Me-Time Paling Buruk

Saat seperti ini selalu teringat jargon acara Sekolah Kawruh Jiwa sekitar satu bulan yang lalu. Langgeng bungah susah. Kesedihan dan kesenangan akan selalu ada selama kita masih diberi anugerah untuk tetap menjalani hidup. Kesedihan dan kesenangan pun datangnya hampir selalu beriringan. Detik ini kita merasa senang, satu detik kemudian kita merasa sangat sedih. Drastis sekali. Seperti yang kualami hari ini.
Seusai evaluasi sebuah kepanitiaan aku berniat untuk “mbolang” ke Malioboro menggunakan Trans Jogja. Sebenarnya ada beberapa barang yang ingin kubeli juga. 
Singkat cerita setelah selesai membeli salah satu barang, aku ingin melanjutkan perjalanan ke Shopping Center. Membeli buku kuliah. Aku menyusuri jalan setapak. Melewati kerumunan orang di sekitar Pasar Bringharjo. Hilir mudik orang-orang silih berganti tanpa henti.
DUK! Tiba-tiba terdengar suara dari belakangku. Firasatku mulai tidak enak. Aku ingin segera mengecek tas namun kuurungkan. Pun tidak enak dengan orang di belakangku karena merasa kucurigai sebagai pencuri. Beberapa detik kemudian aku berhenti di sebuah toko perhiasan untuk mengecek isi tas. Benar saja, bagian depan tasku sudah terbuka, pun dompetnya sudah tidak ada. Aku kaget namun tetap tenang. Hatiku membatin,“Oh, dompetnya ilang. Yaudah sih”. Namun, ketenanganku tidak berlangsung lama. Detik berikutnya aku kelabakan. Bertanya ke beberapa penjual tentang dompetku. Percuma, mereka tidak ada yang melihat, apalagi tahu. Berlari mencari pos keamanan. Namun hasilnya nihil. Penjaga keamanan tidak ada di tempatku. Segera kukabari ibuku tentang hilangnya dompetku. Ibu langsung meneleponku. Aku menangis sesenggukan menjelaskan kejadian hilangnya dompetku. Telepon beralih ke bapak yang menyarankan untuk segera ke kantor polisi, mengurus surat kehilangan. Kutanya ke beberapa orang, termasuk kepada dua polisi yang akan berjaga untuk acara karnaval. Aku berjalan sesuai petunjuk yang diberikan. Berjalan seratus meter dari gang depan Benteng Vredeburg. Langkahku berhenti tepat di Polresta Malioboro yang berada di sisi kiri jalan. 
“Misi pak, kalau mau buat surat kehilangan di mana ya?”
“Oh, di sini dek. Silahkan masuk”. Salah seorang polisi mengajakku ke sebuah ruang pembuatan surat kehilangan. Aku ditanyai banyak hal, terutama mengenai identitasku. Untung saja aku hapal nomor KTP ku. Namun itu tidak memperkuat surat kehilangan karena identitasku “yang tidak jelas”. Sang polisi lalu memintaku untuk kembali ke kantor dengan membawa fotokopi surat kehilangan plus buku tabungan setelah surat kehilangan selesai dibuat. Sekitar jam 3 kurang surat kehilangan itu telah selesai dibuat. Namun sayang, jalan Malioboro telah ditutup dan tentu saja membuat Trans Jogja tidak beroperasi. Aku pun melanjutkan perjalanan menuju Shopping Center. Mencari tempat untuk salat dan menumpang men-charge ponsel. Beruntung satpam masjid di sekitar Shopping Center berbaik hati memberi tumpangan untuk men-charge ponsel. Ponselku tidak henti berdering. Terlebih setelah ku-post mengenai hilangnya dompetku. Banyak notifikasi masuk. Bebeberapa teman menanyakan berbagai hal mengenai kronologi hilangnya dompetku. Bahkan menawarkanku bantuan. Aku menjadi tidak enak hati. Orangtuaku pun beberapa kali menelepon, bertanya apakah aku sudah pulang ke kos atau belum. Jawabanku selalu belum. Karnaval atau kirab peringatan 1 Muharram membuatku terjebak di sana. Membuatku tidak bisa pulang karena Trans Jogja tidak beroperasi. Aku meminta jemput beberapa temanku tapi tidak ada yang bisa. Aku terpaksa menunggu di sana, menunggu sampai acara kirab itu usai. Hatiku tidak seramai ponselku yang terus berdering. Aku merasa sedih. Bukan hanya karena dompetku yang hilang tapi karena seakan aku menghadapi semua itu sendiri. Tidak ada yang secara fisik hadir untuk menghiburku. Aku terus menunggu sampai akhirnya suara adzan kembali berkumandang. Kali ini adzan Maghrib. Aku bergegas menunaikan panggilan itu. 
Seusai salat aku berjalan menuju halte yang berada di seberang jalan depan Taman Pintar. Hanya sedikit penumpang yang menunggu di halte. Namun untungnya aku tidak sendirian. Di dalam bus aku tidak kuasa menahan tangisku. Tangisku kembali menderas. Aku tidak peduli penumpang lain mencapku cengeng atau anak kecil. Toh mereka pun hanya peduli dengan dirinya masing-masing. 
Beberapa puluh menit sesampainya di kos, aku dengan seorang teman kembali mendatangi kantor polisi itu. Menyerahkan fotokopi buku tabungan dan empat lembar fotokopi surat kehilangan untuk dilegalisasi.

Hidup di perantauan memang berat, Bung! Terlebih saat kamu sedang kesusahan dan hanya dirimu sendiri yang bisa membantumu. Dan saat-saat seperti membuatmu ingin pulang dan tidak kerasan di perantauan. Kalau sedang seperti itu ingat lagi tujuanmu di perantauan. Hilangnya dompetku itu memberi banyak pelajaran bagiku untuk lebih hati-hati, harus waspada, lebih banyak sabar, bersyukur, ikhlas. Dan sepertinya harus lebih banyak bersedekah. Setelah menjadi mahasiswa aku menjadi sadar kalau banyak yang individualis. Aku pun begitu. Namun bukan berarti tidak saling peduli atau tidak pernah untuk mencoba peduli. Mungkin semua orang harus peka dan memahami orang lain. Terimakasih sekali untuk semua orang yang membantuku 
Dan teruntuk seseorang yang mengambil dompetku, semoga isi dalam dompet bermanfaat. Segeralah bertobat, Bung!!

Yogyakarta, 14 Oktober 2015

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments: