melakukan pekerjaan "dasar". Seperti mengategori, melabeli, menyampuli, serta mendata semua buku yang ada, yang jumlahnya tidak dapat dihitung dengan jari. Semua buku yang ada di Rumah BaCa hampir semuanya berbahasa inggris, hanya satu-dua buku yang menggunakan Bahasa Indonesia. Selain perpustakaan, Rumah BaCa juga membuka les Bahasa Inggris yang dikemas dengan aktivitas yang menyenangkan untuk anak-anak. Dan bertemu dengan anak-anak serasa menjadi moodbooster tersendiri bagiku. Walau tingkah polah mereka membuatku gemas kesal.

Setiap tempat menyimpan sejuta pelajaran yang dapat dipetik, termasuk ketika aku menjadi pustakawan di Rumah BaCa ini. Bertemu dengan anak-anak dan orang tuanya serasa me-recall materi mata kuliah Rentang Perkembangan Manusia yang pernah kudapat di semester dua dulu. Tentang perkembangan anak pada setiap aspeknya, parenting, speech delay, attachment, dan lain sebagainya. Bahwa memang setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, melakukan segalanya untuk sang anak. Bahwa secara tidak langsung perilaku anak meniru perilaku orang tuanya. Dan bahwa komunikasi antara anak dengan orang tuanya memang sangat perlu untuk menstimulasi perkembangan bahasa sang anak. Terutama melatih sang anak untuk berbicara. 

Selain dari anak dan orang tua yang berkunjung atau les di Rumah BaCa, aku juga memetik pelajaran dari founder Rumah BaCa yang juga suami istri. Salah satu alasan mengapa mereka membangun Rumah BaCa di daerah Rejowinangun yaitu agar dekat dengan sekolah sang anak. Setiap pulang sekolah pun sang anak selalu dijemput dan di-drop ke kantor. Lalu menunggu hingga kantor tutup, bahkan seringkali pulang beberapa puluh menit sampai beberapa jam dari jam tutup kantor. Dari situ aku dapat mengamati bagaimana parenting yang dilakukan bosku dan istrinya kepada sang anak. Terlebih dengan membawa sang anak ke kantor secara tidak langsung mengajarkan sang anak tentang bagaimana perjuangan kedua orang tuanya dalam membangun usaha. Selain tentang keluarga, ada hal menggelitik yang kupelajari secara personal dengan istri bosku, yaitu tentang taaruf. Iseng-iseng bertanya tentang bagaimana taaruf, beliau menceritakan dengan lengkap tentang taaruf dan berbagai kisah orang-orang yang pernah taaruf. Sampai pada akhirnya beliau menagihku untuk membuat proposal sekaligus menawarkan diri untuk menjadi perantaraku. Aku hanya garuk-garuk kepala dan tertawa ketika mendengarnya. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment