Jalan-jalan dengan Berjalan

Yogyakarta, 4 Maret 2014 
Hari ini aku berjalan lebih lama dari biasanya, lebih jauh dari biasanya. Tidak sekadar dari kos-kosnya Nanda-kampus-kos. 
Selesai kuliah, sekitar jam 10 aku berniat pergi ke perpus pusat untuk mengembalikan dan memperpanjang buku. Namun, langkahku sedikit terhenti di depan FEB. Bukan, bukan karena aku masih merasa sedih tidak masuk jurusan Akuntansi tetapi karena aku melihat seekor burung kecil terjatuh di aspal jalan sosio humaniora, depan FIB. Aku ingin segera mengambil burung itu sebelum ada kendaraan yang melintas. Ternyata beberapa menit kemudian sebuah mobil melintas, untung saja tidak terlindas roda mobil tersebut. Aku sedikit bernafas lega. Kendaraan silih berganti dan salah satunya nyaris menabrak burung itu. Setelah tidak ada kendaraan yang melintas, aku memberanikan diri untuk mengambil burung yang terkulai lemas. Hanya beberapa menit burung kecil itu hinggap di ujung jariku. Burung itu lantas pergi, terbang ke pohon. Aku sedikit kaget karena burung itu masih bisa terbang. 
Aku kembali berjalan menuju perpus pusat. Mengembalikan buku Pengantar Psikologi Sosial dan memperpanjang buku Psikologi Kepribadian-nya Sumadi Suryabrata. 
Jam 1 nanti aku janjian dengan temanku di depan kampusnya--Fakultas Pertanian--untuk mengambil tiket RCOS. Sekarang masih jam 11 kurang. Jadi selesainya mengembalikan buku, sembari menunggu temanku itu, aku kembali melangkahkan kakiku ke kos seorang teman SMA yang berada di depan Fakultas Kehutanan. Jam 1 pun tiba, aku pergi ke kampusnya temanku bersama teman SMA-ku yang kebetulan akan berangkat kuliah dan kebetulan juga melewati kampus temanku. Namun, berkali-kali aku mengirim pesan belum terkirim, pending. Berkali-kali aku telepon tidak diangkat. Sudah jam 1 lebih, tetapi belum ada kabar dari temanku. Aku bingung harus menunggu di mana. Akhirnya aku mengikuti teman SMA-ku menuju kampusnya di FEB, dan berpisah di situ karena tidak mungkin aku masuk ke kelasnya. Sambil menunggu balasan dari temanku, aku pergi ke sebuah ATM yang berada di FEB. Namun, selesainya dari ATM belum ada balasan juga dari temanku. Sudah jam setengah 2. Latihan karawitan masih satu setengah jam lagi. Mau pulang ke kos, nanggung. Tiba-tiba ide gilaku muncul. Aku akan berjalan menuju Gramedia yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman. Sebenarnya letak Gramedia tidak terlalu jauh. Tapi lain cerita kalau ditempuh dengan berjalan kaki. 
Lalu aku kembali masuk ke dalam FEB, berjalan lurus, berbelok ke kiri, lalu berbelok ke kanan menuju ATM Mandiri yang berada di dekat gedung magister FEB. Mengulur waktu, kembali mengecek ATM yang beberapa menit sebelumnya sudah aku cek, sambil menunggu balasan dari temanku. Namun, hasilnya nihil. Nominal uang di ATM tidak mengalami perubahan dan temanku pun tidak kunjung memberi kabar. 
Aku kembali melanjutkan perjalanan, melewati Grha Sabha Permana, DAA, Gelanggang Mahasiswa, Wisma Kagama. Berkali-kali aku mengirim pesan belum juga terkirim. Setiap satu menit sekali aku telepon tidak juga diangkat. Lalu aku menyebrangi jalan Cik Ditiro, berjalan di belakang dua orang anak SMP. Dan aku merasa seperti seumuran dengan mereka. Karena postur tubuhku. 
Perjalanan masih panjang, halte trans Jogja belum terlihat, Gramedia apalagi. Aku kembali mengecek telepon genggamku. Nihil. Kembali menelpon temanku. Nihil. Setelah hampir satu jam berjalan dari Selokan Mataram, aku sampai di Gramedia. Tidak menyangka bisa ke sini dengan berjalan kaki dan sendirian. 
Sesampainya di Gramedia, aku langsung menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Menuju bagian buku. Tidak sabaran. Menuju bagian Psikologi, tidak ada buku yang aku cari. Menuju bagian novel, berderet beberapa judul novel dari penulis Tere Liye. Ah, sial banget gak ada duit, batinku. Lalu mencari novel Mockingjay. Ketemu. Ingin membelinya dan menghadiahkannya buat seseorang tetapi uangku tinggal sedikit. Aku dilema. Kalau aku membeli novel itu, uangku tinggal beberapa puluh ribu dan aku tidak tahu apakah dengan sisa uang itu aku bisa bertahan hidup. Jadi aku urungkan niat itu. Membelinya di lain waktu dan di toko buku yang berdiskon. 
Karena tidak ada buku yang kubeli, aku turun ke lantai dua, mencari alat tulis. Sedang asik-asiknya mencari alat tulis, hujan turun cukup deras. Membuat perempatan jalan Jenderal Sudirman banjir. Dan membuatku membatalkan niat pergi ke Togamas yang berada di sebelah timur Gramedia. 
Jam 2.45, aku bergegas meninggalkan Gramedia, menerjang hujan, menerjang banjir. Untungnya aku membawa payung tapi sialnya, sepanjang jalan Jenderal Sudirman tepatnya di trotoar jalan Jenderal Sudirman banjir, cukup tinggi. Setidaknya bisa menenggelamkan sepatumu. Aku bingung harus lewat mana karena trotoar yang tertutup oleh air. Mungkin karena sisa hujan abu yang masih melekat di pinggir-pinggir jalan sehingga membuat air hujan tidak bisa terserap. 
"Iya, mbak, gimana?",kata tukang becak begitu aku memberi kode untuk menghampiriku.
"Pak, kalo ke Gelanggang UGM berapa?"kataku.
"Mbaknya maunya berapa?"
"Emang biasanya berapa?"
"Biasanya 25 ribu mbak, tapi saya kasih 20 ribu aja. Gimana?"
"Mahal amat pak. Yaudah, pak, gak jadi."
Aku benar-benar menerjang banjir, menenggelamkan sedikit kakiku lalu melompat ke daerah yang lebih tinggi, tempat tertanamnya pepohonan di pinggir jalan. Menyebrangi jalan Jenderal Sudirman. Sepatu dan rokku semakin basah. Kembali melewati halte trans Jogja, kembali menyebrangi jalan Cik Di Tiro. Sepatu dan rokku semakin dan semakin basah. Lalu aku bergegas menuju Gelanggang karena sudah jam 3. 
Alhamdulillah, aku bisa sampai Gelanggang dengan selamat, tidak dehidrasi apalagi pingsan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment