Lelaki Berbaju Batik

Sering kali aku merasakan jatuh cinta kepada berbagai lelaki, tetapi aku merasa ada yang berbeda di dirimu. Sesosok yang religius, misterius, pintar, dan selalu mengenakan baju batik yang ditutupi oleh jaket kesayanganmu itu. Mungkin setahun yang lalu kamu hanyalah orang yang asing bagiku. Hanyalah sebuah nama yang tercantum di daftar mahasiswa baru. Saat itu namamu belum menarik perhatianku. Melihat namamu saja kurasa tidak pernah, apalagi mencoba menerka bagaimana wajahmu.
Saat gathering pertama angkatan pun, kamu belum menarik perhatianku. Sepintas aku hanya mendengar namamu dari kejauhan. “Nama yang pasaran.” Gumamku saat itu. Tidak begitu memerhatikan bagaimana wajahmu kala itu.
Sampai suatu ketika selepas ospek hari kedua selesai, aku dan 3 orang teman satu kelompok ospek  hendak menunaikan salat Maghrib, dari pintu masuk masjid keluarlah sosokmu, tinggi kurus, masih mengenakan seragam hitam putih itu. Tiba-tiba saja seorang temanku menegurmu, memelukmu hangat—khas pelukan seorang sahabat yang telah lama saling kenal. Saat itu aku lupa namamu, tapi aku hafal sekali wajahmu. Aku langsung mengenali kalau teman satu jurusan denganku. 
Hari-hari berikutnya, perkuliahan telah dimulai. Aku masih belum menaruh perhatian kepadamu. Aku juga jarang melihatmu di kampus. Namun, anehnya kita sering bertemu di masjid kampus. Entah sejak kapan kamu sering berseliweran—atau aku yang baru menyadaridi masjid kampus. Sering sekali, sampai-sampai setiap kali aku ke masjid kampus, selalu ada kamu. Tiba-tiba muncul decak kagum saat seringkali melihatmu di masjid kampus. Kekaguman ini semakin menjadi saat kita dipertemukan di sebuah forum penerima beasiswa. Aku begitu terpukau saat kamu menjelaskan arti namamu. Sungguh terlihat sisi religiusmu.
Sejak saat itu intensitas untuk memerhatikanmu semakin besar. Wajahmu pun semakin sering kulihat di kampus. Walaupun kamu hanya terlihat sekilas lantas tiba-tiba saja menghilang, entah pergi ke mana.
Suatu ketika di kampus kami ada sebuah pentas seni dan bazaar yang diadakan oleh angkatan kami sebagai tantangan pasca-malam keakraban. Acara pentas seni dimulai pukul 19.00. Kebetulan di acara itu aku juga terlibat dalam kepanitiaan, yaitu di sie konsumsi. Aku dan teman-teman sie konsumsi yang lain bertugas menyiapkan snack,  makanan berat, dan minuman tradisional, seperti jahe hangat. Stand sie konsumsi berdiri di sayap kiri panggung. Secara kebetulan juga kamu berdiri tepat di sebelah kiri stand sie konsumsi, hanya beberapa meter dari stand kami. Sembari menyiapkan makanan dan minuman, aku melirik ke arahmu. Betapa kagetnya aku saat melihatmu memainkan tasbih di saat semua orang asik mengikuti irama lagu, berjingkrak tak keruan. Aku pun tak tahu apakah kamu sedang berdzikir di tengah hiruk-pikuk penonton atau hanya sekadar memainkan tasbih.
Setelah acara selesai, angkatan kami terpaksa harus pulang lebih akhir karena harus bersih-bersih halaman parkir kampus. Saat aku mengecek sebuah plastik besar yang berisi makanan, ternyata makanan yang kami pesan kelebihan, masih tersisa banyak.
“Eh, kamu mau ini gak?”tanyaku kepada kamu sambil menepuk punggungmu menggunakan makanan.
“Eh? Enggak, hehe. Makasih.” Jawabnya sambil tersenyum simpul.
Untuk pertama dan terakhir kalinya aku bercakap denganmu. Walau hanya beberapa patah kata, tapi tetap terasa berkesan. Hari-hari berikutnya tetap sama, aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, menatap sesosok tinggi kurus itu dengan gaya berpakaian yang khas.
Tidak terasa semester pun berganti menjadi genap. Sistem kredit semester pun bertambah walau jumlah mata kuliah yang kuambil berkurang. Penghuni kelas pun berbeda-beda tiap mata kuliahnya. Terlintas di pikiranku, apakah aku memiliki kesempatan sekelas denganmu, berada di ruang yang sama untuk mencari ilmu, dan tentu saja bisa melihatmu dari jarak yang lebih dekat. Aku terus merapalkan doa agar bisa sekelas denganmu.
