Dia itu AKU

Pada hari itu, seorang anak perempuan pertama mereka lahir. Sebuah keluarga kecil yang hidupnya pas-pasan karena si suami hanya bekerja sebagai guru honorer di sebuah SD Negeri di suatu wilayah. Ia harus bekerja dari pagi hingga malam hari demi menafkahi kebutuhan hidup keluarganya, mengayuh sepeda dari satu tempat ke tempat lain. Peluh membasahi tubuhnya. Dengan tak mengenal lelah, ia melakukannya setiap hari. Ia juga tak henti-hentinya mengikuti tes CPNS. Walaupun keberuntungan belum berpihak kepadanya. Tahun demi tahun berganti, seiring dengan bertumbuhnya anak perempuannya-dan anak lelakinya yang hanya berselisih 3 tahun, keberuntungan mulai berpihak kepada keluarga mereka. Suatu pagi yang cerah, ia mendapati namanya muncul di salah satu halaman sebuah koran. Ya, ia lolos ujian CPNS. Senang bukan kepayang rasanya. Hidupnya pun berubah, menjadi lebih baik tentunya. Sepeda yang dulu ia kayuh, sekarang berganti menjadi sepeda motor. 
Anak perempuannya yang dulu masih kecil, sekarang telah beranjak dewasa. Saat ini, dia adalah seorang pelajar kelas 12 di sebuah SMA yang terfavorit di wilayahnya. Perjuangan yang sangat keras hingga dia dapat menjadi siswa di SMA itu. Namun perjuangan itu belum usai, karena di sekolah ini dia harus belajar ekstra keras untuk menjadi yang terbaik. Walau pada tahun pertamanya dia hanya menduduki peringkat 17 besar di kelasnya. Di tahun keduanya, dia berada di jurusan IPS, sebuah jurusan (yang pada awalnya) tidak ia minati. Rasa kecewa selalu menghampirinya di awal-awal semester 3, tetapi dia tetap berusaha keras, dan membuktikan kepada yang lain bahwa walaupun dia tidak minat terhadap jurusan ini, tapi dia tetap bisa menjadi yang baik di sini. Alhasil, di tahun keduanya ini, dia masuk peringkat 10 besar terbaik di kelas. Di tahun ketiga atau terakhir ini, dia berusaha keras agar nilai raportnya tidak mengalami penurunan sehingga dapat mengikuti jalur undangan. Selain masalah akademik, terkadang dia juga iri terhadap teman-temannya. Mereka berasal dari keluarga yang sangat mampu yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan mudahnya mereka dapat memiliki apa yang mereka inginkan. Mulai dari baju, sepatu, jam, tas, gadget, hingga makanan pun, serba mewah. Terkadang dia ingin memiliki semua itu, ingin memiliki orang tua yang seperti itu. Tapi itu tidak mungkin. Seringkali dia juga mengutuki dirinya sendiri kenapa dia bersekolah di lingkungan yang sangat kontras dengannya. Yang dia bisa lakukan hanyalah mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Dan dia itu adalah AKU. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. Itulah indahnya hidup. Tahu apa yg Tuhan anugerahkan lebih kepadamu? Rasa Syukur. ~Anonymous :P

    ReplyDelete