Cerita Akhir Pekan

Akhir pekan kemarin rencananya aku akan pulang ke Purwokerto, tapi semuanya gagal ketika negara api menyerang  karena berbagai acara yang (terdengar) keren dan menyenangkan di akhir pekan ini. 

15 Maret 2014 
Hari ini aku sibuk sekali. Pagi-pagi sekali, sekitar jam 7 pagi aku pergi ke Maskam UGM karena ada gathering MC (Media Center) JS. Dan nanti siang, selepas salat dhuhur aku akan "menggelanggang". Sebelum berangkat aku menyiapkan baju yang akan kubawa nanti. Aku tahu pasti acara itu berlangsung hingga larut malam, sementara besok pagi jam 6.30 ada rihlah forga JS ke Kebun Buah Mangunan. Jadi kemungkinan besar aku menginap di kos temanku dan pagi harinya langsung berangkat ke Maskam.
Jam 7 kurang 10 menit aku bergegas ke maskam, takut-takut kalau dimarahin pak Kadep (Kepala Departemen) MC karena datang telat. Sesampainya di segi 8 maskam ternyata belum ada yang kumpul. Sial, kupikir udah telat. Lalu aku menaiki anak tangga menuju lantai 2, tapi tidak terlihat anak-anak MC akhwat. Kembali menuruni anak tangga, memutari maskam menuju sekre JS yang berada di lantai 1, sebelah kantor takmir maskam UGM. 
"Kumpul di mana mas?"tanyaku begitu lihat pak Kadep MC sedang duduk di bawah pohon.
"Yang lainnya mana?"
"Si Zahra katanya udah di sini mas."
"Oh, yang itu mungkin",jawabnya sambil menunjuk dua akhwat yang sedang duduk di segi 8 maskam. 
Aku  menghampiri kedua temanku yang sedang duduk di pinggir segi 8 maskam, Ririn dan Zahra. Jam 7.40 acara gathering MC dimulai. Pertama-pertama acara dibuka dengan bacaan basmalah yang dikomandoi pak Kadep dan dilanjutkan dengan menyampaikan beberapa agenda MC selama bulan April dan Mei.
"Mulai awal bulan April nanti, setiap hari Sabtu selama bulan April akan diadakan pelatihan jurnalistik untuk umum (aku lupa untuk umum atau hanya kalangan JS). Lalu, tanggal 10 dan 17 Mei akan ada pelatihan desain web. Tanggal 10 hanya untuk kalangan JS, sementara tanggal 17 dibuka untuk umum."
"Kalau sampe jam 8.15 yang lain belum pada dateng, ntar kita tinggal aja."
Hah? Aku kaget. Asem ki, kadep e ngapusi, jare ra metu-metu soko maskam. 
"Emang mau ke mana mas?"tanyaku dengan ekspresi tampang bingung.
"Ya ntar juga tau kita mau ke mana."jawab pak Kadep. 
Jam 8 lewat, hampir setengah 9, setelah menunggu pinjaman motor dan helmnya ikhwan, kami berangkat ke tempat gathering MC sesungguhnya. Pemancingan. Rasanya sedikit aneh karena sudah lama tidak memboncengi teman. Sepanjang jalan aku harus menyeimbangkan motor, membuatnya untuk tetap beradu di jalanan dengan motor lainnya. Sesampainya di sana kami menatap serius daftar menu makanannya. Memilih-milih makanan yang paling murah. Dan dalam hati berseru kaget karena harganya di atas Rp 20.000. Dan baru tersadar kalau ikan-ikan tersebut dijual per kg, bukan per potong.
Pak Kadep kembali membuka percakapan, meneruskan pembicaraan yang tadi. Sampai pak Kadep selesai berbicara pun, makanan belum datang. Baru beberapa menit setelahnya makanan datang. Kami, para akhwat mulai menyantap masakan ikan nila bakar yang kami pesan. Jam 11 kami bergegas kembali ke maskam.
Selepas salat dhuhur aku bergegas ke gelanggang. Aku mempercepat langkahku karena sudah jam 12 lebih. Saat hampir sampai gelanggang, aku melihat bus yang akan membawa crew dan pengisi pentas Ramayana baru datang. Aku dan teman-teman yang lain membantu mengangkat barang-barang yang akan dibawa ke Prambanan. Setelah semua barang telah masuk, bus mulai menyalakan mesin dan siap untuk berangkat.
Aku tidak sabaran untuk menunggu hari ini tiba, pergi ke Prambanan. Sedari libur kemarin aku sangat ingin pergi ke Prambanan, bukan ke Candi Prambanan. Namun, suatu tempat seseorang tinggal di Prambanan. Aku juga tidak tahu pasti di mana dia tinggal.
Bus berhenti di Taman Wisata Candi Prambanan, tempat pementasan Ramayana Ballet. Tadinya kupikir Ramayana Ballet akan diselenggarakan di Candi Prambanan. Ternyata tidak. Kami kembali menurunkan barang-barang dan meletakkannya di ruang ganti putra dan putri. Setelah semuanya selesai, aku dan teman crew yang lain pergi mencari udara segara. Berjalan-jalan di sekitar Taman Wisata Candi Prambanan sekaligus mencari lokasi yang bagus untuk bernarsis ria. Dari di pinggir sungai yang berlatar belakang Candi Prambanan lalu beralih ke jembatan yang menghubungkan Taman Wisata Candi Prambanan dengan Candi Prambanan.






