Lagi-lagi Lagi Jatuh Cinta

Haloo!
Udah lama banget nih gak pernah buka blog. Gak tau juga sih apa yang aku lakukan beberapa minggu ini. Dibilang sibuk enggak, dibilang selo juga enggak. Soalnya masih sempet juga sih buka tumblr dan semacamnya. Hehehe.
Lagi-lagi aku jatuh cinta. 
Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta. 
Lagi dan lagi aku jatuh cinta.
Aku lagi jatuh cinta. 
Gak tau sejak kapan rasa ini hadir dan terus hadir. Rasanya ingin melihatnya terus-menerus, setiap hari, setiap waktu, walaupun hanya dari jauh. Kenapa aku bisa menyukainya? Sederhana sekali, karena tiap kami bertemu selalu di Masjid Kampus UGM. Aneh? Mungkin. Tapi memang itu alasannya. Kita satu fakultas, satu jurusan (ya iyalah), walaupun gak sekelas, tapi kita gak pernah ketemu di kampus. Sekalinya ketemu di Maskam UGM. Entah berapa kali aku bertemu dengannya di sana, yang aku ingat hanya dua kali.
Pertemuan pertama, aku ingat sekali hari itu adalah hari Rabu. Sekitar jam 9 kurang aku pergi ke DAA untuk mengumpulkan berkas-berkas sebagai persyaratan pembuatan KTM. Begitu keluar dari ruangan, aku melihat hapeku, ternyata masih jam 9. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke Maskam UGM, melaksanakan salat Dhuha. Kebetulan hari itu aku kuliah jam 10.30. Sesampainya di pintu masuk Maskam UGM, aku melihat dia sedang berjalan keluar dari Maskam UGM. Aku ingin menyapanya, ingin menegurnya, anak Psikologi juga kan ya? Tapi kuurungkan niat itu dan terus berjalan ke arah tempat wudhu.
Pertemuan kedua, waktu itu setelah latihan karawitan di Gelanggang Mahasiswa, aku pergi ke Maskam UGM. Ke Maskam, ah! Siapa tau dapet takjil?, pikirku saat itu. *Hahaha* Berjalanlah aku menuju Maskam UGM. Kebetulan tiap Kamis sore ada acara I-Lecture Kamis Sore, dan selalu ada takjil. Acara itu berlangsung sampai adzan maghrib dikumandangkan. Setelah acara selese, mbak-mbak Jamaah Shalahuddin membagikan takjil. Yah, ternyata cuma sepotong roti kecil dan air mineral. Begitu adzan Maghrib dikumandangkan, aku pun bergegas menaiki tangga menuju lantai 2. Setelah salat Maghrib, aku pun memutuskan untuk segera pulang. Saat aku menuruni tangga, saat aku menoleh ke kiri, aku melihatnya lagi, dan dia pun melihat ke arahku. Loh, dia lagi? ngapain dia di sini? Kok belum pulang sih?,pikirku. Aku pun mempercepat langkah agar bisa melihatnya. Sesampainya di bawah, ternyata dia udah gak ada. Aku kecewa.
Dan rasa suka ini semakin bertambah saat acara PAS AKRAB berlangsung--sebuah acara semacam pensi yang diadakan oleh anak Psikologi angkatan 2013. Kebetulan di acara tersebut aku berada di seksi konsumsi. Ya, tugasnya gak jauh-jauh dari makanan dan minuman. Ceritanya di acara PAS AKRAB ini bakalan dibagikan makanan dan minuman gratis untuk semua panitia dan pengunjung. Makanannya berupa makanan angkringan dan minumannya berupa teh, dan beberapa minuman dari jambu dan jahe yang aku lupa namanya apa -____- Dan, kebetulan sekali dia berdiri sejajar dengan stand seksi konsumsi, dan hanya berjarak beberapa meter. Jadi, aku bisa melihatnya secara dekat dan lebih lama, dari acara dimulai sampai acaranya berakhir. Betapa senangnya aku saat itu. Sangat amat bersyukur sekali bisa menjadi seksi konsumsi :D. Di tengah acara, saat aku mencuri pandang kepadanya, aku melihat dia sedang memainkan jarinya di sebuah tasbih seperti orang yang sedang berdzikir. Dia lagi dzikir? Subhanallah banget, di saat yang lain sibuk jingkrak-jingkak gak karuan menikmati alunan musik, dia malah dzikir. 
