Phobia atau Hanya Sugesti?

Phobia, menurut pengertiannya yaitu suatu ketakutan tak beralasan terhadap suatu benda. Dalam psikologi, phobia termasuk ke dalam anxiety disorder (gangguan kecemasan). Seorang penderita phobia biasanya merasakan jantungnya berdebar kencang, kesulitan mengatur nafas, wajah memerah dan berkeringat, gemetar, dan pusing. Ngomong-ngomong soal phobia, sebenarnya aku juga mempunyai satu phobia yang kualami semenjak kelas 1 SMP, yaitu ophidiophobia/snakephobia atau phobia terhadap ular. Agak mengherankan juga sih, kenapa bisa mengalami ophidiophobia, padahal sebelumnya aku termasuk penggemar acara petualangan yang biasanya si petualang menangkap seekor ular. Tapi sebuah buku mengubah segalanya, membuatku menjadi phobia terhadap ular--sampai sekarang--buku itu yaitu buku cetak mata pelajaran Biologi terbitan Yudhi*tira. Di salah satu bab di buku itu--aku lupa bab apa--terpampang seekor ular warna hijau bergelayut di sebuah pohon, melingkarkan tubuhnya, memosisikan tubuhnya sehingga kepalanya berada di tengah. Saat aku melihat gambar itu, aku merasa merinding. Bulu kudukku merinding. Sontak aku melempar buku itu ke lantai kelas. Sejak saat itu aku merasakan ketakutan yang berlebih terhadap ular. Entah gambar ular, ular mainan, acara tv yang menampilkan ular, apalagi ular sungguhan. 
Saat duduk di bangku SMA, kupikir phobiaku hilang, ternyata tidak. Saat itu aku dan teman-teman sedang bersih-bersih kelas. Ada yang menyapu, membersihkan meja, membuang sampah yang ada di laci-laci meja, sementara aku dan seorang temanku membersihkan mading yang berada di belakang ruang kelas. Membuang semua brosur dan selebaran yang tertempel di mading. Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat seorang temanku masuk ke kelas sambil membawa ular mainan. Aku kaget. Aku menjerit. Aku berlari ke sudut kelas sambil menutup mataku. Tentu saja teman-temanku bingung kenapa aku berlari ketakutan saat seorang temanku itu membawa sebuah ular mainan. Seorang teman menghampiriku, mencoba menenangkanku dan mengatakan kalau ular mainannya sudah tidak ada. Aku mencoba membuka mataku walau masih merasa takut.
Hingga aku duduk di bangku kuliah pun, phobia ini masih ada. Tepatnya beberapa bulan yang lalu saat aku bersama temanku datang ke acara Gelanggang Expo (GelEx) di Gelanggang Mahasiswa. Di GelEx ini terdapat stand-stand dari tiap UKM dan Komunitas di UGM. Kami mengunjungi tiap stand yang ada di sana. Mulai dari yang ada di Hall Gelanggang, halaman samping Gelanggang, hingga kembali lagi ke halaman depan Gelanggang. Sampai pada saat kami berhenti di sebuah stand, dari kejauhan aku seperti melihat ular. Setelah kulihat agak lama, ternyata itu memang ular. Langsung saja aku lari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu. Meninggalkan temanku yang melihatku heran.
Mungkin salah satu alasanku masuk jurusan Psikologi karena ingin menghilangkan phobia. Dan di semester kemarin aku diajari cara menghilangkan phobia, yaitu dengan systematic desensitization dan flooding. Systematic desensitization adalah teknik untuk mengurangi/menghilangkan respon kecemasan secara bertahap dengan cara memunculkan respon. Dalam kasusku, teknik ini dilakukan dengan cara memperlihatkan gambar ular, kalau berjalan baik dilanjutkan dengan menunjukkan sebuah ular mainan, kalau berjalan baik lagi dilanjutkan dengan menunjukkan seekor ular sungguhan. Sedangkang flooding adalah prosedur di mana orang membuka stimulus ketakutan pada intensitas tinggi untuk memulai terapi. Di sini pasien langsung diperlihatkan dengan ular sungguhan. Agak ingin mencobanya sih, tapi belum siap untuk berhadapan dengan ular sungguhan.
Sebenarnya sampai sekarang pun, aku masih bertanya-tanya, apa memang ini adalah sebuah phobia atau ketakutan biasa yang menjadi berlebihan karena adanya sugesti yang ternanam di otakku kalau aku takut dengan ular? 

Share this:

0 comments:

Post a Comment