Candi Prambanan pun hanya bisa kulihat dari jauh






Setelah puas bernarsis ria, kami kembali ke ruang ganti putri. Aku begitu takjub melihat para penari putri. Pandai berdandan. Begitu lihai menyapukan kuas eyeshadow di pipi mereka, mengukir jambang, dan memainkan pensil alis. Aku malu dengan diriku sendiri. Namaku Rias tetapi aku tidak bisa merias. Mungkin namaku perlu diganti.
Ramayana Ballet hari ini diadakan 2 kali, jam 4 sore dan jam setengah 8 malam. Ramayana Ballet sesi pertama pun dimulai, dibuka oleh tim karawitan UKJGS dan beberapa orang di luar UKJGS. Aku dan beberapa teman UKJGS yang lain duduk di sayap kanan panggung trimurti kursi paling belakang. Aku takzim mengamati para pengrawit, khususnya balungan. Bagaimana mereka memainkannya, bilah nada apa saja yang mereka pukul, lambat-cepatnya tempo yang dimainkan. Berganti dari nada slendro ke nada pelog lalu kembali ke slendro. Menatap kagum dan bergumam kapan aku bisa di posisi mereka.

Para penari pun mulai masuk sesuai perannya, dimulai dari adegan masuknya 6 bidadari dan 2 gendewo, lalu diikuti raja yang mengumumkan sebuah sayembara. Aku mengikuti dengan seksama setiap jalan cerita dari Ramayana Ballet. Mencoba memahami isi cerita Ramayana Ballet, menerka-nerka nama setiap wayang. Dan tetap saja tidak paham. Aku hanya memahami bahwa Ramayana Ballet menceritakan kehidupan rumah tangga Sri Rama dan Dewi Sinta, lalu Dewi Sinta diculik oleh Rahwana. Saat berada di tempat penculikan, Dewi Sinta hampir diperkosa oleh Rahwana. Namun, hal itu berhasil digagalkan oleh Trijatha yang senantiasa melindungi Dewi Sinta. Lalu Sri Rama memerintahkan Anoman untuk membawa pulang Dewi Sinta. Walaupun harus menempuh berbagai rintangan, Anoman berhasil membawa Dewi Sinta pulang. Sri Rama dan Dewi Sinta pun hidup bahagia selamanya. Tepat pukul 17.30, Ramayana Ballet sesi pertama selesai. 
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memberi kesempatan bulan untuk menampakkan diri, berganti peran menyinari bumi. Gelap. Malam tiba sangat cepat. Sekarang sudah jam 7 lebih. Sebentar lagi Ramayan Ballet sesi kedua dimulai. Aku bersiap kembali ke ruang pementasan. Berjalan melewati koridor, menengok ke arah kanan. Berdecak kagum. Candi Prambanan bersinar sangat terang, membuatnya semakin megah, mungkin karena efek lampu yang menyinarinya.



