Tentang Sebuah Karakter dan Masa Depan

Kalau ditanya apa yang akan aku ambil sebagai konsentrasiku, mungkin psikologi perkembangan akan menjadi jawabannya. Ada beberapa alasan mengapa aku memilih psikologi perkembangan. Pertama, (mungkin) jika aku memilih psikologi perkembangan akan berguna ketika aku telah berkeluarga, setidaknya (mungkin) aku punya bekal yang cukup untuk mendidik anakku kelak jika aku mempelajari ilmu ini. Ya, walau apa yang ada dalam teori tidak selalu kenyataannya nanti. Kedua, dari beberapa film yang pernah kutonton, tokoh bermasalah dalam cerita tersebut biasanya memiliki kehidupan masa kecil yang kelam atau didikan masa kecil yang kurang. Aku juga beranggapan bahwa kepribadian seseorang saat ini dipengaruhi oleh masa lalunya, masa kecilnya. Aku sangat percaya bahwa masa kecil seseorang itu akan menentukan kehidupannya kelak, sehingga menurutku masa kecil itu penting. Walau tidak bisa kupungkiri ada beberapa hal lain selain masa lalu yang membentuk kepribadian seseorang.
Dan setelah kemarin (5 Juli, red) aku datang ke acara Dialog Kebangkitan #2, sang pembicara, bu Septi Peni Wulandari seakan menguatkan pendapatku bahwa masa kecil itu memiliki pengaruh yang cukup besar bagi seorang anak. Jujur saja aku merasa iri dan membatin “kok ada ya laki-laki kayak gitu?” saat beliau bercerita bagaimana sang suami mengkhitbah beliau dulu. Suami beliau sangat yakin akan mencetak generasi yang bisa membangun peradaban dengan beliau. Bu Septi Peni Wulandari adalah founder Komunitas Ibu Profesional, pada acara kemarin beliau menyampaikan beberapa cara untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Aku begitu terkesan dengan pendidikan dalam keluarga yang beliau terapkan. Begitu visioner, tertata, dan memiliki target dan tujuan yang jelas. Beliau dan sang suami juga memberi kebebasan anaknya untuk memilih, termasuk dalam hal sekolah. “Anak itu tidak pernah kecil. Anak hanyalah orang dewasa dalam casing anak kecil. Anak bisa jadi decision maker sejak kecil,”ujar ibu tiga orang anak ini. Walau anak-anaknya tidak menjalani pendidikan formal, tetapi mereka tidak hanya duduk manis di rumah, mereka melakukan kegiatan yang bermanfaat yang menjadi passion mereka. Beliau dan sang suami lah yang menjadi guru bagi anak-anak mereka, mereka juga memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan usia sang anak. Tidak mengherankan mereka tumbuh begitu luar biasa, dan telah memiliki komunitas dan tujuan yang jelas di usia belia. Aku merasa malu dan minder dengan diriku sendiri. Namun, dari apa yang disampaikan beliau menggugah semangatku lagi untuk meningkatan kualitas diri agar bisa menjadi seorang ibu yang melahirkan anak-anak berkualitas kelak :D
Aku jadi teringat perkataan salah seorang psikolog bahwa urusan menikah itu bukan masalah ‘muda atau tidak’, bukan hanya urusan cinta. Tapi apakah diri kita (perempuan) telah memiliki karakter yang kuat untuk membentuk keluarga, melahirkan anak-anak yang berkualitas. Jika diri kita tidak memiliki karakter yang kuat, kita akan mudah untuk disakiti, diperlakukan semena-mena, dan tentu saja akan berdampak pada diri anak-anak kita itu nanti.

Share this:

0 comments:

Post a Comment