Tentang Tiga Buah Novel

Beberapa hari ini aku tengah sibuk melahap empat buah novel yang kupinjam dari dua temanku. Tiga diantaranya telah kuselesaikan. Tiga novel itu memiliki benang merah yang sama, yaitu romantika cinta yang dibalut dalam nuansa religi. Walau memiliki konflik yang berbeda.
Dua diantaranya adalah sebuah novel trilogi karangan Afifah Afra yang berjudul Tarian Ilalang dan Cinta Ilalang. Sayang sekali, edisi pertama dari novel trilogi itu tidak sempat dipinjamkannya kepadaku. Dan sekarang aku ingin sedikit membahas dua novel karangan Afifah Afra dan sebuah novel karangan Ririn Rahayu Astuti Ningrum. 

*Tarian Ilalang dan Cinta Ilalang*

Novel ini mengisahkan tentang Rachel, seorang gadis berusia 28 tahun yang berasal dari kalangan konglomerat. Ayahnya, Gerald Saputra adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan besar. Sebagai anak tunggal, Rachel adalah pewaris tunggal imperium bisnis sang Ayah. Namun, Rachel bukanlah orang yang materialistis, sombong, dan menyukai bisnis. Rachel adalah sosok gadis yang memiliki idealisme tinggi, berjiwa sosial, dan keras kepala. Rachel lebih memilih bekerja sebagai jurnalis dibanding harus memimpin perusahaan ayahnya.
Rachel sempat bertunang dengan Raditya Guntoro yang menjadi Direktur Utama salah satu perusahaan milik ayahnya. Namun, pertunangan itu harus mereka akhiri karena Raditya ketahuan selingkuh dengan Santika. 
Tarian Ilalang



Tarian Ilalang. Dalam novel ini, Rachel bertemu dengan seorang pengamen cilik bersuara emas yang bernama Surti. Siapa sangka rasa penasarannya terhadap Surti membawanya kepada sebuah kawasan kumuh bernama Gang Mayat, dan mempertemukan Rachel dengan masa lalunya, yaitu Haryadi Kelana. Sebuah kejadian di Gang Mayat membuat Rachel sempat membenci ayahnya karena Rachel menganggap ayahnya sebagai penyebab meninggalnya 12 warga Gang Mayat yang ditemukan tenggelam di sungai besar yang penuh sampah itu. Namun, Raditya yang telah mengundurkan diri menjadi Direktur Utama salah satu perusahaan milik ayahnya menguak kebenaran yang mengejutkan Rachel. Kebenaran tentang siapa dalang dibalik tercemarnya sungai besar di Gang Mayat, dan siapa sebenarnya Haryadi Kelana yang ternyata hanyalah seorang penipu. 

Cinta Ilalang. Sementara dalam novel ini, konflik yang diangkat lebih berliku. Bermula dari kesalahan yang dilakukan Dylan Estefan yang berakhir pada pemecatannya. Tidak sampai di situ, kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Daulat Pos menjadi semakin sering terjadi. Hingga membuat pesona Daulat Pos di mata publik seakan meredup, dan dampaknya angka penjualan Daulat Pos semakin berkurang. Sementara itu, pesaingnya yang baru merangkak, tabloid Pejuang, angka penjualannya semakin meningkat. Sebuah artikel yang ditulis oleh Rachel lah yang membuat Pejuang semakin digemari publik. Setelah pemecatan Dylan, Rachel pun ditunjuk oleh ayahnya untuk menjadi Pimpinan Redaksi di Daulat Pos. Tidak sampai di stu, Rachel pun ditunjuk menggantikan ayahnya sebagai Presiden perusahaannya. Rachel terpaksa menerima permintaan ayahnya, mengingat kondisi ayahnya yang semakin lemah. Rachel semakin sibuk, sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk berkunjung ke Gang Mayat. Suatu hari, artikel yang Rachel tulis ternyata menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Rachel diculik oleh sekawanan preman yang merasa tidak terima dengan artikel itu. Ternyata sekawanan preman itu adalah mucikari yang merekrut gadis belia dari Gang Mayat untuk dijadikan pelacur. 
Di sisi lain, Raditya masih belum bisa melupakan Rachel. Di tanah kelahirannya itu, Raditya direkomendasikan oleh adik-adiknya untuk meminang Fathiya, seorang dokter setempat. Awalnya Raditya menolak, namun lambat laun rasa cinta itu pun tumbuh saat melihat kecantikan dan ketulusan hati Fathiya. Akhirnya Raditya bertekad untuk meminang Fathiya. Raditya pun memberitahukannya kepada Ayub, seorang pekerjanya di perkebunan miliknya. Namun, keinginan ini lenyap saat Ayub menunjukkan sebuah undangan pernikahan antara dia dengan Fathiya. 