Pembawa acara kembali ke panggung, membuka acara Ramayana Ballet. Aku duduk di kursi yang sama seperti sesi pertama bersama 2 crew yang lain serta mantan kadiv (kepala divisi) tari putri UKJGS. Ramayana Ballet sesi kedua dimulai. Sepanjang pementasan mba Sholi bercerita mengenai Ramayana, membuatku menjadi paham dengan cerita Ramayana. Mba Sholi bercerita dari awal kisah Ramayana dimulai hingga kisah Ramayana berakhir, menjelaskan tokoh-tokoh di Ramayana, dan bagaimana sifat tokoh-tokoh itu. Banyak fakta unik yang baru kuketahui seperti penari yang memainkan Trijatha harus memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dibanding penari yang memainkan Dewi Sinta karena Trijatha digambarkan sebagai sosok yang selalu melindungi Dewi Sinta dari Rahwana. Walaupun Trijatha merupakan keponakan Rahwana, tetapi Trijatha memiliki watak yang baik karena mewarisi sifat ayahnya yang baik, yaitu Wibisono. Selain itu Trijatha adalah orang yang tegas, dan berani kepada Rahwana. Hal itu digambarkan dengan gerakan kepala Trijatha yang sedikit mendongak ke atas. Aku juga baru mengetahui bahwa Anoman menaruh hati kepada Trijatha, bahkan beberapa kisah wayang menceritakan bahwa Anoman dan Trijatha adalah sepasang suami istri.
Jujur saja, dari semua alur cerita Ramayana, aku paling suka adegan saat Buto Cakil bertarung melawan Anoman. Buto Cakil digambarkan sebagai sesosok tinggi, besar, dan berwajah sangar. Namun, saat berhadapan dengan Anoman yang bertubuh kurus, mereka tidak bisa mengalahkannya. Selalu ada saja tingkah laku Buto Cakil yang mengundang gelak tawa penonton, seperti salah satu Buto Cakil tiba-tiba saja (pura-pura) menangis karena tidak bisa menghajar Anoman.
Saat menyaksikan Ramayana Ballet aku jadi teringat mata kuliah Psikologi Sosial mengenai komunikasi nonverbal. Mungkin salah satu contoh komunikasi nonverbal yaitu ada di dalam sebuah tarian. Setiap gerakan memiliki arti tersendiri. Seperti mendongakkan kepala artinya dia seorang yang berani dan tegas. Menundukkan kepala artinya dia seorang yang penurut. Menegakkan telapak tangan artinya dia sedang marah. Sedangkan dari raut muka terlihat jelas saat seseorang itu sedang marah, senang, bingung, dan sedih.
Pementasan telah usai. Kami kembali ke gelanggang. Setelah mengeluarkan barang-barang yang ada di bus lalu menatanya kembali di ruang kesenian, lanjut ke acara evaluasi. Rasa kantukku mulai menggebu. Namun aku berusaha untuk tetap terjaga sampai evaluasi pementasan berakhir.

