Paham Tapi Tak Benar-benar Paham


Harus kuakui menjadi seorang introvert terasa amat menyedihkan saat begitu banyak hal yang kamu pikirkan, berputar-putar di otak dan ‘memaksamu’ mencurahkan pikiran itu, kamu hanya bisa mencurahkan dalam bentuk tulisan. Saat berhadapan dengan orang lain, seakan pikiran itu sirna dan tergantikan oleh pikiran ‘I don’t know what to say’, sehingga banyak orang yang mencapmu sebagai pendiam. Dan saat di depan umum, kamu tahu betapa gemetarnya aku, betapa gugupnya aku hingga sering membuat bicaraku terdengar gelagapan dan artikulasi sangat tidak jelas. Aku sangat membenci diriku yang seperti itu. But I don’t how to change my self. It’s really hard. Dan yang paling menyedihkan dari seorang introvert adalah saat seorang dosen mengatakan 75% pasien RSJ adalah seorang introvert. Ya, tapi tentu saja tidak semua orang introvert tidak seperti itu dan tidak sepertiku.
Pagi tadi, saat menemani ibu di pasar, banyak sekali hal yang kupikirkan, yang entah saling berkaitan atau tidak, yaitu mengenai korupsi dan bulan Ramadhan. Sore kemarin seorang pengacara kondang ditahan KPK karena kasus suap. Sebuah hal yang menggelikan dan terkesan ‘lucu’ saat sesorang yang bergelut di dunia hukum malah terjerat sebuah kasus yang kuyakin beliau sangat memahami kalau itu hal yang melanggar hukum. Dulu pun ada seorang ketua partai berbasis Islam yang terjerat kasus korupsi sapi. SAPI. Seseorang yang dipandang paham urusan agama pun masih bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya beliau tahu kalau itu salah menurut agama, hukum, dan sosial. Kadang suka bertanya-tanya dan heran mengapa seseorang yang dianggap paham hukum, paham agama, masih terjerat kasus hukum, kasus korupsi, kasus suap. Kalau kuamati kasus korupsi dan suap yang menjadi pemberitaan di berbagai media kebanyakan berasal dari kalangan yang bergelut di dunia politik, hukum, dan pemerintahan. Jarang juga pemberitaan di media tentang kasus korupsi yang dilakukan oleh dokter, psikolog, bidan, atau tenaga medis lain. Mungkin karena lingkungan tersebut sering terdapat proyek atau kegiatan yang melibatkan uang. Jadi seakan membuka kesempatan untuk ‘memperebutkan’ si uang. Aku jadi teringat perkataan seorang guru ekonomi SMA saat kuutarakan ingin menjadi akuntan. Beliau mengatakan kalau menjadi seorang akuntan harus kuat iman karena pasti banyak pihak yang akan menyuap agar laporan keuangannya dimanipulasi.
Terkadang, kalau dipikir-pikir banyak juga manusia yang mendalami suatu bidang, suatu hal, tapi hanya sebatas tahu dan ‘paham’. Namun tidak benar-benar memahami. Tidak benar-benar mengaplikasikan hal (baik) yang mereka ketahui dan mereka pahami. Dalam kehidupan sehari-hari pun banyak manusia yang mengetahui suatu hal buruk, tidak baik, tetapi mereka tetap melakukannya. Pun banyak manusia yang mengetahui suatu hal baik, tetapi tidak mau melakukannya. Nobody’s perfect. Layaknya manusia yang lain, aku pun sering melakukan dan mengetahui suatu hal yang buruk tetapi tetap melakukannya. Ya, kadang memang hal buruk itu mengasikan.
Tidak terasa sebentar lagi bulan Ramadhan akan berganti menjadi Syawal, pertanda bulan puasa akan segera usai dan puncaknya saat Hari Raya Idul Fitri datang. Seperti biasa, setiap tahunnya hampir semua umat muslim di Indonesia menyambut lebaran dengan berburu pakaian baru, sepatu baru, dan hal-hal berbau ‘baru’. Entah sejak kapan kebiasaan ini menjadi tradisi menjelang lebaran. Pun di pasar ramai oleh pembeli yang berburu bahan makanan untuk lebaran, entah daging sapi, daging ayam, sayuran, dan bahan makanan lain. Tidak hanya itu, rumah makan pun ramai oleh orang-orang yang mengadakan buka bersama. Sebaliknya, masjid-masjid dan mushola-mushola makin sepi akan jamaah salat tarawih ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Padahal seharusnya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan kita harus memperbanyak ibadah, dan dianjurkan i'tikaf di masjid. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Tradisi buka bersama ini biasanya berasal dari berbagai jenjang pendidikan yang kita lalui sampai organisasi yang kita ikuti. Makin banyak organisasi yang kita ikuti, makin banyak undangan buka bersama, makin banyak pula uang yang dikeluarkan. Buka bersama pun terkadang menjadi ajang reuni teman sekolah yang sudah lama tidak berjumpa. Dari situlah terlihat jelas ke-kolektif-an masyarakat Indonesia. Itu sisi positifnya. Sisi negatifnya mungkin saat sedang ada acara buka bersama kita seakan mengabaikan salat tarawih. Memang itu hal yang sunnah dan bisa dikerjakan di rumah, tetapi jika kita hitung berapa banyak buka bersama yang dilalui, maka sebanyak itu juga salat tarawih berjamaah di masjid yang kita lewatkan.
Seakan memang urusan makan dan penampilan itu yang utama. Padahal, ada yang lebih penting, yaitu urusan hati dan jiwa kita. Apakah saat Ramadhan kita telah berbuat baik, mengumpulkan banyak amal, memperbanyak ibadah? Dan setelah bulan Ramadhan itu usai kita tetap istiqamah melakukan hal tersebut? Tetap istiqamah dalam beribadah dan menambahnya? Ataukah itu hanya efek bulan Ramadhan? Apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik? Ataukah kita tetap menjadi pribadi yang sama bahkan mungkin lebih buruk? Wallahu a’lam.
Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, karena aku pun banyak salah, jauh dari sempurna, tetapi tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terlebih saat bulan Ramadhan meninggalkan kita. Sekali lagi, nobody’s perfect, tetapi bagaimana kita menjadikan ketidaksempurnaan kita itu menjadi pemacu kita menjadi orang yang lebih baik, dan mungkin terlihat ‘sempurna’. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H yang sebentar lagi akan datang. Maafkan atas semua kesalahan, atas semua tulisanku yang mungkin menyinggung banyak orang. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, jauh lebih baik sebelum bulan Ramadhan menghampiri kita, di-istiqamah dalam beribadah, dan dikuatkan imannya. Semoga tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, bulan yang mulia.

Share this:

0 comments:

Post a Comment