Si Tuan Kesepian

Si Tuan Kesepian,
Begitulah kunamai dia
Sesosok lelaki yang berperawakan sama dengan si lelaki berbaju batik
Sesosok lelaki yang tidak hanya ada dalam judul lagu milik Tulus, Tuan Nona Kesepian

Halo, Rias!
Sapamu malam itu di dunia maya
Sekitar dua bulan yang lalu
Aku tersentak
Heran
Menatap lama layar monitor, meyakinkan diri apakah memang dia
Sesosok lelaki yang tidak pernah berbincang denganku di dunia nyata
Bahkan untuk sekadar menyapa

Halo juga!
Balasku, cukup lama

Misterius
Katanya aku misterius
Sebab aku tidak pernah berbicara sepatah kata pun, dan selalu bergegas pergi seusai latihan
Aku tidak menampik, malah mengiyakan
Aku hanya heran ternyata ada seseorang yang memperhatikanku seperti itu
Hahaha, si tuan kesepian membuatku tersipu malu

Lalu, kami pun bergantian membalas
Hingga percakapan malam itu pun mengalir begitu saja
Membicarakan apa saja
Tanpa merasa canggung

Si Tuan Kesepian,
Sebenarnya tidak benar-benar kesepian
Hanya terkadang dia teringat masa lalunya
Masa lalu yang membuatnya merasa bersalah
Pengkhianatan yang berujung pada sakit hati yang cukup mendalam

Si Tuan Kesepian,
Sesosok lelaki yang pintar mengambil topik pembicaraan
Membuatku (terpaksa) menampakkan disposisi sekunderku
Cerewet
Sampai-sampai dia mempertanyakan sebenernya kamu cerewet apa pendiem sih Rias?
Hahaha, aku hanya bisa tertawa di depan layar monitor

Si Tuan Kesepian,
Sesosok lelaki yang menurutku sepemikiran denganku
Membuatku merasa nyaman berbincang dengannya di dunia maya
Seperti menemukan sosok teman bicara yang mau mendengarkanku
Membalas curhatan panjangku bukan hanya sepatah-dua patah kalimat
Membuatku terus ingin berbincang dengannya

Sudah larut. Guden nacht, auf widersehen.
Katanya mengakhiri percakapan kami malam itu
Percakapan yang seperti tidak ada habisnya jika tidak ada yang mengakhiri
Selalu, selalu dia yang mengakhiri
Tak kusangka, ucapan itu tidak hanya percakapan kami di malam itu
Karena dua bulan semenjak aku tidak membalas ucapan ‘Guden nacht, auf widersehen’-nya
Tidak pernah ada lagi percakapan di antara kami di dunia maya—lebih-lebih di dunia nyata

Mohon maaf lahir dan batin, ya.
Kataku di tanggal 30 Juli 2014 kepadanya
Dengan segenap keberanian akhirnya aku menge-chat-nya terlebih dulu
Jantungku berdebar
Menunggu balasannya yang tidak kunjung datang
Barulah sembilan jam kemudian ada balasan darinya
Senyum merekah dari bibirku
Percakapan yang sempat terhenti selama dua bulan akhirnya berulang lagi
Aku senang

Si Tuan Kesepian,
Sesosok lelaki yang sungguh dapat membuatku tersipu malu dengan kata-katanya
Padahal dia hanya bilang
Terima kasih telah membuatku senang hari ini… aku senang bisa ngobrol sama kamu
Ah, mungkin memang aku saja yang gampang jatuh hati pada kata-kata

Sepertinya saya akan berhenti mengganggu untuk sementara waktu
Kata si tuan kesepian siang itu
Kembali mengakhiri percakapan kita yang hanya berlangsung tiga hari
Memunculkan seribu tanya di benakku. Maksudnya apa?

Si Tuan Kesepian, yang sebenarnya tidak kesepian
Telah membuat si nona kesepian kembali merasa kesepian karena tingkahnya
Si Nona Kesepian yang mudah jatuh cinta,
hanya bisa menatap layar monitor dengan tatapan nanar

Share this:

0 comments:

Post a Comment