Jam setengah 12 acara evaluasi berakhir. Aku dan ketiga crew yang lain bergegas menuju tempat kos salah seorang dari mereka. Perjalanan kami sempat terhambat karena portal jalan yang ingin kami lalui telah tertutup. Tadinya sesampainya di kos temanku, aku berniat untuk langsung merebahkan diri di karpet. Namun, niat itu sedikit kuurung karena hanya aku seorang yang berniat untuk tidur. Mereka terus-menerus menyuruhku untuk tidur duluan. Terpaksa aku menuruti permintaan mereka mengingat jam setengah 7 nanti aku harus pergi ke maskam. Aku mengambil ponselku yang sedang di-charge, mengatur alarm. 
Jam setengah 6 pagi aku bangun tidur lalu bergegas ke kamar mandi, menumpang mandi. Sekitar jam 6 lebih, hampir setengah 7 aku diantar temanku kembali ke kos. Buru-buru mengeluarkan pakaian kotor yang ada di tas, memasukkan koran ke dalam tas, lalu bergegas ke maskam. Saat di tengah jalan, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk dari kakak tingkatku di JS kalau acara rihlah forga JS 3 generasi diundur menjadi jam setengah 9 karena jam setengah 7 ada kajian Ahad pagi. Kepalang tanggung aku meneruskan perjalanan menuju maskam. Kajian selesai, lalu kami berkumpul di sekre JS yang berada di sayap selatan maskam. Berhitung. Jumlah forga 2013 yang paling banyak datang. Setelah semuanya mendapat pasangan (tebengan), kami bersiap untuk memulai petualangan kami menuju Kebun Buah Mangunan. Sebelumnya kami membentuk sebuah formasi agar perjalanan lancar, aman, dan terkendali. Baris pertama dipimpin oleh ikhwan, disusul oleh akhwat di baris kedua, lalu disusul oleh ikhwan di baris ketiga, dan seterusnya sampai membentuk formasi selang-seling ikhwan-akhwat.
Begitu memasuki daerah Bantul, jalanan yang kami lalui mulai terasa tidak asik. Berlubang di sana sini, naik-turun, dan berkelak-kelok. Namun, jalanan yang tidak asik itu terbayar oleh panorama yang disuguhkan oleh alam. Kanan-kiri jalan hanya ada hamparan sawah yang menghijau, pohon-pohon tinggi menjulang, lebat hingga sinar matahari tidak berani masuk.
Akhirnya kami sampai di Kebun Buah Mangunan. Udaranya terasa sangat sejuk, tercium aroma durian dan beberapa aroma buah yang lain. Kami berbaris di lapangan kecil, kembali berhitung dan mendapat pengarahan dari mas Andre. Selesai menunaikan salat Dhuhur, kami kembali berkumpul di aula Kebun Buah Mangunan untuk makan siang. Kami makan bersama, berbagi makan dengan akhwat yang tidak membawa makanan, termasuk aku. Selesai makan bersama, kami kembali berkumpul di lapangan kecil. Kumpul bersama forga 2013 untuk merajut mimpi. Menuliskan apa saja yang ingin forga 2013 lakukan untuk JS ke depannya, dan kritikan untuk JS. Selesai merajut mimpi, kami melanjutkan perjalanan, menuruni jalanan yang tidak beraspal, memarkirkan motor kami, lalu menaiki jalanan yang penuh bebatuan. Aku dan seorang temanku tertinggal lumayan jauh dari rombongan depan. Jalanan yang kami lalui cukup panjang, sekeliling kami hanya ada pepohonan, lebih lebat dari jalanan menuju Kebun Buah Mangunan. Dan sepertinya ini bisa dianggap sebagai hutan. Kami melihat setitik cahaya dari atas bukit. Ternyata bukan itu tujuan akhir kami. Kami kembali menuruni jalanan bebatuan, berkumpul dengan teman yang lain. Mataku membalalak begitu berada di bawah. Berdecak kagum dan tidak henti mengucap subhanallah. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanya warna hijau. Seperti lautan pepohonan. Dari atas sini kami juga bisa melihat sungai yang berwarna coklat. Dan airnya terlihat seperti tidak mengalir. Mematung di situ.
Dan seperti biasanya, di forum apapun, bernarsis ria itu penting. Bedanya, di JS ini untuk berfoto bersama pun harus membuat formasi. Ikhwan berada di depan, sedangkan akhwat berada di belakangnya. Tentu saja harus jaga jarak.







Selesai berfoto kami bersiap untuk pulang. Kembali ke maskam. Dan semoga ada acara rihlah selanjutnya J


Share this:

0 comments:

Post a Comment