*Uhibbuka Fillah*

“Aku mencintaimu karena Allah”, begitulah tagline sekaligus arti kata dari judul novel karangan Ririn Rahayu Astuti Ningrum itu. Bercerita tentang romantika cinta yang dibalut dalam nuansa religi. Aini dan Hasan, keduanya dipisahkan oleh jarak dan waktu. Pertemuan terakhir mereka terjadi saat perayaan kelulusan sekaligus perpisahan Hasan dan teman seangkatannya. Setelahnya mereka tidak pernah bertemu kembali. Hanya lewat surat lah mereka tetap menjaga komunikasi, mengobati sedikit rindu yang menyesakkan jiwa Aini. Di bangku sekolah menengah atas, Aini bertemu dengan Dana. Teman satu atap di Luhur Sulaiman sekaligus teman satu atap di SMA 2 Kediri. Siapa sangka Dana menyimpan rasa terhadap Aini sejak masa orientasi sekolah. Ketenangan dan wajah ceria Aini membuat Dana jatuh cinta. Perlahan, Dana yang urakan berubah menjadi Dana yang alim dan rajin beribadah. Menjelang kenaikan kelas menuju tahun kedua, wajah ceria Aini mendadak menggerimis. Dana dan Rini—sahabat Aini, bertanya-tanya apa yang membuat wajah Aini menggerimis tiap kali keluar dari ruang Tata Usaha. Mungkinkah karena tidak ada lagi surat-surat yang dia terima seperti sebelum-sebelumnya? 
Walaupun tidak ada lagi surat yang Aini terima dari Hasan, tapi Aini tetap setia menunggu Hasan. Tetap setia memegang janji mereka berdua di masa sekolah menengah pertama. Tetap setia menunggu Hasan untuk menjemputnya. Menutup hati untuk laki-laki lain, menolak  ajakan beberapa laki-laki yang meminangnya. Termasuk menolak pinangan Dana, sahabatnya sendiri. Akhirnya, Aini pun menceritakan tentang Hasan dan kisah cinta mereka. Dana pun mengerti. Dana bertekad untuk mencari Hasan agar gerimis di wajah Aini hilang.
Dana mendatangi tempat-tempat yang diceritakan Aini. Pondok Pesantren Modern, SMPN 1 Kediri, dan kediaman Hasan yang berada di Jogja. Namun hasilnya nihil. Kediaman Hasan telah berpindah tangan. Tetangga sekitar pun tidak tahu ke mana perginya keluarga Hasan. Dana menyerah. Dengan tangan hampa Dana kembali ke Surabaya.
Suatu hari, Dana mendapat teman sekamar yang baru. Namanya Hasan. Dana penasaran siapakah Hasan sebenarnya. Rasa penasaran Dana membuahkan hasil. Ternyata Hasan teman sekamarnya adalah Hasan yang dia cari. Lalu Dana pun membawa Hasan kepada Aini. Tidak diduga beberapa hari setelah pertemuan itu, Aini jatuh sakit saat mengetahui Hasan telah meng-khitbah Atiqa. Lalu, apakah Hasan akan kembali pada Aini dan meninggalkan Atiqa? Ataukah Aini akan berpaling kepada Dana yang rela berkorban untuk Aini? 
***
Walaupun memiliki genre yang sama, tetapi konflik yang dihadirkan dalam novel Tarian Ilalang dan Cinta Ilalang lebih berat dan tidak melulu dengan cinta kepada lawan jenis. Namun, cinta kepada orang tua. Sering kali kita bersitegang, berbeda pendapat, membangkang, tidak menuruti perintah orang tua, tetapi tetap saja mereka tetap orang tua kita yang telah bekerja keras untuk kemajuan kita. Novel itu pun mengajarkan kita bahwa apalah arti harta dan jabatan kalau kita tidak bahagia, membuat kita gelisah, dan malah menjauhkan kita kepada sang pemberi harta dan jabatan itu. Selain itu novel itu memberikan pesan bahwa sadar atau tidak sadar kata-kata yang kita keluarkan kepada orang lain membuat orang itu sakit hati. Dampaknya akan menjadi bumerang untuk kita sendiri. Mereka berbalik menyerang kita. 
Sementara pada novel Uhibbuka Fillah cocok untuk para pemuda, para pecinta yang sedang dimabuk cinta bagaimana kita seharusnya menjaga cinta itu tetap bening hingga pada saatnya nanti cinta itu akan membawa kita kepada sebuah pernikahan yang suci. Tokoh Aini menggambarkan betapa dia sangat menjaga janji yang telah dia buat bersama Hasan, walau ternyata Hasan tidak menganggap janji itu pernah ada. Tokoh Dana pun menggambarkan betapa cinta bisa mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Dana rela berkorban untuk Aini walau Dana sendiri merasa sakit hati yang teramat dalam. Secara keseluruhan novel ini bagus, tapi bahasa yang digunakan terasa asing di telingaku--atau aku yang baru tahu kata-kata itu. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. salam kenal dan terima kasih reviewnya, Mbak :) jangan bosan membaca novel2 saya berikutnya :)

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga mba Ririn. Terima kasih juga telah berkenan mengunjungi blog saya. InsyaaLlah tidak akan pernah bosan. Ditunggu novel-novel selanjutnya mba :)

    ReplyDelete