Setelah mengalami pemunduran jadwal awal kuliah semester genap karena hujan abu yang melanda daerah perantauanku, hari itu pun tiba. Kuliah perdana di semester genap pun dimulai. Dengan penuh semangat dan senyum yang terus tersungging di bibirku, aku siap menjalani kuliah perdana. Lebih tepatnya bersiap untuk sekelas denganmu.
Aku telah duduk manis di deretan kursi nomor tiga, menunggu-nunggu untuk melihat sosokmu muncul dari balik pintu. Setiap muncul siluet seseorang di pintu, aku berharap itu kamu. Dan aku harus menelan kekecewaan karena bukan sosokmu yang muncul dari balik pintu. Sampai akhirnya kelas telah dimulai dan kelas telah usai, sosokmu pun sungguhan tidak muncul dari balik pintu.
Seperti biasanya, aku selalu menunggu temanku di depan kelasnya untuk pulang bersama. Lama sekali aku berdiri di depan pintu kelasnya, namun belum ada tanda-tanda pintu kelas akan segera dibuka. Beberapa belas menit kemudian, pintu kelas pun mulai terbuka lebar. Aku menelan ludah, mematung sejenak melihat sosok yang keluar dari balik pintu kelas itu. Ya, itu kamu. “Ah, seandainya kamu tahu betapa rindunya aku tidak melihatmu selama libur semester kemarin”,batinku.
Suatu hari di hari Senin, setelah kuliah pagi selesai, sambil menunggu kuliah berikutnya, aku dan kedua temanku pergi ke masjid kampus. Aku sedikit menduga-duga akan melihat sosokmu di masjid kampus, apalagi di sela-sela menunggu kuliah selanjutnya seperti ini. Aku tahu akan jauh lebih mudah menemukan sosokmu. Benar saja, baru memasuki halaman masjid kampus, terlihat jelas motor matic berplat nomor yang cukup mudah untuk diingat terparkir sangat anggun di bawah pohon yang rindang itu. Aku berseru kaget sambil menunjuk motor maticmu.
Setelah berjam-jam berada di masjid kampus dan kebetulan kuliah selanjutnya akan dimulai, kami pun bergegas meninggalkan masjid kampus. Anak tangga demi anak tangga kami turuni. Begitu kami sampai di lantai 1 masjid kampus, ternyata aku melihat sosokmu yang hanya beberapa meter dari tembok pembatas menuju anak tangga itu. Jantungku berdegup lebih kencang. Dan semakin kencang ketika tiba-tiba saja kamu menoleh ke arahku, membuat mata kita bertemu, beradu. Seketika saja aku terpaku. Ingin sekali kulempar senyum kepadamu, tapi kuragu. Aku takut kamu tidak membalas senyumku. Akhirnya aku bisa melihatmu selama beberapa detik, lalu menunduk, lantas bergegas pergi sebelum kamu menyadari aku sedang menyembunyikan salah tingkahku ini.
Dan, hari Senin kemarin, saat aku sedang berjalan menuju pintu keluar masjid kampus dan berniat untuk kembali ke kantin fakultasku, tepat di depan pintu maskam, aku melihat dia dan dua temannya sedang berjalan memasukki maskam. Duh, gimana nih? Ada dia lagi, aku harus gimana? batinku. Betapa kagetnya aku, saat jarak kita semakin dekat dan membuat mata kita saling bertemu, tiba-tiba saja kamu tersenyum ke arahku sambil menunjukkan gigi, lantas menganggukkan kepala. Aku pun membalas dengan tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. 
Begitu keluar dari maskam, aku langsung berjingkrak kegirangan. Sampai saat ini pun, aku masih bisa membayangkan bagaimana senyummu itu. Senyum yang tulus, tidak dibuat-buat, dan bukan senyuman yang canggung. 
Apalagi saat di acaranya Tulus kemarin, saat Tulus menyanyikan lagu Jatuh Cinta, aku langsung teringat padanya. Wajahnya selalu ada pikiran~ Senyumnya selalu terbayang-bayang~
Astaghfirullah, maafkan aku Ya Allah! :"( 
Hey, lelaki berbaju batik! Bisakah kau tetap di sini, jangan pindah ke tempat lain. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Jadi. Rias. Sedang. Jatuh. Cinta. Aduh. Betapa. Romantisnyaaaaa. Btw btw btw kalo suatu saat kalian menikah, aku mau print tulisan ini ya buat kado pernikahan insyaallah :)) Huahaha.

    ReplyDelete
  2. Iya Ma. Rias sedang jatuh cinta <3 Hahaha, apanya yang romantis? :" Oke, beneran ya? Aku tunggu kado pernikahannya, haha :)

    ReplyDelete
  3. Rias yang mengagumi dari jauh. semoga saja jodoh :)

    ReplyDelete
  4. Aaaaaaa, aamiin ya rabbal alamin :)

    ReplyDelete