Yang Tidak Direncanakan (Part 1): Mengikuti LMD 188

Bagiku, tahun terakhir kuliah ini banyak sekali pelajaran kehidupan yang kudapat. Pelajaran yang tidak mungkin kudapat secara langsung di bangku kuliah. Selain mengenai kesabaran dan kebersyukuran yang mulai terasa kudapat di semester 7 dan terus naik-turun di semester 8, bahkan terkadang hingga detik ini. Ada satu hal lagi yang terasa menamparku, yaitu mengenai rencana. Tentang rencana yang kubuat, rencana yang Dia buat, dan tentang apa yang pada akhirnya terjadi.

Salah satu hal yang tidak pernah kurencanakan di bangku kuliah, terlebih ketika "kejadian di bulan Juni terjadi", yaitu mengikuti Latihan Mujtahid Dakwah yang diselenggarakan oleh Salman ITB. Namun, ketika di bulan Agustus seorang teman mengirim broadcast pendaftaran acara tersebut ke grup. Berawal dari keinginan sederhana untuk menjadi baik dan ingin bertemu dengan orang-orang yang baik dan berproses menjadi baik, aku pun "iseng" mendaftar. Dan yang mengejutkan ternyata aku diterima. 

Singkat cerita, Kamis sore, satu hari sebelum acara, aku bersama dua temanku berangkat ke Bandung menggunakan kereta. Mendekati Bandung, perutku mulai terasa tidak keruan, minum obat pun tidak memperbaiki keadaan. Sekalinya dapat tidur, tidak dapat yang nyenyak, beberapa kali harus bangun-tidur-bangun-tidur. Sesampainya di Stasiun Kiaracondong, perutku masih terasa tidak enak. Ingin rasanya ke kamar mandi tetapi ternyata temanku mengajak kami untuk mencari mushola atau masjid di luar stasiun. Sayangnya, realita memang tidak seindah yang diekspektasikan. Mushola pertama yang kami temukan ternyata tutup. Mushola kedua yang kami temukan sudah buka tetapi kamar mandi yang tersedia membuatku merasa tidak nyaman. Akhirnya aku dan seorang temanku yang perempuan pergi mencari mushola yang lain, sementara temanku yang laki-laki tetap berada di mushola kedua dan menjaga barang-barang kami. Mushola ketiga yang kami temukan ternyata tidak jauh berbeda dari mushola kedua. Beberapa kali meminta izin menumpang di rumah warga dan warung di sekitar stasiun, ternyata tidak ada yang memberikan tumpangan ke kamar mandi. dengan alasan yang beragam. Menjelang Subuh perutku pun semakin tidak bersahabat, akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke stasiun. Alhamdulillah-nya petugas stasiun memberikan kami izin ke kamar mandi walau pada awalnya tidak mengizinkan kami masuk. 


Usai urusan perut selesai, adzan Subuh berkumandang. Kami pun segera kembali ke mushola kedua. Sekitar jam 5, kami kembali melanjutkan perjalanan selanjutnya, yaitu menuju Salman ITB. Sesampainya di Salman ITB, terasa begitu sepi. Kantin belum buka, minuman hangat belum terhidang, orang-orang belum berdatangan. Namun, kami bertemu dua panitia LMD. Mereka pun membawa kami ke Asrama Salman. Aku dan temanku yang perempuan mengikuti panitia LMD yang perempuan menuju lantai 4. Sementara temanku yang laki-laki mengikuti panitia LMD yang laki-laki menuju lantai 3. Berada di Salman ITB dari pagi hingga malam hari. Dari sebelum acara dimulai, acara sudah dimulai, sampai kami harus menempuh perjalanan ke tempat selanjutnya. Banyak hal yang kukagumi dari Salman ITB. Baik masjidnya, asramanya, bahkan unit-unitnya.

Tiga hari dua malam di Bandung, di sebuah tempat yang tidak boleh diceritakan, banyak hal yang menarik selama aku mengikuti acara LMD. Pertama, dari segi peserta. Pertama kali melihat daftar peserta yang lolos LMD 188, aku cukup kaget karena kebanyakan pesertanya angkatan 2015-2016, bahkan ada yang 2017. Angkatan 2014 hanya beberapa orang, sementara angkatan 2013 hanya aku dan temanku yang datang. Namun, sangat seru ketika satu kelompok dengan mereka yang masih muda-muda. Semangatnya membara, pemikirannya luas dan bagus dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan panitia. Walau sesekali diselingi candaan ketika diskusi berlangsung. Kedua, dari segi panitia, yang ternyata angkatannya 2014-2016. Mereka juga keren karena dapat menyelenggarakan acara seperti LMD. Pun para peserta sering diingatkan untuk terus beristighfar, terutama ketika kami sedang melewati trek yang berat. Dan ketika kucoba, ternyata efeknya sangat terasa. Ketiga, dari segi pemateri dan materi. Sesuai dengan temanya yaitu "ijtihad teknologi", dan jargonnya yaitu "merdeka untuk peradaban", materi yang diberikan tidak jauh-jauh dari itu. Satu kalimat yang masih kuingat dari salah satu pemateri yaitu bahwa hijrah itu bukan hanya hijrah fisik dan hijrah perjalanan, tetapi juga hijrah pemikiran dan paradigma.

Hal yang paling mengharukan di LMD 188 yaitu ketika penutupan, ketika peserta, panitia, danlap (komandan lapangan) bersama-sama melakukan push-up tetapi dengan suasana yang menyenangkan. Namun, hal yang tidak mengenakan ketika LMD bahkan ketika sudah kembali di Jogja yaitu perutku yang sangat tidak bersahabat. Minggu malam, beberapa jam usai acara selesai dan kami telah membersihkan diri, kami pun kembali ke Jogja. Bersama dua teman dari Undip, kami menaiki kereta yang sama walau dengan gerbong berbeda. Lalu kami berpisah di Stasiun Kutoarjo, aku dan dua temanku melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan menaiki Prameks, sementara dua temanku dari Undip melanjutkan perjalanan ke Semarang dengan menggunakan bus.

Secara keseluruhan aku tidak menyesal mengikuti acara LMD 188 ini karena banyak hal menarik yang terjadi selama LMD berlangsung. Pun banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik. Dan ya, aku sedikit tidak menyesal masih menyandang status sebagai "mahasiswa S1" karena masih dapat mengikuti LMD. Walau begitu, status ini harus segera diakhiri demi terwujudnya cita-cita, yaitu menjadi psikolog. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment