Kapan Wisuda?

“Jadi kamu wisuda kapan?” tanyaku memecah keheningan. Setelah kita berpuluh menit di tempat ini, namun tidak ada yang bersuara. Begitu canggung, tenggelam dalam pikiran masing-masing. 
Seketika kepalamu terangkat. Bibir sedikit bergerak, seakan ingin menjawab tanyaku. Namun, tidak ada suara yang terdengar darimu. Aku mendengus. Pasrah akan pertanyaanku yang hanya menguap tanpa jawaban yang kudapat. Kembali menunduk. Kembali hening. 
“November.” Setelah belasan menit, akhirnya kamu menjawab pertanyaanku. Sedikit mengobati kekesalanku padamu. 
Aku diam sejenak, tidak langsung menimpali jawabanmu. 
“Bolehkah aku menghadirinya?” Aku begitu ragu untuk mengatakannya. Lebih tepatnya aku malu, sekaligus takut akan jawaban yang kamu beri. Aku takut kamu berkata tidak. 
Tiba-tiba pandanganmu tertuju padaku. Menatapku lebih lama. Namun, dengan ekspresi yang tidak kumengerti. Terlihat sedikit keraguan. Aku kembali mendengus. Kembali menunduk, pasrah atas penolakan yang akan kudapat. 
“Tentu saja boleh.” Aku terkesiap demi mendengar suara itu. Suara menyenangkan darimu yang dulu sering kudengar. Aku mematung. Tertegun atas jawabannya. Mataku berbinar. Mengisyaratkan untuk mendapat penegasan. 
Kamu tersenyum lebar. Begitu menyenangkan. Berbeda jauh dengan terakhir kali kumelihatmu. Dan entah mengapa suasana lebih terasa mencair. Walau rasa canggung masih melingkupi. 
Hanya percakapan imaji. Di tengah keriuhan wisuda tiba-tiba muncul pertanyaan yang ingin kutujukan untuk seseorang. Bagaimana skripsimu? Kapan wisuda? Boleh datang?

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments: