Tuan-Nona Kesepian

Di suatu taman kota, seorang gadis berkemeja biru, ber-rok biru tua, dan berkerudung biru tua tengah duduk di kursi taman. Serius sekali membaca novel romance. Sekali-dua kali wajahnya merengut, iri dengan kisah cinta dalam novel itu. Seumur-umur dia belum pernah jatuh cinta. 
Di tempat yang sama, empat meter dari tempat duduknya, seorang lelaki berkemeja hitam dan bercelana panjang hitam pun tengah duduk di kursi taman. Pun tengah serius membaca, membaca Alquran. Melantunkan ayat demi ayat dengan begitu indahnya. Membuat sang gadis melirik ke arah sang lelaki berkemeja hitam itu. Membuat hati sang gadis berdesir, mengabaikan sejenak kisah percintaan dalam novel yang tengah dibacanya. Perlahan, muncul rasa kagum terhadap sang lelaki itu. Subhanallah, betapa indahnya lantunan ayat demi ayat yang dia bacakan, batinnya. Sang gadis mulai berangan memiliki teman hidup seperti sang lelaki itu. Sang lelaki pun dua kali menatap sekilas sang gadis ketika sang gadis kembali berkutat dengan novelnya. 
Di taman itu, mereka saling menunggu. Tentu saja menunggu seseorang yang berbeda. Sang gadis yang kesepian, hanya berteman dengan kesendirian, berharap seseorang akan datang saat dia menunggu. Sementara sang lelaki yang juga kesepian, tengah menunggu tambatan hatinya. Berharap sang calon teman hidupnya datang menghampirinya. 
Di menit berikutnya mata mereka saling bertemu, saling menatap. Namun, tidak ada kata yang terucap. Tidak ada sapa, apalagi perkenalan. Hanya diam. Sang lelaki buru-buru mengalihkan pandangan. Namun, sang gadis tetap menatap sang lelaki. Kembali berangan memiliki sang lelaki sebagai teman hidupnya. Sang lelaki tertunduk malu. Merasa tidak pantas dikagumi sang gadis berkerudung biru itu. 
Ponsel sang lelaki bergetar. Ada telepon masuk. Sekejap kemudian sang lelaki bergegas pergi, meninggalkan sang gadis yang menatap dengan penuh tanda tanya. Ada apa? Kenapa dia buru-buru pergi? 
Keesokan harinya, di waktu yang sama, sang gadis kembali ke taman kota itu. Berharap kembali bertemu dengan sang lelaki. Hingga berjam-jam dia menunggu, tidak ada tanda-tanda sang lelaki akan datang. Dengan penuh kekecewaan dia pulang. Hari-hari berikutnya pun seperti itu, kembali ke taman kota, tetapi tidak pernah kembali bertemu sang lelaki. Lantas kembali pulang dengan perasaan kecewa. Namun, dia tetap menunggu di taman kota itu ketika pagi telah datang. 
*********************************************************************************

Terinspirasi dari lagu Tuan-Nona Kesepian milik Tulus

Share this:

0 comments:

Post a Comment