Seminggu yang lalu, aku pergi ke Mirota bersama seorang temanku untuk membeli keperluan. Di tengah-tengah mencari barang, dia cerita kalo nanti sore ada peer konselor. Kebetulan temenku itu sekelompok dengan dia, jadi aku gak sengaja deh kelepasan curhat tentang dia. Ih, pengen deh sekelompok sama kamu peer konselornya. | Loh, kenapa? | Gak papa, pengen aja xD | Hahaha, aku tau! Pasti gara-gara ada itu kan? Siapa lagi coba cowoknya? | Hehehe, iya. Lalu aku cerita kenapa aku bisa suka sama dia. Saat aku cerita kalo saat PAS AKRAB dia megang tasbih terus, temenku malah ketawa. Temenku pun menceritakan awal mula dia sering memegang tasbih.
Semakin hari aku semakin merasa sering ketemu dia, entah di kantin, di koridor, atau pun di jalan. Dan semakin kuamati ternyata dia memang sering ke Maskam UGM, padahal di kampus ada mushola. Beberapa hari yang lalu, setelah ujian blok selesai, aku dan temanku mencari seorang anggota kelompok PKn kami untuk menyelesaikan tugas membuat video. Kami mencari di kankud, tapi gak ketemu, yang aku lihat malah dia. Lalu kami pun nongkrong sebentar di kankud. Bingung juga mau ngapain, masih gasik banget buat pulang ke kos. Lalu aku melihatnya keluar bersama temannya. Yah, dia pulang. Lalu temenku mengajakku beranjak dari kankud dan pergi ke tempat lain untuk mencari seorang anggota kelompok PKn kami. Yeahhh, akhirnya. Yuk, Wi, kita ke lembah, siapa tau ketemu 'seorang anggota kelompok PKn kami'. | Eh, dopaminmu itu udah keluar? | Udah, hehe. Dan kayaknya ke arah lembah. | Hmmm, pantes. Sesampainya di lembah ternyata kami gak ketemu 'seorang anggota kelompok PKn kami' itu dan dia. Mungkin dia udah pulang:( . Beberapa menit kemudian tiga orang yang tadi bersamanya berjalan menuju lembah. Kayaknya dia emang udah pulang. Kami kembali mencari 'seorang anggota kelompok PKn kami' itu, mengelilingi lembah, mengamati semua motor yang terparkir di sana, tapi tetep gak ketemu. Tiba-tiba dari arah kejauhan aku melihatnya berjalan menuju lembah. Wi, ada dia. Aku langsung salah tingkah. Udah yas, biasa aja, stay cool aja, kata temenku. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti mencari 'seorang anggota kelompok PKn kami', mengambil motornya temenku yang berada di ujung, dan pulang. Otomatis kami bakal erpapasan dengan dia dan tiga temennya itu. Semakin berdebar lah jantungku ini. Semakin dekat dengannya, jantungku semakin berdebar. Begitu kami benar-benar berpapasan dengannya, ternyata dia tersenyum kepadaku. Untuk pertama kalinya dia tersenyum kepadaku. Ya Allah, seneng banget! Rasanya jantung ini benar-benar mau copot. Aku pun berjalan sambil cengengesan. Cieeee, kata temenku. Aku masih mencuri-curi pandang, menengok ke belakang, ternyata masih ada di situ. Begitu kami keluar dari lembah, aku masih melihat ke arah lembah. Loh, dia udah gak ada? Ternyata dia udah di belakang kami. Keesokan harinya,saat aku dan temenku berangkat kuliah, ternyata dia juga baru dateng bersama temennya. Kami berjalan di persis di belakangnya, melambat. Saat kami menaiki tangga, kami berpapasan dengannya. Lagi-lagi dia tersenyum kepadaku. Gak se-excited kemaren tapi tetep aja seneng.
Sayangnya, hari ini aku belum bertemu dengannya :(
Umm, dari cerita temenku, ternyata aku dan dia memiliki persamaan. Sama-sama gak berada di jurusan yang kami inginkan, dan Psikologi adalah pilihan kedua. Ya, sebenernya dia pengen Teknik, tapi entah kenapa pada akhirnya dia memilih Psikologi. Dan, tahun depan dia berniat ingin mencoba mengikuti SBMPTN agar bisa berkuliah di Fakultas Teknik.
Yah, jangan pindah ke Teknik, dong! Makin jarang kita ketemu :(
Ya Allah, semoga rasa cintaku padanya, tidak melebihi rasa cintaku padaMU. Biarkan cinta ini tetap tumbuh sebagaimana mestinya. Jangan sampai dia memenuhi otakku, dan mendekatiku pada zina pikiran dan hati. Satukanlah kami kalau memang kami berjodoh. ^^

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Hahaha si Rias bisa aja :p butuh curhat ke psikolog ngga nih? hahaha

    ReplyDelete
  2. hahaha, boleh, boleh. Asma mau jadi psikologku? :3

    ReplyDelete