Siapa Harus Mengerti Siapa?

Pada banyak hal, situasi, atau pun kondisi, seringkali muncul pertanyaan "siapa harus mengerti siapa?" saat semuanya seakan ingin dimengerti. Seperti yang kualami beberapa minggu belakangan ini, baik dalam kepanitiaan, kuliah, atau pun kehidupan di perantauan. Aku ingin mereka mengerti keadaanku, namun seakan hanya mereka yang ingin dimengerti. 
Dalam sebuah atau beberapa buah kepanitiaan, beberapa orang ingin "dimengerti" kalau mereka tidak ingin melakukan sesuatu hal yang memang tidak mereka ingin lakukan. Atau memang sedang ingin istirahat, tidak ingin melakukan banyak hal. Aku pun sebenarnya begitu, ingin dimengerti kalau aku pun malas, tetapi di sisi lain aku juga ingin dimengerti kalau hal tersebut adalah sebuah pertanggungjawaban kepada orang banyak. Perasaan tidak enak tersebut kerap kali muncul ketika aku tidak bisa menjalankan apa yang sudah diamanatkan kepadaku. 
Pasca UTS, tugas kuliah mulai berdatangan. Satu per satu dan semakin banyak. Ditambah lagi dengan dimulainya Praktikum Biopsikologi, yang mengharuskan kami menuliskan laporan dari praktikum tersebut dan membukukannya setelah semua praktikum--dan revisiannya telah selesai dilakukan. Dan mendekati akhir bulan November ini, hampir semua mata kuliah ada praktikumnya, bukan hanya Biopsikologi. Asesmen Dasar dan Psikologi Pendidikan pun tidak mau kalah ingin di-praktikum-kan juga. Asesmen Dasar dengan OW (Observasi dan Wawancara)-nya, dan Psikologi Pendidikan dengan observasi ke berbagai instansi pendidikan. Ya, sebagian mahasiswa mungkin ingin dimengerti kalau tugas yang diberikan kepada mereka itu banyak, namun di sisi lain pihak fakultas pun punya alasan yang baik mengapa mereka membebankan itu semua. Ya, kita sama-sama harus saling mengerti.
Hidup di perantauan memang tidak segampang yang kupikirkan dulu, tidak seenak yang kubayangkan dulu. Banyak rintangan yang harus kulewati, banyak halangan yang selalu membuatku ingin menyerah. Salah satunya mengenai finansial. Tidak tahu kenapa pengeluaran dua bulan terakhir ini terasa "lagi banyak-banyaknya" padahal kondisi finansial keluarga sedang tidak baik, beasiswa yang "terkesan banyak" itu pun semakin menipis karena terlalu sering kukuras. Tagihan listrik selalu menjadi polemik buatku. Setiap harinya tagihan listrikku bertambah 2500 karena telat bayar. Membuat tagihan listrikku membengkak dan semakin banyak. Beberapa kali kubilang kalau kondisi finansial keluargaku sedang tidak baik, tidak bisa mengirim uang, namun tetap saja aku ditagih. Tanya mau bayar kapan. Namun tak kujawab. Aku meminta pengertiannya, namun tidak dimengerti. Kondisi finansial keluargaku memang sedang tidak baik hingga membuatku tidak enak hati saat meminta dikirimkan uang saat kubilang uangku tinggal tiga ribu, tinggal empat ribu. Karena kutahu mereka harus mencari ke sana ke mari untuk mendapatkan uang, agar dapat mengirimkan uang ke anak sulungnya ini. Rasa tidak enak hati ini seperti berbanding terbalik dengan kebutuhan yang memang harus kupenuhi di tanah rantau ini. 
Tidak jarang hal itu membuatku terenyuh, sedih, air mata ini pun tidak mampu kubendung lagi. Betapa mereka berjuang mencari uang demi anaknya ini. Dan saat perasaan sedih ini sedang berkecamuk, pikiranku pun melayang. Membawaku ke masa lalu. Membuatku sedikit menyesal berkuliah di perantauan, kenapa tidak di Purwokerto saja. Mengapa aku begitu keras kepala, ngotot ingin kuliah di luar kota, di Jogja, di UGM. Mengapa aku selalu merepotkan bapak-ibu. Selalu menyusahkan mereka. Dan saat sedang seperti itu, perasaan bersyukur bisa kuliah di Psikologi UGM dengan jalan masuk yang terbilang amat mulus, ditambah beasiswa yang membuatku tidak perlu membayar UKT pun seakan sirna, tertutupi oleh rasa ketidakbersyukuran itu. 
Ya, memang wajar jika semua orang ingin saling dimengerti. Namun, tidak semua keadaan mampu mewujudkan pinta kita tersebut. Terkadang kita harus menekan keegoisan tersebut, mencoba mengerti orang lain. Tidak melulu minta tuk dimengerti. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment